
Rasa memang sebuah bentuk yang bisa di ungkap .Yah itu yang ku rasakan akhir-akhir ini.Ada sebuah rasa yang mampir dalam kehidupanku.Tentunya sebuah rasa cinta yang membuncah .Eithhhhh...... Tapi sebentar......Benarkah itu rasa cinta atau hanya empati?Entah lah tapi yang kurasakan saat ini aku ingin sekali menghiburnya,aku ingin sekali membuatnya tersenyum,sedikit melupakan kesakitan hatinya yang kini telah menderanya.Aku paling nggak bisa membiarkan dia menangis seorang diri.Sementara orang -orang terdekatnya tak ada yang mampu mengetahuinya kalau sebenarnya hatinya sedang retak, luluh lantak ,akibat badai kerinduan yang amat sangat kepada kedua orang tuanya.Aku bisa merasakan semua itu.Ketika bulir -bulir kerinduan itu mengalir deras dalam hatinya .Sekali lagi aku tak bisa menjawab apakah itu cinta atau hanya empati yang lahir dari dalam hatiku.
"assalamualikum,gimana keadaanmu? apa kini kau telah baik-baik saja?".SMS ku kirim kepadanya di sela-sela istirahatku .Aku khawatir dia masih rapuh dan belum bisa menata hatinya."Walaikum salam...Alhamdulillah saya sudah baik Bang....."SMS berbalas juga."Syukurlah kalau begitu".Jawabku...
lega perasaanku membaca dan mengetahui kabarnya.Aku harap dia tak berbohong padaku,dan memang kondisinya kali ini baik-baik saja.
Bila ku kenang pertemuan itu.Bertemu dalam acara book fair secara tak sengaja.Perkenalan yang tak sengaja pula.Ketika aku di sana berniat bertemu seorang sahabat.Karena acara book fair itu di penuhi sesak pengunjung.Aku agak kesulitan menemukan sahabatku itu.Meski SMS terus bersahut,tapi aku tak jua dengan segera bertemu dengan sahabtku itu.Hingga aku putuskan untuk bertanya."Maaf mbak ,boleh bertanya?"Pintaku pada seseorang yang kebetulan ada di depanku.Hemm...dengan agak judes dia menjawab pertanyaanku.Tapi aku juga menangkap ada gurat kesediaan di sana.Ku beranikan diri untuk berkenalan dengannya.Dengan muka yang super kecut dia memperkenalkan diri.Wah .....aku takkan patah arang hanya dengan raut muka seperti itu.Aku berusaha semanis dan seramah mungkin bercakap dengannya.Ku yakinkan bahwa tak ada maksud apa2,hanya sekedar ingin mengenalnya.walau sebenarnya aku sangat ingin tahu ada apa di balik mukanya ,yang sangat mahal hanya untuk sebuah senyum.Karena aku memang menangkap ada sesuatu pancaran muram di sana.Bukan pula aku ingin ikut campur urusan dia,tapi aku hanya berusaha mengulurkan tangan siapa tahu ,aku bisa membantunya.dan tentunya aku bisa menguak,ada apa sebenarnya....
Yah.....aku berhasil.Dari perkenalan itu aku mendapatkan pasword,kata kunci yang bisa membuatku mengenalnya lebih jauh lagi.Sebuah nomor ponsel telah aku dapatkan darinya.Yah...itu sudah cukup untuk perkenalan kali ini.Kini aku bergegas untuk bertemu dengan sahabatku ,yang ternyata posisinya tak terlalu jauh darti tempatku berada.Ehm,,,, lautan buku membuat kami berenang sesuka hati untuk memilih buku.Ada beberapa buku yang aku beli.Dan segera pulang ,meninggalkan lautan buku yang berjajar bak makanan yang menggoda selera.Kalau tak segera aku tinggalkan...pastinya aku akan mengeluarkan banyak uang dari uang yang telah aku anggarkan untuk beli buku.Kalu keinginan itu aku turuti,sebelum gajian berikutnya tiba dah habis uang di kantong ini.Itu berarti aku tak bisa makan.Hidup sebagai urban memang segala harus berbayar.kalau tak pandai mengelola unag bisa-bisa pailit jadinya.
Bermodal nomor hape itu aku beranikan diri untuk mengirim pesan padanya.Ku coba mengajaknya bercerita, dan gayungpun bersambut.Dia begitu terbuka menceritakan kepahitan ,kepediahan yang dia pendam selama ini.Sejak masih sekolah dasar dia sudah di tinggalkan kedua orang tuanya,merantau ke negeri seberang.Menjadi tenaga kerja.Dia sungguh tak menyadari itu,bahwa perpisahan itu menjadi awal dari semua kepediahannya selama ini.bahwa perpisahan itu menjadi perjumpaan terakhir denga kedua orang tuanya,dan tak tahu kapan akan bersua kembali denga kedua orang tuanya.Sebulan dua bulan dia tak menyadari itu,tapi setelah tahun berganti tahun dia mulai menyadari bahwa dia akan berpisah dengan orang tuanya dalam waktu yang sangat lama,atau mungkin tak pernah kembali.Dia berusaha tegar menerima kenyataan itu,Sebagai anak sulung dia merasa punya tanggung jawab besar untuk adik2nya.Dia kubur dalam dalam kepedihan dan kerinduan itu.Dan berusaha menjalani hari-harinya seperti orang lain,sekolah dan belajar.Ehmmmm....Mungkin itu memang garis takdir.Dengan segala upaya dia lawan kepediahan itu,dia lawan kerinduan itu,Dia berusaha untuk tetap berjalan meski terseok.Semangat belajarnya yang membuat dia kuat dan bertahan.Kehidupan yang kurang menyenangkan membuat hatinya bagai karang,yang berusaha bertahan saat ombak mendera,..
Kesedihan,kerinduan berada pada puncaknya,di saat pembagian rapor ,tema-teman sekelasnya di dampingi ayah dan bundanya,sementara dirinya,Tak ada satupun orang yang mau menjenguknya ,sekedar untuk mengambilkan rapor.Hatinya sangat luka,teriris iris,tersayat.Dia hanya bisa menumpahkan semuanya dengan air mata.Yah karena hanya itu yang bisa dia lakukan.Tapi semua itu membuatnya semakin kuat dan lebih kuat.semua itu memunculkan sebuah tekad untuk terus sekolah.Ada sebauh harapan bahwa dia ingin jadi pemenang.Kepedihan itu membuatnya terpecut untuk terus berjuang menjadi yang terbaik.Sampai garis takdir membawanya untuk bertemu orang tua angkat.Hati ku tak kuasa menahan haru mendengar kisahnya.Amat sangat kepedihanya menghujam dalam hatiku.Terasa begitu menyayat,tapi dari semua itu timbul juga rasa bangga, salut, karena dia mampu bertahan dalam episode yang begitu tak bersahabat dengannya.Mendengar kisah itu,aku semakin ingin mengetahui.,semakin ingin ikut merasakan beban yang dia rasa saat ini, dengan berbagi kepahitan ini aku berharap dia bisa sedikit melepas penat itu.
Tapi ssekuat-kuat nya karang dia pasti akan terkikis jua ketika deburan ombak terus menerjangnya.Ada saat dia tak bisa menguasai hidupnya,mersa menjkadi oarng yang tak di pedulikan.Menjadi orang terbuang.....Itu yang dia ungkapkan dalam pesan-pesanya yang dia kirim padaku.
Sejak saat itu aku rutin berkirim pesan menanyakan kabar,dan ku buka seluas-luasnya diriku,bila dia ingin berbagi kepedihan padaku.Bersamaan dengan itu timbul rasa untuk terus memperhatikannya,mempedulikannya,mengasihinya.dan rasa tulus....
hmm,,......Kini rasa itu bergejolak dalam hatiku,ingin ku ungkapkan.Dalam kebingunganku mengetahui rasa ini,sebuah tanya yang belum jua aku jawab.Empati atau Cinta?aku memberanikan diriuntuk mengungkap rasa itu.Aku adalah tipe orang yang tak bisa menyembunyikan perasaan.Ku ungkapkan rasa itu padanya dan mengulurkan tanganku, untuk mengajaknya dalam ikatan mahligai.Aku berharap dengan cara itu aku akan bisa lebih memberikan perhatikan,aku bisa lebih mendengar keluh kesahnya.Aku bisa lebih bisa membantunya.Ehm,,,, tapi ternyata niatku itu tak berbuah manis.Dia menolak karena ingin fokus belajar dan memberikan kado terindah untuk orang tua angkatnya.Dia menganggap apa yang aku niatkan bukan solusi terbaik untuk saat ini.Aku mencoba memahami dan mencoba mengerti akan semua inginnya.Dan tentunya sangat berharap keputusan itu menjadi keputusan yang terbaik untuknya.Yahhh......aku menghargai itu semua,,,Kini aku berharap dia kan bahagia dengan keputusannya itu.Dan aku akan tetap menjadi seseorang yang membuka selebar mungkin untuk menerima keluh kesahnya.Karena itu yang bisa aku lakukan.Kini ku biarkan dia terbang tanpa ikatan apapun.Ku biarkan dia terbang meraih asa dan mimpimya.Aku kan tetap tersenyum bahagia melihat bahagia.Aku kan kembali mencari jawab atas rasa ini.Empati Atau Cinta?
- makasih untuk seseorang yang memberiku inspirasi ada sebuah puisi untukmu.
Aku kan hadir dalam pedihmu..
menjadi orang yang kan mendengar keluh kesahmu
,aku kan membuka tangan ini....
meski kau tak membutuhkannya.....
Memang aku tak bisa membedakan rasa itu....
tapi semua itu hadir dengan tulus.....
tetaplah semangat menuju hari cerahmu.....
Azzura......Kau bidadari itu....
.jpg)



A