Minggu, 19 Agustus 2012

Dalam perjalanan pulang (Part 4)

Ada hal yang unik dan menarik dalam perjalanan di kampung halaman kali ini.Sesuatu hal yang sydah turu temurun di lakukan oleh masyarakat jawa dan masyarakat kampung di desaku pada khususnya.Acara Unggah unggahan,,maleman,dan udun udunan.Tradisi yang di lakukan oleh Masyarakat jawa sebagai simbol yang berkaitan dengan Puasa Dan Ramadhan..Mungkin di sini sudah banyakyang tahu tentang hal hal yang berkaitan dengan itu semua.Dan mungkin kurang menarik kalau aku ceritakan di sini.Tapi di sini yang menarik adalah  Acara Maleman yang di kemas sedemikian rupa,mengikui perkembangan jaman.Budaya yang tidak kaku dan bisa mengikuti perkembangan jaman.
Hal yang sangat menarik untuk di bahas.Dan sangat menggelotok.Budaya Jawa yang syarat dengan nuansa klenik dan syirik,mampu membaur dengan ajaran Islam dan bisa saling melengkapi.Dulu waktu aku masih kecil,acara Maleman itu sangat kental dengan nuansa seperti itu.Setiap warga membuat berbagai macam hidangan,yang tentunya mengandung simbol simbol jua.Ada golong asahan dan lain lain.Memang awal di buatnya Ritual seperti itu di maksudkan untuk bisa mengenal Islam secara utuh,tapi di sampaikan dengan cara yang halus dan pelan pelan.Tapipada perkemabangannya malah semakin jauh dari Nilai nilai Islam.Dari Pemuka adat yang berdoa dengan nuansa syirik yang kental serta adanya pancenan,atau seperangkat Hidangan yang di siapkan,yang di tujukan oleh Para Leluhur..Sangat bertentangan Dengan Islam.
Ada sesuatu yang sangat berbeda yang terjadi di Desaku beberapa tahun belakangan ini.Berawal dari kesadaran para golongan Sepuh atau golongan yang di tuakan,Dan semangat perubahan yang di bawa oleh kalangan pemuda yang sangat mengerti akan Islam terjadilah sebuah acara maleman kontemporer.Acara maleman yang memadukan budaya dan Nuansa Islam yang sangat kental.Budaya Tidak hilang,tapi Menjlankan Agama juga terhindar dari Khurafat,syirik.Acara maleman yang dulu di kemas sangat bernuansa syirik kini di modifikasi  sedemikian rupa tanpa menghilangkan Roh dari simbol maleman itu sendiri.Dalam acar maleman itu Para warga tetap mendapat jatah yang sama di setiap malam ganjil di sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan.Setiap warga di beri kebebasan untuk membuat menu yang di inginkan asal pantes,tidak harus mengikuti pakem seperti acar maleman yang terdahulu,seperti membuat golong asahan,pancenan dan lain lain,.Setelah warga yang mendapat jatah di setiap malam ganjil itu,kemudian membawa makanan yang di buat ke Mushola .Kemudian setelah Tarawehan Beres Bapak mudin(Tokoh agama yang di daulat untuk mengurusi acara acar seperti itu)memberikan Tausiah,dan Doa.Setelah itu Makanan di di bagikan kepada para jamah yang hadir di mushola itu.
Luar biasa,perjuangan untuk memurnikan akidah memang membutuhkan cara yang tepat untukbisa di terima warga.Kesadaran Para sesespuh yang lahir dalam suasana Maleman yang kental mau berbesar hati untuk menerima sesuatu yang baru dari para orang muda yang mempunyai semangat perubahan.Salut dan angkat topi sebagai penghargaan kepada para kaum tua yang bisa bersikap bijak dan menerima sesuatu yang baru asalkan itu benar.Andaikan semua orang bisa bersikap bijak seperti itu.Mungkin cinta damai akan terus bersemayam di dalam negeri ini.Hal hala yang terkesan sepele seperti ini,ternyata sangat negandung hal hal yang sangat luar biasa.Andaikan bangsa ini mau berkaca dengan hal hal positif yang di lakukan warganya?????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar