
“ARTI SEBUAH CINTA”
By: Atik Rahmawati
Rahma adalah nama panggilanku, aku adalah mahasiswa keperawatan di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Hari ini tanggal 28 Mei 2009 tepat jam 07.00 WIB aku tersadar dari lamunanku, hari ini adalah hari terakhir ujian praktekku. Hemmm, aku telah melewati hari-hari yang berat, smoga hari ini aku diberi kelancaran desusku. Jam 07.30 WIB dosen penguji telah datang, ujianpun segera dimulai. Aku mendapatkan giliran pertama kali. Sekitar 30 menit aku berada di dalam lab bergelimut dengan phantom boneka yang mirip dengan manusia dan dosen, rasanya lega banget ujianku telah selesai. Apapun hasilnya yang penting aku telah menyelesaikan tugasku pikirku.
Ba’da sholat magrib, aku sedang asyik dengan tugas-tugasku yang masih terbengkalai. Suara dering telepon berbunyi... Ku lihat temanku Gita memanggil. Tumben sekali Gita menelponku batinku, ternyata dia memeberitahuku kalau saudaranya ada yang ingin berkenalan denganku. Saudaranya bernama Dani, sudah bekerja dan berusia 25 tahun. Wahh... Hari ini aku mimpi apa za gumamku, dengan nada biasa akupun mengiyakan untuk mengasih no hpku pada saudaranya. Tidak lama hpku berbunyi lagi, ternyata ada nomor baru memanggil. Jantungku mulai berdegup dag dig dug.... ku tata hatiku untuk menerima telepon. Ternyata benar, telepon itu dari saudaranya Gita. Kamipun mulai mengobrol dan mengenal satu sama lain. Besok adalah malam minggu, Mas Dani mengajakku untuk ketemu,dia ingin mengenalku lebih jauh lagi dan akupun mengiyakan.
Jam 19.00 tetttt, aku telah siap dengan kaos merah favoritkudengan memakai celana jeans dan krudung merah. Tidak berapa lama Mas Dani datang dengan mobilnya. Mas Dani mengajakku di rumah makan lesehan yang lumayan terkenal di daerah Malang. Sambil menyantap hidangan yang disuguhkan, kamipun mulai bercerita tentang diri kami masing2. Mas Dani bilang padaku bahwa dia ingin mencari seseorang yang dapat menjadi calon pendamping hidupnya. Sejenak kalimat itu terasa asing bagiku, selama ini aku tak pernah membahas hal2 seperti itu meskipun dengan teman2ku di kampus atau di kost. Mas Dani adalah orang pertama kali yang membicarakan hal itu padaku. Aku hanya terdiam dan berpikir, aku adalah gadis yang masih berusia 21 tahun,aku masih kuliah, apakah aku sudah pantas untuk memikirkan hal itu????????? Kalimat ini yang selalu membayangi fikiranku sejak bertemu dengan Mas Dani. Hari2ku mulai terasa begitu berbeda, aku mulai memikirkan semua perbincanganku dengan Mas Dani kemaren malam. Aku merasa dia begitu sempurna buatku sampai2 semua kriteriaku ada pada dirinya, mulai dari wajah yang tampan, penampilan yang rapi,sopan, menyenangkan saat diajak bicara dan yang terpenting lagi dia udah bekerja. Memang tak dipungkiri bahwa dengan semua itu aku bakal dianggap gadis matre, tapi inilah hidup dan ini adalah pilihan hidupku..
Tiap hari Mas Dani selalu menelponku, kami selalu mengobrol lewat telpon. Hari berganti hari, perasaan suka mulai tumbuh di hatiku seiring dengan tumbuhnya rasa cemas yang juga membayang bayangi hari2ku. Aku masih bingung bagaimana harus menyikapi hal ini. Dia adalah orang pertama yang ingin mengajakku untuk serius padahal aku merasa aku masih kekanak –kanakan. Meskipun begitu dia tetap mau menerimaku dan akupun mulai belajar menjadi seseorang yang dewasa. Tiap hari tiada henti-hentinya aku berdoa. “Ya Allah semoga jika memang Mas Dani adalah jodohku maka mudahkanlah langkah kami, tapi jika dia memang bukan jodohku jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku daripadanya” itulah doa yang selalu kupanjatkan. Dalam hal ini aku adalah tipe orang yang lemah, aku tidak ingin tersakiti dan menyakiti karna keduanya sangatlah menyakitkan. Makanya aku ingin mendapatkan kejelasan apakah dia memang orang yang diciptakan untukku atau bukan, meskipun pemikiranku ini terlalu cepat. Aku pernah mendengar jika kita ragu dalam memilih sesuatu maka sholatlah dan mintalah kepada Allah untuk memberi petunjuk, Insyaallah akan dikabulkan.
Satu bulan berlalu, hubunganku dengan Mas Dani semakin dekat. Baru saja Mas Dani menelponku mengajak ke rumahnya karna ada acara pengajian dalam rangka ulang tahun keponakannya. Sempat aku menolaknya, tapi akhirnya aku mengiyakan. Jam 16.00 WIB nanti dia akan menjemputku dikost. Hemm... Hari ini adalah hari yang penting karna aku akan bertemu dengan semua keluarganya... Oh my God... Apakah aku bisa menghadapi hari ini?????? Yach... Ini adalah tantangan yang harus bisa ku takhlukkan, Katanya aku ingin menjadi dewasa???????? pikirku.. Inilah moment yang tepat untuk mengukur seberapa siapkah aku untuk menyongsong masa depan...
Tepat jam16.00 WIB Mas Dani sudah berada di depan kost untuk menjemputku. Dia masih memakai seragam karna baru saja pulang dari kantor. Akupun segera menghampirinya. Hari ini aku sengaja berdandan biar nampak cantik di depannya dan keluarganya.. Saat tiba di depan rumahnya, jantungku mulai berdetak kencang.... aku mulai grogi. Setelah turun dari mobil, dia menyuruhku untuk masuk dan dia mengikutiku dari belakang. Waowwww... Keluarganya sudah berkumpul, aku mulai menyalami mereka satu persatu sambil memaksa mulutku untuk selalu tersenyum. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku seperti orang aneh... Akhirnya aku ke depan dan membantu menyiapkan kue buat para undangan. Ternyata undangan yang hadir cukup banyak. Tak sengaja aku mendengar salah seorang undangan bertanya pada ibunya Mas Dani. Ibu itu bertanya:” Ini to calonnya Dani?”. Aku mencoba mendengarkan dengan baik. Tapi alangkah kagetnya aku saat mendengar jawaban dari ibunya Mas Dani. Ibunya bilang kalau aku hanya teman putrinya alias teman dari adiknya Mas Dani. Hatiku kecewa sekali mendengar hal itu. Aku seperti tidak dianggap sama sekali disana, tapi aku mencoba untuk berpikiran positif dan mungkin ibunya Mas Dani punya alasan berbicara seperti itu. Setelah semua undangan datang, aku pergi ke dapur untuk membantu pekerjaan di sana. Apa yang bisa aku kerjakan ya kukerjakan temasuk membersihkan piring dan sendok dan menata nasi buat para undangan. Selang beberapa menit Mas Dani mencariku dan mengajakku untuk makan, setelah makan kamipun sempat mengobrol sebentar sampai jam 20.30 dan akupun pamit untuk pulang. Setelah berpamitan dan bersalaman dengan keluarga Mas Dani, akupun diantar pulang sampai kost. Huh lega rasanya, ternyata aku bisa melaluinya meskipun aku sedikit kecewa dengan sikap ibunya yang sepertinya tidak nyaman dengan kedatanganku.
Pagi ini mentari bersinar dengan cerah... hari ini Mas Dani mau main ke rumah dan dia adalah orang pertama yang akan ku kenalkan pada orang tuaku karna selama ini aku tidak pernah mengenalkan siapapun pada ortuku. Seperti janjinya, dia datang jam 10.00 WIB. Ortuku ikut menyambut kedatangannya dan mengobrol sebentar di ruang tamu kemudian meninggalkan kami berdua. Mas Dani bilang kalau dia menyukai suasana rumahku yang dingin dan sejuk karna rumahku memang terletak di desa dan dikelilingi oleh pepohonan yang masih rindang. Jam dindingku menunjukkan jam 11.00, Mas Dani pamit untuk pulang karna dia harus mempersiapkan keberangkatannya besuk ke Surabaya untuk acara diklat selama 2 minggu. Hari ini aku sengaja menyuruhnya main ke rumah karna setelah ini kami tidak akan bertemu selama 2 minggu, selain itu aku juga ingin mengetahui pendapat ortuku tentang Mas Dani.
Satu minggu berlalu begitu lambat, meskipun Mas Dani begitu sibuk dengan kegiatan diklatnya, dia selalu menyempatkan untuk menelponku hingga suatu hari muncullah masalah yang muncul berawal dari perbincangan kami mengenai hari kelahiran. Ternyata keluarga Mas Dani masih kejawen, mereka masih melakukan penghitungan hari kelahiran. Kamipun penasaran dengan hari kelahiran kami masing2. Masalah itu muncul saat jumlah dari hari kelahiran kami adalah 25. Sebenarnya aku dan MasDani tidak tahu arti dari angka 25 itu, kami memutuskan untuk membahasnya setelah Mas Dani pulang dari Surabaya. Entah mengapa sejak saat itu perasaanku tidak enak. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya kepada nenekku tentang arti dari pertemuan hari lahir yang jumlahnya 25 karna mungkin saja nenekku mengerti tentang perhitungan orang2 Jawa. Ternyata perasaanku benar, sebuah pernikahan yang memiliki jumlah 25 adalah tidak baik. Kata orang2 Jawa dulu, rumah tangganya tidak akan langgeng karna selalu bertengkar dan salah satu bisa sakit-sakitan atau bahkan meninggal. Aku begitu syok mendengar hal itu karna kata Mas Dani keluarganya masih percaya tentang hal itu dan Mas Dani sendiri juga percaya.. Sejak saat itu aku mulai menghindar, dua hari tidak ada komunikasi di antara kami dan selama ini hal itu tidak pernah terjadi. Setelah kupikir2, aku tidak mau tersiksa dengan keadaan yang belum tentu terjadi, bisa saja keluarganya mengartikan lain dan tidak seburuk apa yang kupikirkan. Akhirnya akupun mulai menjalin komunikasi lagi, aku berpuara-pura seperti tidak terjadi apa2.
Dua minggu berlalu, akhirnya Mas Dani pulang dari Surabaya. Keesokan harinya aku menghubungi Mas Dani untuk mengajak ketemu dan membicarakan masalah itu, tapi entah mengapa Mas Dani selalu menghindar dengan alasan masih sibuk. Aku semakin tidak tenang, aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut, kalau memang harus berakhir aku ingin berpisah dengan baik2. Berulangkali aku menghubungi Mas Dani dan selalu saja membicarakan hal itu hingga dia bosan mendengarnya dan akupun juga bosan membahasnya. Lama tak ada kabar dari Mas Dani, aku memutuskan untuk kembali konsentrasi pada kuliahku yang tinggal menyelesaikan tugas akhir. Besuk adalah dateline pengumpulan Karya Tulis Ilmiah, sedangkan aku masih belum membuat lembar persembahan. Entah kenapa hari ini aku begitu terbawa perasaan sampai2 dalam lembar persembahan, aku menuliskan pesan untuk ortuku:”Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa membahagiakan kalian, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk membuat kalian bangga. Sampai saat itu tiba, aku ingin engkau memeluk ku seraya berkata, terima kasih Ya Allah…Engkau telah menitipkan kepada ku malaikat kecil sebagai anugerah terindahMu. Dimanapun dan kapanpun, kalian selalu ada di hatiku” tak terasa air mataku mulai menetes. Selang beberapa menit hpku bordering, ternyat telpon dari Mas Dani. Akhirnya dia sudah mengetahui jawaban dari semua itu dan semua itu sama dengan apa yang dikatakan nenekku. Dia ingin bertemu denganku untuk membahas semua itu dan aku mengiyakan. Setelah kututup telponnya, airmataku jatuh dan tak bisa terbendung lagi, ku coba untuk tegar tapi tetap saja aku tidak bisa menghentikan tangisku. Meskipun butuh waktu cukup lama, akhirnya tangisanku berhenti juga. Aku mulai berpikir dengan menggunakan akal sehatku, bukankah ini yang kuinginkan, semakin cepat masalah ini terselesaikan semakin cepat aku bisa memulai kehidupan yang baru. Ternyata semua itu hanya kata2 belaka, aku tetaplah seorang gadis yang lemah yang belum bisa tegar. Dalam hidup, kita harus dapat menentukan pilihan dan ini adalah pilihan yang terbaik, smoga aku bisa melaluinya..amin... Sejenak akupun hanya bisa berdoa dan memasrahkan semuanya pada Allah, Dia sudah menentukan yang terbaik untukku.
Hari ini hari sabtu, kuliahku libur jadi aku bisa bersantai sejenak. Aku mulai mengisi waktu luanku dengan membersihkan kamarkostku karna satu bulan lagi aku sudah boyongan ke rumah selamanya. tak terasa sudah jam 09.00 WIB, aku bergegas untuk mandi karna jam 10.00 WIB aku ada janji dengan Mas Dani untuk bertemu. Hari ini jam 10.15 WIB, akhirnya Mas Dani datang juga. Kupersilahkan dia masuk di ruang tamu. Sejenak suasana menjadi hening, kami berdua hanya terdiam. Akhirnya aku yang memulai percakapan, aku menanyakan bagaimana pendapat dari ortunya. Mas Dani menjelaskan kepadaku sesuai dengan pembicaraan antar dia dan ayahnya. “Memang hasilnya buruk jika harus dipaksakan untuk bersatu” kata Mas Dani. Dia tidak ingin suatu hari kelak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mendengar semua itu aku hanya bisa diam, mulutku seperti terkunci rapat. Aku harus gimana lagi, kalau Mas Dani saja percaya maka aku tidak bisa memaksa lagi. Aku hanya bisa mengiyakan tanpa bisa berkata-kata. Dia juga berpesan padaku agar hubungan kami tetaplah baik, tidak sebagai kekasih tapi sebagi teman. Kira-kira satu jam perbincangan berlangsung, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah secara baik2 karna memang hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi. Meskipun semua perkataannya begitu menyakitkan hatiku, entah mengapa air mataku tak ada yang jatuh setetespun, aku seperti mendapat kekuatan untuk menghadapi semua ini. Setelah semua selesai, Mas Dani pamit pulang dan kuantar sampai di depan teras. Sepeninggalan Mas dani, akupun mulai menangis lagi tapi tangisanku tak bertahan lama karna aku mulai bisa menata hatiku.
Satu bulan setelah berpisah dengan Mas Dani, kami sudah tidak pernah lagi berkomunikasi. Aku berusaha tidak memikirkannya karna belum tentu dia juga memikirkanku. Tanggal 22 September 2009 telah tiba. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagiku, karna hari ini adalah hari dimana aku diwisuda. Lautan manusia telah memenuhi tempat wisuda, nampak terlihat senyuman bahagia dimana-mana. Tidak ketinggalan, aku menghabiskan waktuku untuk berfoto-foto dengan teman2 dan kedua ortuku... “Ehm...aku puas dengan hari ini” batinku. Meskipun IPKku tidak sampai kumlot, tapi aku sudah cukup bersyukur mendapat IP 3 lebih.
Satu tahun setelah wisudaku, aku mencoba ikut tes CPNS di kota Surabaya, Alhamdulillah aku diterima dan ditempatkan di RSUD Dr. Soetomo. Aku tinggal di rumah Bulekku yang dekat dengan RS, jadi aku tidak perlu kost lagi.
Hari ini hari pertamaku masuk kerja dan aku harus masuk malam. Masuk malam di UGD adalah hal yang paling kubenci, karna banyak kecelakaan yang terjadi pada malam hari yang membuatku tidak bisa tidur.hehe... Ternyata tidak seperti dugaanku, sejak jam 21.00 WIB sampai jam 01.00 WIB tidak ada pasien yang datang. Aku mulai merebahkan badanku di bed pasien yang ada di UGD tapi mataku tidak mau terpejam. Kira-kira jam 03.15 WIB, tiba2 terdengar suara gaduh Ambulance di depan. Aku dan para perawat lain keluar dengan membawa brangkar, ternyata baru saja terjadi kecelakaan dan kelihatannya cukup serius. Kecelakaan tersebut menyebabkan satu orang luka parah dan tiga orang lain hanya luka ringan. Kamipun segera membawa masuk pasien dengan luka berat tersebut. Saat brangkar didorong memasuki UGD, aku melihat sesosok lelaki yang kukenal. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, “Subhanallah, bukankah ini adalah Mas Dani yang kukenal? Kenapa bisa sampai begini?” tanyaku dalam hati. Mas Danipun segera mendapatkan pertolongan pertama dan kemudian dilakukan observasi. Aku mencoba mencari jawaban atas segala pertanyaan yang ada di kepalaku, aku bertanya pada seorang koran yang terluka ringan tentang kronologi kecelakaan itu. Kecelakaan itu terjadi saat rombongan Mas Dani yang berjumlah empat orang sedang menuju ke Surabaya ditabrak oleh sebuah truk pengangkut barang karna pada saat itu supir truk sedang mengantuk. Setelah beberapa saat, mas Dani dipindah di ruang rawat inap.
Keesokan harinya, aku sudah melihat keluarga Mas Dani dari Malang sudah datang dan sedang menunggunya di kamar. Karna kecelakaan tersebut, kaki Mas Dani patah, hal itu bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk sembuh lagi. Sebelum aku pulang, aku menyempatkan menengoknya. Dia begitu kaget melihat kedatanganku, akupun menceritakan bahwa aku bekerja di sini. Setiap hari aku selalu menyempatkan untuk menjenguknya, kadang aku bergantian menjaganya karna aku tidak tega dengan kedua orang tuanya yang sudah tua. Setiap hari aku selalu menyiapkan segala kebutuhannya, aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan dan aku hanya ingin menolongnya sebagai seorang teman yang membutuhkan bantuan. Orang tuanya nampak begitu senang setiap kali aku datang, bahkan mereka sudah menganggapku sebgai putrinya sendiri.
Satu bulan sudah Mas Dani dirawat, Alhamdulillah perkembangan kesehatannya sangat cepat. Besuk dokter sudah mengizinkan dia untuk pulang tetapi harus tetap rutin kontrol.
Hari ini aku masuk malam sehingga aku bisa mengantar kepulangan Mas Dani. Sebelum pulang, ibu Mas Dani mengajakku duduk di depan kamar dan mengajakku berbincang-bincang. Ibunya sangat berterima kasih karna aku sudah merawat Mas Dani setiap hari. “Tidak usah berlebihan, Buk. Hal ini sudah sepatutnya saya lukakan sebagai seorang teman” jawabku pada ibu Mas Dani. Dalam kesempatan itu, ibunya Mas Dani berkata:” Andaikan waktu dapat diputar kembali, aku ingin sekali merestui hubungan kalian”. “Sudahlah Buk, jangan mengungkit masa lalu, sekarang Mas Dani dan saya sudah mendapatkan kehidupan kami sendiri2. Saya tahu bahwa kami tidak bisa bersatu” jawabku. “Iya Nak, maafkan semua kesalahanku yang dulu” kata ibu Mas Dani sambil memelukku. “Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu, Ibu tidak bersalah. Saya hanya hanya minta doa restu dari Ibu sekeluarga, Insyaallah minggu depan saya akan bertunangan. Saya hanya bisa mendoakan smoga Mas Dani juga mendapatkan seorang pendamping yang baik pula” kataku agak lirih.
Tepat jam 11.00 WIB, Mas Dani sekeluarga pulang. Sebelum pulang Mas Dani berterima kasih padaku dan mendoakanku semoga bahagia dengan pilihanku. Aku telah menceritakan semuanya pada Mas Dani. Aku juga berpesan pada Mas Dani untuk menjaga dirinya dan smoga dia kelak akan mendapatkan pendamping yang baik yang sesuai dengan keinginannya. Suasana haru mewarnai perpisahanku dan Mas Dani. Selamat jalan Mas Dani, inilah jalan yang terbaik bagi kita. Semoga kita bisa mendapatkan kebahagiaan kita masing2. Terima kasih engkau pernah menjadi orang yang berarti dalam hidupku dan engkau telah mengajarkanku bahwa cinta tidak harus memiliki tapi cinta adalah apa yang dapat kita beri untuk orang lain..
Rahma adalah nama panggilanku, aku adalah mahasiswa keperawatan di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Hari ini tanggal 28 Mei 2009 tepat jam 07.00 WIB aku tersadar dari lamunanku, hari ini adalah hari terakhir ujian praktekku. Hemmm, aku telah melewati hari-hari yang berat, smoga hari ini aku diberi kelancaran desusku. Jam 07.30 WIB dosen penguji telah datang, ujianpun segera dimulai. Aku mendapatkan giliran pertama kali. Sekitar 30 menit aku berada di dalam lab bergelimut dengan phantom boneka yang mirip dengan manusia dan dosen, rasanya lega banget ujianku telah selesai. Apapun hasilnya yang penting aku telah menyelesaikan tugasku pikirku.
Ba’da sholat magrib, aku sedang asyik dengan tugas-tugasku yang masih terbengkalai. Suara dering telepon berbunyi... Ku lihat temanku Gita memanggil. Tumben sekali Gita menelponku batinku, ternyata dia memeberitahuku kalau saudaranya ada yang ingin berkenalan denganku. Saudaranya bernama Dani, sudah bekerja dan berusia 25 tahun. Wahh... Hari ini aku mimpi apa za gumamku, dengan nada biasa akupun mengiyakan untuk mengasih no hpku pada saudaranya. Tidak lama hpku berbunyi lagi, ternyata ada nomor baru memanggil. Jantungku mulai berdegup dag dig dug.... ku tata hatiku untuk menerima telepon. Ternyata benar, telepon itu dari saudaranya Gita. Kamipun mulai mengobrol dan mengenal satu sama lain. Besok adalah malam minggu, Mas Dani mengajakku untuk ketemu,dia ingin mengenalku lebih jauh lagi dan akupun mengiyakan.
Jam 19.00 tetttt, aku telah siap dengan kaos merah favoritkudengan memakai celana jeans dan krudung merah. Tidak berapa lama Mas Dani datang dengan mobilnya. Mas Dani mengajakku di rumah makan lesehan yang lumayan terkenal di daerah Malang. Sambil menyantap hidangan yang disuguhkan, kamipun mulai bercerita tentang diri kami masing2. Mas Dani bilang padaku bahwa dia ingin mencari seseorang yang dapat menjadi calon pendamping hidupnya. Sejenak kalimat itu terasa asing bagiku, selama ini aku tak pernah membahas hal2 seperti itu meskipun dengan teman2ku di kampus atau di kost. Mas Dani adalah orang pertama kali yang membicarakan hal itu padaku. Aku hanya terdiam dan berpikir, aku adalah gadis yang masih berusia 21 tahun,aku masih kuliah, apakah aku sudah pantas untuk memikirkan hal itu????????? Kalimat ini yang selalu membayangi fikiranku sejak bertemu dengan Mas Dani. Hari2ku mulai terasa begitu berbeda, aku mulai memikirkan semua perbincanganku dengan Mas Dani kemaren malam. Aku merasa dia begitu sempurna buatku sampai2 semua kriteriaku ada pada dirinya, mulai dari wajah yang tampan, penampilan yang rapi,sopan, menyenangkan saat diajak bicara dan yang terpenting lagi dia udah bekerja. Memang tak dipungkiri bahwa dengan semua itu aku bakal dianggap gadis matre, tapi inilah hidup dan ini adalah pilihan hidupku..
Tiap hari Mas Dani selalu menelponku, kami selalu mengobrol lewat telpon. Hari berganti hari, perasaan suka mulai tumbuh di hatiku seiring dengan tumbuhnya rasa cemas yang juga membayang bayangi hari2ku. Aku masih bingung bagaimana harus menyikapi hal ini. Dia adalah orang pertama yang ingin mengajakku untuk serius padahal aku merasa aku masih kekanak –kanakan. Meskipun begitu dia tetap mau menerimaku dan akupun mulai belajar menjadi seseorang yang dewasa. Tiap hari tiada henti-hentinya aku berdoa. “Ya Allah semoga jika memang Mas Dani adalah jodohku maka mudahkanlah langkah kami, tapi jika dia memang bukan jodohku jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku daripadanya” itulah doa yang selalu kupanjatkan. Dalam hal ini aku adalah tipe orang yang lemah, aku tidak ingin tersakiti dan menyakiti karna keduanya sangatlah menyakitkan. Makanya aku ingin mendapatkan kejelasan apakah dia memang orang yang diciptakan untukku atau bukan, meskipun pemikiranku ini terlalu cepat. Aku pernah mendengar jika kita ragu dalam memilih sesuatu maka sholatlah dan mintalah kepada Allah untuk memberi petunjuk, Insyaallah akan dikabulkan.
Satu bulan berlalu, hubunganku dengan Mas Dani semakin dekat. Baru saja Mas Dani menelponku mengajak ke rumahnya karna ada acara pengajian dalam rangka ulang tahun keponakannya. Sempat aku menolaknya, tapi akhirnya aku mengiyakan. Jam 16.00 WIB nanti dia akan menjemputku dikost. Hemm... Hari ini adalah hari yang penting karna aku akan bertemu dengan semua keluarganya... Oh my God... Apakah aku bisa menghadapi hari ini?????? Yach... Ini adalah tantangan yang harus bisa ku takhlukkan, Katanya aku ingin menjadi dewasa???????? pikirku.. Inilah moment yang tepat untuk mengukur seberapa siapkah aku untuk menyongsong masa depan...
Tepat jam16.00 WIB Mas Dani sudah berada di depan kost untuk menjemputku. Dia masih memakai seragam karna baru saja pulang dari kantor. Akupun segera menghampirinya. Hari ini aku sengaja berdandan biar nampak cantik di depannya dan keluarganya.. Saat tiba di depan rumahnya, jantungku mulai berdetak kencang.... aku mulai grogi. Setelah turun dari mobil, dia menyuruhku untuk masuk dan dia mengikutiku dari belakang. Waowwww... Keluarganya sudah berkumpul, aku mulai menyalami mereka satu persatu sambil memaksa mulutku untuk selalu tersenyum. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku seperti orang aneh... Akhirnya aku ke depan dan membantu menyiapkan kue buat para undangan. Ternyata undangan yang hadir cukup banyak. Tak sengaja aku mendengar salah seorang undangan bertanya pada ibunya Mas Dani. Ibu itu bertanya:” Ini to calonnya Dani?”. Aku mencoba mendengarkan dengan baik. Tapi alangkah kagetnya aku saat mendengar jawaban dari ibunya Mas Dani. Ibunya bilang kalau aku hanya teman putrinya alias teman dari adiknya Mas Dani. Hatiku kecewa sekali mendengar hal itu. Aku seperti tidak dianggap sama sekali disana, tapi aku mencoba untuk berpikiran positif dan mungkin ibunya Mas Dani punya alasan berbicara seperti itu. Setelah semua undangan datang, aku pergi ke dapur untuk membantu pekerjaan di sana. Apa yang bisa aku kerjakan ya kukerjakan temasuk membersihkan piring dan sendok dan menata nasi buat para undangan. Selang beberapa menit Mas Dani mencariku dan mengajakku untuk makan, setelah makan kamipun sempat mengobrol sebentar sampai jam 20.30 dan akupun pamit untuk pulang. Setelah berpamitan dan bersalaman dengan keluarga Mas Dani, akupun diantar pulang sampai kost. Huh lega rasanya, ternyata aku bisa melaluinya meskipun aku sedikit kecewa dengan sikap ibunya yang sepertinya tidak nyaman dengan kedatanganku.
Pagi ini mentari bersinar dengan cerah... hari ini Mas Dani mau main ke rumah dan dia adalah orang pertama yang akan ku kenalkan pada orang tuaku karna selama ini aku tidak pernah mengenalkan siapapun pada ortuku. Seperti janjinya, dia datang jam 10.00 WIB. Ortuku ikut menyambut kedatangannya dan mengobrol sebentar di ruang tamu kemudian meninggalkan kami berdua. Mas Dani bilang kalau dia menyukai suasana rumahku yang dingin dan sejuk karna rumahku memang terletak di desa dan dikelilingi oleh pepohonan yang masih rindang. Jam dindingku menunjukkan jam 11.00, Mas Dani pamit untuk pulang karna dia harus mempersiapkan keberangkatannya besuk ke Surabaya untuk acara diklat selama 2 minggu. Hari ini aku sengaja menyuruhnya main ke rumah karna setelah ini kami tidak akan bertemu selama 2 minggu, selain itu aku juga ingin mengetahui pendapat ortuku tentang Mas Dani.
Satu minggu berlalu begitu lambat, meskipun Mas Dani begitu sibuk dengan kegiatan diklatnya, dia selalu menyempatkan untuk menelponku hingga suatu hari muncullah masalah yang muncul berawal dari perbincangan kami mengenai hari kelahiran. Ternyata keluarga Mas Dani masih kejawen, mereka masih melakukan penghitungan hari kelahiran. Kamipun penasaran dengan hari kelahiran kami masing2. Masalah itu muncul saat jumlah dari hari kelahiran kami adalah 25. Sebenarnya aku dan MasDani tidak tahu arti dari angka 25 itu, kami memutuskan untuk membahasnya setelah Mas Dani pulang dari Surabaya. Entah mengapa sejak saat itu perasaanku tidak enak. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya kepada nenekku tentang arti dari pertemuan hari lahir yang jumlahnya 25 karna mungkin saja nenekku mengerti tentang perhitungan orang2 Jawa. Ternyata perasaanku benar, sebuah pernikahan yang memiliki jumlah 25 adalah tidak baik. Kata orang2 Jawa dulu, rumah tangganya tidak akan langgeng karna selalu bertengkar dan salah satu bisa sakit-sakitan atau bahkan meninggal. Aku begitu syok mendengar hal itu karna kata Mas Dani keluarganya masih percaya tentang hal itu dan Mas Dani sendiri juga percaya.. Sejak saat itu aku mulai menghindar, dua hari tidak ada komunikasi di antara kami dan selama ini hal itu tidak pernah terjadi. Setelah kupikir2, aku tidak mau tersiksa dengan keadaan yang belum tentu terjadi, bisa saja keluarganya mengartikan lain dan tidak seburuk apa yang kupikirkan. Akhirnya akupun mulai menjalin komunikasi lagi, aku berpuara-pura seperti tidak terjadi apa2.
Dua minggu berlalu, akhirnya Mas Dani pulang dari Surabaya. Keesokan harinya aku menghubungi Mas Dani untuk mengajak ketemu dan membicarakan masalah itu, tapi entah mengapa Mas Dani selalu menghindar dengan alasan masih sibuk. Aku semakin tidak tenang, aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut, kalau memang harus berakhir aku ingin berpisah dengan baik2. Berulangkali aku menghubungi Mas Dani dan selalu saja membicarakan hal itu hingga dia bosan mendengarnya dan akupun juga bosan membahasnya. Lama tak ada kabar dari Mas Dani, aku memutuskan untuk kembali konsentrasi pada kuliahku yang tinggal menyelesaikan tugas akhir. Besuk adalah dateline pengumpulan Karya Tulis Ilmiah, sedangkan aku masih belum membuat lembar persembahan. Entah kenapa hari ini aku begitu terbawa perasaan sampai2 dalam lembar persembahan, aku menuliskan pesan untuk ortuku:”Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa membahagiakan kalian, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk membuat kalian bangga. Sampai saat itu tiba, aku ingin engkau memeluk ku seraya berkata, terima kasih Ya Allah…Engkau telah menitipkan kepada ku malaikat kecil sebagai anugerah terindahMu. Dimanapun dan kapanpun, kalian selalu ada di hatiku” tak terasa air mataku mulai menetes. Selang beberapa menit hpku bordering, ternyat telpon dari Mas Dani. Akhirnya dia sudah mengetahui jawaban dari semua itu dan semua itu sama dengan apa yang dikatakan nenekku. Dia ingin bertemu denganku untuk membahas semua itu dan aku mengiyakan. Setelah kututup telponnya, airmataku jatuh dan tak bisa terbendung lagi, ku coba untuk tegar tapi tetap saja aku tidak bisa menghentikan tangisku. Meskipun butuh waktu cukup lama, akhirnya tangisanku berhenti juga. Aku mulai berpikir dengan menggunakan akal sehatku, bukankah ini yang kuinginkan, semakin cepat masalah ini terselesaikan semakin cepat aku bisa memulai kehidupan yang baru. Ternyata semua itu hanya kata2 belaka, aku tetaplah seorang gadis yang lemah yang belum bisa tegar. Dalam hidup, kita harus dapat menentukan pilihan dan ini adalah pilihan yang terbaik, smoga aku bisa melaluinya..amin... Sejenak akupun hanya bisa berdoa dan memasrahkan semuanya pada Allah, Dia sudah menentukan yang terbaik untukku.
Hari ini hari sabtu, kuliahku libur jadi aku bisa bersantai sejenak. Aku mulai mengisi waktu luanku dengan membersihkan kamarkostku karna satu bulan lagi aku sudah boyongan ke rumah selamanya. tak terasa sudah jam 09.00 WIB, aku bergegas untuk mandi karna jam 10.00 WIB aku ada janji dengan Mas Dani untuk bertemu. Hari ini jam 10.15 WIB, akhirnya Mas Dani datang juga. Kupersilahkan dia masuk di ruang tamu. Sejenak suasana menjadi hening, kami berdua hanya terdiam. Akhirnya aku yang memulai percakapan, aku menanyakan bagaimana pendapat dari ortunya. Mas Dani menjelaskan kepadaku sesuai dengan pembicaraan antar dia dan ayahnya. “Memang hasilnya buruk jika harus dipaksakan untuk bersatu” kata Mas Dani. Dia tidak ingin suatu hari kelak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mendengar semua itu aku hanya bisa diam, mulutku seperti terkunci rapat. Aku harus gimana lagi, kalau Mas Dani saja percaya maka aku tidak bisa memaksa lagi. Aku hanya bisa mengiyakan tanpa bisa berkata-kata. Dia juga berpesan padaku agar hubungan kami tetaplah baik, tidak sebagai kekasih tapi sebagi teman. Kira-kira satu jam perbincangan berlangsung, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah secara baik2 karna memang hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi. Meskipun semua perkataannya begitu menyakitkan hatiku, entah mengapa air mataku tak ada yang jatuh setetespun, aku seperti mendapat kekuatan untuk menghadapi semua ini. Setelah semua selesai, Mas Dani pamit pulang dan kuantar sampai di depan teras. Sepeninggalan Mas dani, akupun mulai menangis lagi tapi tangisanku tak bertahan lama karna aku mulai bisa menata hatiku.
Satu bulan setelah berpisah dengan Mas Dani, kami sudah tidak pernah lagi berkomunikasi. Aku berusaha tidak memikirkannya karna belum tentu dia juga memikirkanku. Tanggal 22 September 2009 telah tiba. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagiku, karna hari ini adalah hari dimana aku diwisuda. Lautan manusia telah memenuhi tempat wisuda, nampak terlihat senyuman bahagia dimana-mana. Tidak ketinggalan, aku menghabiskan waktuku untuk berfoto-foto dengan teman2 dan kedua ortuku... “Ehm...aku puas dengan hari ini” batinku. Meskipun IPKku tidak sampai kumlot, tapi aku sudah cukup bersyukur mendapat IP 3 lebih.
Satu tahun setelah wisudaku, aku mencoba ikut tes CPNS di kota Surabaya, Alhamdulillah aku diterima dan ditempatkan di RSUD Dr. Soetomo. Aku tinggal di rumah Bulekku yang dekat dengan RS, jadi aku tidak perlu kost lagi.
Hari ini hari pertamaku masuk kerja dan aku harus masuk malam. Masuk malam di UGD adalah hal yang paling kubenci, karna banyak kecelakaan yang terjadi pada malam hari yang membuatku tidak bisa tidur.hehe... Ternyata tidak seperti dugaanku, sejak jam 21.00 WIB sampai jam 01.00 WIB tidak ada pasien yang datang. Aku mulai merebahkan badanku di bed pasien yang ada di UGD tapi mataku tidak mau terpejam. Kira-kira jam 03.15 WIB, tiba2 terdengar suara gaduh Ambulance di depan. Aku dan para perawat lain keluar dengan membawa brangkar, ternyata baru saja terjadi kecelakaan dan kelihatannya cukup serius. Kecelakaan tersebut menyebabkan satu orang luka parah dan tiga orang lain hanya luka ringan. Kamipun segera membawa masuk pasien dengan luka berat tersebut. Saat brangkar didorong memasuki UGD, aku melihat sesosok lelaki yang kukenal. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, “Subhanallah, bukankah ini adalah Mas Dani yang kukenal? Kenapa bisa sampai begini?” tanyaku dalam hati. Mas Danipun segera mendapatkan pertolongan pertama dan kemudian dilakukan observasi. Aku mencoba mencari jawaban atas segala pertanyaan yang ada di kepalaku, aku bertanya pada seorang koran yang terluka ringan tentang kronologi kecelakaan itu. Kecelakaan itu terjadi saat rombongan Mas Dani yang berjumlah empat orang sedang menuju ke Surabaya ditabrak oleh sebuah truk pengangkut barang karna pada saat itu supir truk sedang mengantuk. Setelah beberapa saat, mas Dani dipindah di ruang rawat inap.
Keesokan harinya, aku sudah melihat keluarga Mas Dani dari Malang sudah datang dan sedang menunggunya di kamar. Karna kecelakaan tersebut, kaki Mas Dani patah, hal itu bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk sembuh lagi. Sebelum aku pulang, aku menyempatkan menengoknya. Dia begitu kaget melihat kedatanganku, akupun menceritakan bahwa aku bekerja di sini. Setiap hari aku selalu menyempatkan untuk menjenguknya, kadang aku bergantian menjaganya karna aku tidak tega dengan kedua orang tuanya yang sudah tua. Setiap hari aku selalu menyiapkan segala kebutuhannya, aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan dan aku hanya ingin menolongnya sebagai seorang teman yang membutuhkan bantuan. Orang tuanya nampak begitu senang setiap kali aku datang, bahkan mereka sudah menganggapku sebgai putrinya sendiri.
Satu bulan sudah Mas Dani dirawat, Alhamdulillah perkembangan kesehatannya sangat cepat. Besuk dokter sudah mengizinkan dia untuk pulang tetapi harus tetap rutin kontrol.
Hari ini aku masuk malam sehingga aku bisa mengantar kepulangan Mas Dani. Sebelum pulang, ibu Mas Dani mengajakku duduk di depan kamar dan mengajakku berbincang-bincang. Ibunya sangat berterima kasih karna aku sudah merawat Mas Dani setiap hari. “Tidak usah berlebihan, Buk. Hal ini sudah sepatutnya saya lukakan sebagai seorang teman” jawabku pada ibu Mas Dani. Dalam kesempatan itu, ibunya Mas Dani berkata:” Andaikan waktu dapat diputar kembali, aku ingin sekali merestui hubungan kalian”. “Sudahlah Buk, jangan mengungkit masa lalu, sekarang Mas Dani dan saya sudah mendapatkan kehidupan kami sendiri2. Saya tahu bahwa kami tidak bisa bersatu” jawabku. “Iya Nak, maafkan semua kesalahanku yang dulu” kata ibu Mas Dani sambil memelukku. “Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu, Ibu tidak bersalah. Saya hanya hanya minta doa restu dari Ibu sekeluarga, Insyaallah minggu depan saya akan bertunangan. Saya hanya bisa mendoakan smoga Mas Dani juga mendapatkan seorang pendamping yang baik pula” kataku agak lirih.
Tepat jam 11.00 WIB, Mas Dani sekeluarga pulang. Sebelum pulang Mas Dani berterima kasih padaku dan mendoakanku semoga bahagia dengan pilihanku. Aku telah menceritakan semuanya pada Mas Dani. Aku juga berpesan pada Mas Dani untuk menjaga dirinya dan smoga dia kelak akan mendapatkan pendamping yang baik yang sesuai dengan keinginannya. Suasana haru mewarnai perpisahanku dan Mas Dani. Selamat jalan Mas Dani, inilah jalan yang terbaik bagi kita. Semoga kita bisa mendapatkan kebahagiaan kita masing2. Terima kasih engkau pernah menjadi orang yang berarti dalam hidupku dan engkau telah mengajarkanku bahwa cinta tidak harus memiliki tapi cinta adalah apa yang dapat kita beri untuk orang lain..