Terpekur di temani dinding-dinding bisu.Entah aku senang,bahagia dinding itu tetap saja mematung.Ehm....kadang aku ini merasa bodoh,mengharapkan benda-benda mati seperti tembok untuk berempati akan kesedihan yang kurasakan saat ini.Atau mungkin sebuah rasa frustasi yang mengendap .Ah entahlah kenapa aku harus memikirkan itu.Baiklah aku akan bercerita tentang hal yang lain.Tentang perjalanan liku diriku yang tak bisa aku terjemahkan sampai saat ini.Sesuatu yang tak habis aku pikir,aku bisa terjebak sejauh ini dalam labirin kehidupan.Energiku habis ,terkuras tanpa sisa hingga raga ku rapuh ,jiwa ku kerontang.
ketika diri berazam untuk berkarya,sebagai wujud aktualisasi diri,kerana diri ini punya potensi yang harus di asah dan di uji
Sabtu, 20 November 2010
Rabu, 17 November 2010
Sebuah Nilai
Tampak raut kelelahan yang menyelimutinya.Mentari waktu itu telah begitu panas .Dan merenggut peluh-peluh keringatnya,hingga tubuhnya dehidrasi.tapi kakinya terus mengajaknya melangkah dan suaranya terus lantang berkata "Batiiiik,baju batiik.....".Yah sebut saja dia ibu Siyem Perempuan paruh baya yang mulai senja umurnya.Merantau ke bandung 40 tahun yang lalu .Dan kin pun tetap setia berkeliling Bandung untuk menjajakan kain batik.Meski pun hasilnya tak seberapa di bandingkan berapa tenaga yang dia keluarkan,tapi prinsip hidup membuatnya tetap tersenyum dan bahagia melakukan itu semua.Semangat yang seharusnya kita tiru sebagai seorang pemuda yang masih berlimpah tenaga.Siang itu panas benar-benar merenggut semua peluh-peluhnya.Hingga membuatnya untuk memutuskan merehatkan tubuh.Di edarkan pandanganya untuk mencari tempat berteduh.Di lihatnya sebuah bangunan yang lumayan seumuran denga usianya.Sebuah masjid berdiri anggun dan santun di sebelah kanan jalan.Mbah Siyem menghampiri Masjid itu.Sambil menunggu Adzan Zhuhur dia akan rehatkan tubuhnya di sana.Sejenak Adzan pun berkumandang .Membahana.Mbah Siyem bergegas mengeluarkan mukenak yang di simpan di tas ransel yan dia selipkan si sela-sela kain batik.Segera Dia menempatkan diri di barisan jamah wanita.Ketika aku datang ku lihat sosok setengah baya itu telah merapikan mukenanya.Dan setelah aku selesai dan kan bergegas ku lihat dia sedang menyantap menu makan siangnya.Dengan senyum ramah dia menawariku."Makan ......"."Makasih Bu...ini juga mau ke marung beli nasi." jawabku."Apa tak sebaiknya membawa bekal makanan dari pada beli?".Tanya Ibu itu membuatku termenung."Ehm.... Ribet Bu,,"Jawabku.
"Dengan membawa bekal makanan ,kamu bisa menghemat pengeluaranmu dan bisa menggunakan uang itu untuk hal-hal manfaat lain yang jauh lebih manfaat untuk urusan perutmu."Aku sedikit termenung.Ku lihat Ibu itu sudah memberesi makananya.Kembali mengendong tas besar berisi barang dagangannya dan ada beberapa kain batik yang dia sampirkan di tangan kanannya.Sebelum meninggalkan Masjid itu Ibu Siyem merogoh saku di bajunya dan memasukkan selembar uang berwarna biru ke kotak amal."Saya berangkat dulu"Ibu Siyem berpamitan.Belum juga bisa aku cerna kata-katanya barusan,aku sudah di kejutkan dengan apa yang baru saja di lakukan ibu Siyem."Sebuah nilai luhur yang luar biasa,sikap bijak.Aku baru tersadar Ibu Siyem baru saja mengajarkan ilmu yang sangat luar biasa.Bu siyem pun telah tak tampak.Tapi ilmunya masih membekas dalam jiwaku.
Langganan:
Postingan (Atom)
