Sabtu, 26 Juni 2010

MEMELUK ASA

Semburat sang surya menguning di ufuk sana.Udara nan dingin menusuk tulang sentiasa menggoda jiwa-jiwa untuk terlelap,tapi aku harus bergegas berkejaran dengan sang surya,sebelum sang surya mengurasa habis butir-butir keringat dalam jasad ini.Ini hari ketiga aku mengerjakan tugasku mencangkul di sawah lik Parto.Di sela -sela penantianku menunggu pengumuman kelulusan,aku gunakan untuk bekerja mencari tambahan untuk biaya sekolah.Ayah dan ibuku sudah tak mampu untuk membiayai sekolahku hinggasekolah menengah atas.Aku juga tak tega,melihat kondisi fisik orang tuaku,yang mulai terlihat kerut-kerut di sekujur tubuhnya.Tak akan aku permasalahkan kondisi keluargaku yang pas-pasan ini,aku sudah merasa kuat unutk menaggung segala keperluan hidupku,termasuk membiayai sekolahku nanti.Tak akan kau sesali terlahir dari keluarga yang pas-pasan.Aku malah bersyukur terlahir dari rahim ibuku,dengan segala kekurangan yang aku rasakan membuatku menjadi pribadi yang kuat,mandiri ,tidak bergantung pada orang lain."ehmmmm, nikmatnya bersyukur
***********
Ini hari ke empat aku menjadi buruh cangkul di sawahnya Lek Parto.Aku harus segera menyelesaikannya.dan berpindah ke tempat yang lain.Aku harus bisa mengumpulkan uang sebanyak mungkin.Waktuku cuma dua minggu untuk memngumpulkan uang.Sang surya sudah sepenggalan naik,sinarnya mulai menyengat tubuhku.Sebentar lagipasti akan membakar tubuhku,dan menguras keringat dalam jasad ini.Di pematang sawah ,berjaklan Sri anaknya Lek Parto,yang usianya sepantar denganku.Dia juga sedang menunggu penguguman kelulusan.Yang beda dia tak harus bersusah payah,bergelut dengan lumpur sawah,karrena menmang ayah nya juragan di desa ku.Dia menuju ke arahku.membawa serantang makanan untuk sarapan.Selama aku mencangkul di sawah bapaknya.Dia rutin mengantar sarapan ke sawah."Ahhh, aku tak mau gede rasa,mungkin hanya dia yang punya waktu luang,toh dia juga mengantar sarapan untuk bapaknya yang juga bergumul dengan lumpur di sawah.
"Pak ,sarapan dulu"Sri memanggil ayahnya
"nIF,sini sarapan dulu"
" Ya, Sri sebentar,aku bersih-bersih badan dulu"
"Sini nif,sarapan dulu, biar tenaganya kembali pulih" Ajak lek Parto
Ku bersihkan tubuhku,lalumke menuju gubug.Sri dan Lek parto sudah menunggu di sana.
Ada kenikmatan tersendiri ketik menyantap makana, di sawah.Tak bisa terucap dengan kata-kata.nikmatttttt!!!
" Contohlah hanif ini lho sri,meski masih muda,dia sudah mandiri,memenuhi kebutuhannya sendiri"
"Ah, biasa aja kok lil,aku hanya ingin meraih mimpi dan mewujudj\kan cita-citaku lik"

"Bapakmu pasti banggga punya anak seperti kamu niff"
"Ya, lek, aku memang sangat ingin membanggakan orang tua saya,sebagai wujub rasa terima kasih dan rasa sayang saya ada orang tua"
"Kamu memang naka yang berbakti" lek parto menepuk menepuk bahuku.
"ih, bapak ini,hanif kok di puji, nanti besar kepal lho!!" sinis Sri denga muka berlipat-lipat.
aku dan lek parto hanya bisa tersungging ,meliaht kelakuan Sri

Minggu, 20 Juni 2010

BERTEMU DI SUATU TEMPAT

Hati berdesir tak beraturan,keringat dingin terus saja membasahi kedua telapak tangan.Mukaku mera.Betapa malunya aku.Ini pertama kalinya aku berusaha menjalin hubungan serius menuju jenjang pernikahan tanpa melalui pacaran.Sebuah pertemuan yang akan mengubah hidupku.Sebuah pertemuan yang akan mengubah status ku dari lajang menjadi seorang suami.Aku merasa getar-getar rasa itu kembali hadir memenuhi palung hatiku,setelah beberapa tahun silam aku kecewa karena aku gagal melangsungkan pernikahan Hati ini menjerit karena luka tersayat. Dan berbuah pada sebuah keputusan untuk fokus pada pekerjaan dan mengesampingkan urusan ini.Sampai tak tersadar jasad telah termakan usia.
"Nif, kapan kamu nikah?"
"Nanti,Bu,aku masih ingin fokus pada pekerjaan"
" Ingat lho umurmu sudah hampir kepala tiga".Aku tertegun mendengar [perkataan ibu barusan.
“Sekarang umurmu sudah 27 tahun. Lho!.Mau nunggu apalagi?”
"27.Hahhh!, ternyata umurku sudah hampir kepala tiga!!".
Mulutku menganga lebar,mendengar perkataan sang bunda di ujung telepon sana.
“Kenapa malah diam, di ingatkan untuk nikah kok malah diam,apa kamu nggak kepingin menggendong buah hati?adikmu saja sudah punya momongan!.”Gerutu sang bunda.
“Iya Bu, maafkan Hanif yang terlalu keasyikan kerja, hingga lupa kalau hanif masih lajang”
“Apa perlu Ibu carikan?”
“Nggak ,nggak usah Bu, untuk urusan ini biarlah Hanif yang mencarinya sendiri,biar lebih sreg”
“Ya sudah, semua Ibu serahkan pada Hanif saja, tapi ingat jangan lama-lama!!. Ibu tunggu sampai lebaran nanti .Kalau Hanif belum memdapatkannya,Ibu yang akan carikan!”
“Iya Bu, minta doanya saja”.Jawabku pasrah.
Ibuku memang sudah benar-benar memaksaku untuk menikah.Bahkan mengultimatum.Tidak biasanya Ibu bersikap seperti itu.Ahhh mungkin itu bahasa cinta Ibu pada anaknya yang belum menikah ini.Aku merasa memang sudah saatnya aku berusaha untuk menjemput jodohku, meski rasa sakit masih terasa ketika aku gagal melanjutkan hubungan ke pelaminan dua tahun yang lalu ketika umurku baru seperempat abad.
Kini aku merubah semua rencanaku hingga 180 derajat. Menikah yang dulu belum ada dalam rentetan rencana yang ku susun,kini harus aku jejalkan dan menjadi salah satu tujuan yang harus aku raih secepatnya. Tapi…. Sepertinya aku sedikit mengalami kesulitan.Karena saat ini belum ada salah satu wanita yang mampu menggetarkan hatiku.Meskipun teman-teman di tempat kerjaan cantik-cantik tapi kalau hati ini tak ada sinyal getaran-getaran rasa,tak akan aku respon.Ada beberapa teman yang pedekate denganku, tapi aku acuhklan karena memang tak ada getar-getar rasa itu.Aku memang orang yang sulit jatuh hati,tapi ketika hati ini sudah tergetar oleh rasa, aku akan mencurahkan semua perhatianku pada orang tersebut dan akan berusaha mati-matian untuk mendapatkanya.Dan tentunya itu menjadi kendala tersendiri untukku.Sekarang kesibukanku bertambah,memilah dan memilih siapa kira-kira yang mampu menggetarkan hati ini.Ku korek-korek lagi memori yang tersimpan dalam otak ini.Siapa tahu ada salah satu nama yang tersimpan menjadi memori indah dalam hidupku.Hasilnya nihil.Tak satupun aku ingat nama-nama wanita yang pernah mampir dalam hidupku.Malah memoriku membawa ku pada satu nama yang membuat hati ini kecewa berat.Dia memilih untuk pergi meninggalkanku di saat aku telah bersiap-siap untuk melamarnya.”Aghhh!” aku nggak mau kecewa itu kembali berkecamuk dalam hatiku,biar ku kubur dalam-dalam dalam palung terdalam hatiku.Aku tak mau tersiksa denga perasaan pahit itu.Tak ku temukan target yang ku temukan dalam memoriku, akupun beralih ke opsi lain.Ku buka daftar kontak yang tersimpan dalam hpku.Satu-satu ku ku kirimi sms pada mereka,meminta bantuan mereka,siapa tahu mereka punya salah seorang kenalan yang siap nikah ,dan bersedia menikah dengan ku.” Hmmmm” sepertinya aku harus bersabar.Dua hari aku tunggu, tak ada satupun balasan sms yang membuatku tersenyum sungging.Nol besar.Malah teman-teman menggodaku, yang parah balasan sms dari jono .”Nif,nih ada wanita yang siap nikah, dia seorang janda berumur 70 tahun. Mau?”.Wah keterlaluan juga nih orang, masak saya suruh nikah dengan nenek-nenek.”Huuh” .gerutuku.Senyumku sedikit tersungging saat hari ketiga aku mendapat sms dari seorang sahabat nun jauh di sana.tapi senyumku menjadi kecut,saat ku baca kalimat.” Tapi dia minta waktu setahun untuk menyelesaikan kuliahnya.”Wah ,aku yang tidak sanggup kalau harus menunggu satu tahun, umur nih sudah mau kepala tiga”.Balas sms ku pada sohib jauhku itu.
Ku putar otak.Mencari cara.Tak ada hasil .Nihil.Tak ada bayangan sedikitpun.Aku malah semakin pusing,mengejar sesuatu yang tak tahu dimana aku akan mendapatkannya.Bingung mencari solusi. Akhirnya aku putuskan untuk berhenti sesaat,merehatkan sejenak otakku.Setelah beberapa hari ini aku peras otakku.Dan sampai saat ini usahaku belum membuahkan hasil.Ku buka laptop .Iseng untuk menyegarkan otakku.Ku OL,Membuka akun jejaring sosial.Ku lihat banyak juga teman yang lagi OL.”He he he, nggak ada salahnya aku ajak chat,semua teman yang OL ,siapa tahu, ada yang berjodoh.”Gumanku.Mungkin aku sudah kehabisan akal ,sehingga aku melakukan perbuatan nekad seperti ini.Satu persatu aku ajak chat.Berbagai tanggapan, aku rasakan langsung.Ada yang diam nggak ada respon,ada yang ketus sambil marah-marah, ada yang jaim,ada juga yang ramah merespon dan ngalir saja ketika di ajak berbincang.Ada seorang wanita yang membuat hati ini tertarik,getar-getar rasa itu mulai terpendar dari dalam hatiku .Dia sangat merespon ketika aku ajak untuk chat.Dia mengaku bernama Ana septiani.Lagi nyantri di daerah Padalarang.Wah senangnya hatiku bukan kepalang.Aku memperkenalkan diri dan jujur ku katakan kalau aku hanya seorang muslim biasa yang tidak pernah bersinggungan dengan pesantren , kitab kuning.Aku hanya mendapatkan pelajaran agama waktu masih kecil di sebuah mushola kecil di kampung halaman.Tapi aku berusaha mengamalkan apa yang aku tahu itu.
Dari apa yang di tulis dalam percakapan itu ku rasakan dia jujur dan apa adanya.Kata-katanya halus tapi tidak terkesan kemayu dan genit.Dia sangat sopan.Aku mulai tertarik dengan wanita ini.Niat awal OL hanya iseng, untuk merehatkan sejenak saraf-saraf otak di kepala ini, berubah menjadi salah satu usaha ku untuk menemukan jodohku.Yah menurutku, jodoh bisa ketemu di mana saja.Seperti temanku,dia ketemu jodohnya hanya gara-gara ada sms nyasar ke hpnya.Dia sudah maki-maki tuh orang, ehhh malah sekarang jadi istrinya.Jodoh memang rahasia Tuhan yang telah di tentukan.Kita nggak tahu kapan dan di mana akan bertemu dengan jodoh kita.Seperti aku sekarang ini,mudah-mudahan orang yang aku ajak berbincang di luar sana menjadi jodohku ,meski aku belum melihat wajah aslinya.Meski aku baru saja mengenal orang ini.Setidaknya aku bisa melihat photo profilnya.Dan aku yakin photo yang dia pajang itu asli .Aku sempat tanyakan padanya.Dan memang itu fhoto aslinya.”Ana, menurut Ana, calon suami yang Ana harapkan itu seperti apa sihhh?.”tanyaku garing dan basa basi.
“ Kalau Ana sih berharap dia bertanggung jawab dan perhatian?”
“Tapi tentunya yang jago baca dan menguasai kitab kuning ?”
“Kalau memang di takdirkan itu yang Ana harapkan,Tapi siapa saja kok,Ana nggak akan pilih-pilih yang penting dia mau bertanggung jawab dan setia “
Hatiku berdentam keras seolah mendapat lampu hijau.
“ Meski pun dia orang awam, yang tak pernah sedikitpun mengenal pesantren?”
“ Ya”jawabanya semakin membuatku gede rasa dan merasa di atas angin.Aku sangat berharap dia membantuku mewujudkan niatku untuk melepaskan masa lajangnya sebelum lebaran nanti.
Sebenarnya aku minder, karena memang tak pernah selangkahpun kakiku menuju ke pesantren.Aku hanya orang islam abangan, yang tak bisa membaca kitab kuning, apalagi arab gundul.Tapi tentunya aku pun ingin mendapat istri yang terbaik dan berharap memang Ana jodoh aku yang ku cari selama ini.
Dengan modal nekad dan gede rasa aku beranikan diri untuk mengutarakan niatku.”Na, aku ingin menyampaikan sesuatu”
“ Ya silakan?”
“Sedari tadi aku sudah banyak berbincang dengan Ana.Dan jujur Na,saat ini aku berusaha menjemput jodohku.Apa ana bersedia kalau aku ajak untuk membangun sebuah mahligai ,menghalalkan sebuah hubungan dengan pernikahan?”
Beberapalama ku tunggu nggak ada respon
“Ana”. Ku coba meminta tanggapan
”Maaf,kalau aku belum bisa memutuskan.Aku masih ragu dan takut salah memutuskan kalau aku bilang ya, takut Mas Hanif bukan jodohku,tapi kalau aku bilang tidak aku juga takut ternyata Mas Hanif memang jodoh yang kunantikan saat ini.Aku juga tidak bisa menjalani hubungan tanpa ada rasa.Mas Hanif kita kan baru kenal,apa Mas Hanif tidak terlalu terburu-buru untuk mengajak Ana menikah?”
“ Tidak Ana, samasekali tidak, untuk urusan ini aku tidak mau terlalu ribet di belenggu ketakutan-ketakutan yang membuat kita sulit memutuskan.Masalah rasa itu bisa di upayakan kok.Ya memang cinta itu harus di upayakan dan terus di jaga ketika sudah ada sebuah ikatan.” Ku berusaha menjelaskan.Tapi dia masih ragu untuk memutuskan. Sikapnya itu benar-benar membuat aku tak menentu,harap-harap cemas,kecewa pun ikut andil dalam memporak-porandakan hati ku.
“Tapi Mas Hanif?”
Ku berusaha meyakinkan bahwa masalah rasa bisa di upayakan.Yang penting bagiku sekarang menghalalkan sebuah hubungan.Aku berharap Ana mau mempertimbangan alasan-alasan yang telah aku utarakan tadi.
“Baiklah Mas hanif.Aku menghargai niat baik Mas Hanif untuk mengajak Ana menikah,Tapi Mas, aku belum bisa memtuskan saat ini .Beri Ana waktu seminggu untuk berpikir dan sholat istikhoroh.Minggu depan aku beritahu lewat media ini di waktu dan jam yang sama.Itu saja yang bisa aku jawab saat ini Mas.Aku off dulu ya.Assalamualaikum.”
Tidak ada koneksi.Dia sudah offline meninggalkan sejuta beban rasa.Rasa bingung ,berharap, kecewa,senang bercampur menjadi adonan yang entah seperti apa rasanya.
“Aku akan menunggu”gumamku.Aku akan menunggu meski aku akan terhantui rasa cemas.Meski aku juga telah siap bila ternyata jawabannya tidak seperti yang aku harapkan.

*************
Hari ini tepat seminggu aku menunggu sebuah jawaban.Masih ku ingat seminggu yang lalu di temani cahaya rembulan aku chat dengan seaorang santri wati .Dia meminta waktu seminggu untuk memberikan jawaban.Malam ini tepat seminggu aku menunggu Di temani temaram sinar rembulan .Ku buka laptop dan aku kembali OL.aku menanti.Semoga Ana tidak lupa dengan janjinya. Dan malam ini pula dia akan memberikan jawaban yang pasti.
Hp ku bersenandung.Ada panggilan masuk.Ibu tercinta meneleponku.Ada apa gerangan?.
“Nif, gimana apa kamu sudah menemukan calon yang cocok untuk kamu ajak nikah” tanya Ibuku di ujung telepon sana
“ Do’akan saja Bu”
“ Apa kamu mau Ibu kenalkan dengan anaknya Mbak Parti,dia juga merantau di Bandung”
“Nanti saja Bu,biar Hanif berusaha mencari sendiri Bu.Nanti kalau Hanif belum mendapatkan calon sebelum lebaran,Ibu boleh kok memperkenalkan Hanif sama siapa saja yang menurut Ibu Baik”Ku berusaha menolak tawaran ibu sehalus mungkin,Supaya Ibu tidak tersinggung.Aku juga tidak mau berterus terang kalau saat ini sedang menanti sebuah jawaban dari seorang wanita solehah.Aku tak mau gede rasa, karena memang semuanya masih belum jelas.Masih ngambang.Malu tentunya pada Ibu kalau aku bilang aku sudah punya calon ,kalau toh ternyata dia memberikan jawaban yang tidak aku inginkan.Biarlah ku simpan rapat-rapat galau dalam hati ini sampai nanti aku mendapat jawaban yang pasti ..Ku tunggu beberapa saat.Dan kesabaranku pun berbuah hasil.
“Ass, Mas Hanif”Dia menyapaku
“Kum salam,Gimana kabar?” sedikit basa basi
“Hamdulillah , baik.Gimana dengan Mas Hanif?”
“ Hamdulillah saya juga baik”
“Mas, sesuai janji ku seminggu yang lalu.Aku akan memberikan sebuah keputusan.”
“Ya Ana , aku sudah menunggu waktu ini,dengan kecemasan yang menhujamm hatiku”
“Tapi apapun yang nanti ana katakan, Mas hanif akan menerimanya dengan lapang dada kan?”
“Ya, Ana aku sudah menyiapkan hati dan pikiranku untuk menerima apaun yang akan Ana katakan”
“Mohon maaf sebelumnya kalau Ana membuat Mas Hanif di landa kecemasan,menunggu jawaban Ana.Ana sudah sholat istikhoroh,sudah membicarakan dengan orang tua Ana,dengan Guru ana.Guru Dan orang tua Ana menyerahkan semuanya pada Ana.Dan Jawaban Isthikoroh ana juga belum jelas.Tapi karena memang tenggat yang Ana berikan Cuma Seminggu ,jadinya Ana harus memutuskan…” Kata-katanya terhenti.Aku tak tahu apa kah dia mempermainkan perasaanku atau dia masih ragu.Hatiku benar-benar berdentam keras.Keringat dingin semakin keluar deras membasahi telapak tangan.Meskipun aku sudah berusaha mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang akan menjadi keputusan Ana.Tapi tetap saja aku kesulitan Hati ini berdesir-desir.
“Ana ,jadi gimana keputusan Ana?”.Tanya ku berusaha menghilangkan kecemasan yang sedari tadi menghantui.
“Aku… Aku menunggu kehadiran Mas hanif di Rumahku.Besok pagi.Ini ku tuliskan alamat rumahku dan nomor hp ku.Bila Mas Hanif menemui kesulitan menuju rumahku.silakan hubungi nomor ini”
“Jadiiiiii……..”
“Ya Mas, Aku tunggu kehadirannya besok.Dah ya aku OFF dulu”
Tidak ada koneksi.Dia sudah Off.Aku jadi gemes.Tapi sungguh berbahagia.Karena Dia memberikan jawaban yang menyejukkan hati.Sejuukk sekali.Bahagianya aku.Ingin ku berteriak-teriak kegirangan ,tapi ku urungkan itu.Jiwa ini masih punya rasa malu untuk melakukan itu.Nggak enak sama tetangga.Hanya senyum sungging yang mewakili kebahagiaan itu.Seraya bibir berucap “Alhamdulillah”.Sepertinya aku tak akan terlelap tidur malam ini.Tapi malam ini aku harus segera terlelap.Ingin segera ku khabarkan berita bahagia ini pada sang Ibunda tercinta.Tapiaku urungkan.”Besok saja,ini baru pertemuan pertama,nanti kalau memang sudah ada acara lamaran.aku akn cerita kabar bahagia ini kepada orang tua.Dan aku akan memboyongnya ke Bandung untuk ikut menyaksikan hari yang membahagiakan ini.
.Dengan segenap energi keberanian yang aku kumpulkan. Aku pun meluncur ke alamat rumah yang di berikan Ana padaku.Sengaja aku datang sendirian,karena aku menganggap ini hanya pertemuan biasa.Silaturahmi biasa untuk saling mendalami,bukan acara lamaran. Dengan semangat empat lima,ku geber si jagur,ke padalarang.Ku siapkan jiwa dan raga ini untuk menemuainya.Sms beberapa kali mengernyit,
”Mas Hanif sudah sampai mana?”.
“Sebentar lagi sampai kok” Ku balas SMS itu.
Hati ini semakin berdebar kencang tak beraturan.Ketika ku sampai di depan rumahnya.Ternyata sudah berkumpul banyak warga di situ.Sepertinya aku salah menafsirkan.Keringat terus membasahi mukaku.Aku tak membawa persiapan sama sekali.Karena aku tak menyangka akan di sambut seheboh ini.Salahku juga tidak mempertanyakan lebih detail pada Ana.Tapi tetap ku langkahkan kakiku menuju rumah Ana.Untung tadi di perjalanan aku beli beberapa kue untuk buah tangan.Di depan rumah ada Bapak-bapak yang menyambutku.Aku kira itu orang tuanya Ana.”Assalamualaikum,Mas Hanif ya,Silakan masuk”Bapak itu menyapa hangat.Aku hanya mengangguk untuk menutupi kegugupanku."Cessss!!!".semilir kesejukan mengalir ke dalam hati mengisi setiap relung-relung terdalam hatiku ketika aku melihat dari dekat wanita bernama Ana.Ku coba menyapanya meski hanya berguman “Assalamualaikum Ana”.Sekilas ku lihat mulutnya berkomat kamit membalas salam.”Walaikum salam” .Kami sama-sama malu,salah tingkah,dan ,ahh tak tahulah ada rasa lain yang mengalir dalam relung hatiku.Sejuk sekalii.

Sabtu, 19 Juni 2010

Pakdhe


Sepulang kerja,Pakdhe menyodorkan padaku selembar kertas bertuliskan nama-nama peserta piala dunia." Mau ikut nggak?"
"Ikut apa?
" nih arisan piala dunia"
Aku garuk -garuk kepala,karena nggak ngerti dengan maksud pakdhe
"Ini arisan piala dunia,kamu tinggal nebak kira-kira negara mana yang nanti bakalan menjadi pemenang piala dunia, nah kalau nanti kamu yang menang kamu kan mendapat uangnya,nggak perlu di kocok lagi"
"kalau nggak menang?"
"uangnya hangus"
"Ahh,nggaKk ah pakdhe,itu kan sama saja dengan taruhan,judi pakdhe!!"
"Nggak mau ikut ya sudah,aku cuma nawarin kok"
"Nggak mau pakdhe"
"Ya sudah!" jawabnya ketus
Jalan pikiran orang memang beda-beda,aku tak bisa memaksanya untuk mengikuti pemikirannya,aku pun juga tak mau mengikuti begitu saja pemikiran orang lain ,kalau ku anggap itu,sesuatu yang buruk menurut diriku.Aku menganggap itu sudah merupakan bagian dari perjudian,meskipun namanya arisan.Parah,piala dunia yang di nanti-nanti itu ternyata di gunakan sebagai ajang berjudi.Nggak teman satu kost,nggak teman kerja ,semua sama.Piala dunia di pakai sebagai ajang taruhan.parahhhhhhhh!!!!!

Minggu, 13 Juni 2010

terjaga di suatu malam


TERJAGA DI SUATU MALAM

Langsung ku rebahkan tubuh letihku ini ketika sudah sampai di kamar kontrakanku,tak sempat ku berganti baju,atau sekedar mencuci muka,kasur empuk sudah menggodaku untuk segera menidurinya ketika diri ini membuka pintu.Aku tergoda dan terbuai. “ZZzzzz!!!!. Terlelap.Mimpi telah merenggut tubuh lelahku, membawaku ke negeri antah barantah.

Limbung juga diri ini,serasa tubuh ini tak ada tulang belulangnya.Lemas!!.Aku terlalu memaksakan diri ini untuk mengambil lembur 12 jam.Aji mumpung yang menjadi alasan utama.Yah mumpung ada lemburan,lumayan hasil yang di dapat,Tapi resikonya, berat badan turun drastis,Badan serasa di bebani container.

Dalam lelapku,ada sesuatu yang ingin memaksaku untuk terjaga.Rupannya senandung lapar yang memaksa raga ini terjaga di tengah malam. Ketika mata ini terbuka,serasa ada beban berton-ton menindih tubuhku.Tubuh ini terasa lunglai.Lemesss!!! .Tersadar bahwa sepulang kerja perut ini tak terisi karbohidrat barang sesuap.Tak ingin tubuh ini semakin lunglai tak bertenaga aku harus segera terbangun ,perut ini harus segera di suplay karbohidrat,supaya aku bisa kembali merehatkan tubuh lelah ini,untuk kembali merenda mimpi mimpi di tilami kasur busa empuk,yang sedari tadi meggodaku untuk segera membaringinya.

Ku paksakan tubuh ini berdiri, walau aku tertatih.Kuraih jaket yang tergantung di balik pintu kamar kontrakanku.Aku bergegas membuka pintu,ku lihat jam menunjukkan pukul 00.30 wib..Aku berharap di luar sana masih tersedia lapak-lapak penjaja makanan.Ku langkahkan kakiku .Ku paksakan aku berjalan cepat,meski lunglai sentiasa memelukku.Dalam benakku aku igin segera menemukan sesuap makanan, untuk memgembalikan energi dalam tubuh ini.Sudah berapa banyak air liur tertelan karena membayang untuk segera menyantap makanan.Aroma kuliner khas malam hari tercium tajam oleh hidung ini.”Ehmmm uuueeenake” Liur ini semakin deras mengalir.Sampai juga aku di syurganya mala mini.Di sana ku lihat masih banyak berjajar lapak –lapak yang menjual aneka kuliner,dari martabak,ayam goreng, nasi goreng.Ku edarkan pandangan,dari ujung sampai ujung lagi,Nasi goreng yang menjadi pilihan bersantap malam ini.

“Mas,nasi goreng satu porsi”

“ Di sini atau di bungkus?”

“Siap bozz” jawabnya akrab.

Langsung ku lahab habis seporsi nasi goring yang terhidang di depanku.Ku nikmati sensasi kenikmatan racikan bumbu yang tercampur menjadi satu dalam nasi goreng hingga tersisa piring sama sendoknya saja.” Wuihhhh nikmatttt” .Tubuh ini terasa segar kembali,tubuh yang sedari tadi lunglai,mulai bertenaga.Sepertinya asupan karbohidart telah menjadi energi yang mengalir lewat darah,dan tersalur ke tiap-tiap anggota tubuhku.Saatnya kembali keperaduan,perut ini sudah tak lagi berdendang ria menyanyikan senandung lapar. Ku ajak kakiku untuk melangkah kembali pulang ke kamar kontrakan. Aku enggan bergegas masuk ke kamar,ketika aku sudah sampai di tempat kontrakanku.Mata ku tersihir oleh lukisan indah di atas sana.Semilir angin semakin membuat diri ini terhipnotis akan indahnya ciptaan Sang Khalik.Rembulan yang sempurna memancarkan sinarnya di tingkahi kerlap-kerlip centil gumintang seolah mengajakku untuk berbincang.”Hai manusia ,aku juga makluk seperti dirimu,aku selalu tunduk dan patuh akan titah Tuhanku.Aku selalu berdzikir mengagungkan nama Tuhanku,selalu kupancarkan sinar indah sepanjang malam,apakah kamu tidak berpikir?”Aku merasa tersindir Sang rembulan dan gumintang saja sentiasa berdzikir dan tunduk akan titah Tuhannya.Sedangkan aku, manusia yang di beri banyak kelebihan,kadang suka lalai,dengan alasan sibuk.

Sempurna cahaya terang bulan yang sentiasa di tingkahi senyu-enyum centil yang gumintang,mengajakku untuk bertafakur,merenung.Semilir angin, yang membelai kulitku dengan lembut seolah ,menuntunku untuk sejenak terpekur.Ku sandarkan tubuhku pada pagar besi persis di di depan pintu kanmar kontrakaknku.Ku biarkan pagar besi itu menopang berat badanku.Nurani yang tersimpan di ceruk hatiku pun mengajakku untuk kembali menyelami relung-relung hidup yang telah ku lalui.Aku tertunduk,malu rasanya bila ku terus memandangi lukisan indah di atas sana.Ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku.Tanpa ku sadari Dia meninggalkanku,dan semakin menjauh dari kehidupanku.Aku baru tersadar saat ini.Betapa kesibukan,telah berhasil melalikan diriku,dan membengkokan arah tujuan hidupku.Aku terlena.Aku terbuai.Oleh indahnya, oleh cantiknya kefanaan. “Yahhhhh,aku memang telah terbuai.Bahkan aku terlupakan dari tujuan hidupku”.Kelopak mata in pun tak mampu membendung luapan haru.Menetes, dan terus menetes.Aku biarkan terus mengalir.

Aku tak kuasa.Ada sesuatu yang memburu,Aku mencoba menenangkan diriManusia kadang aku merasa berdosa,ketika aku pancarkan sinar terang ini ke bumi,Di bagian bumi yang lain ,cahaya indahku ini di manfaatkan untuk berbuat kerusakan di bumi,bermaksiat kadang ingin ku ludahi orang –oran itu, yang sedang asyik masyuk” sang bulan seolah ikut berbicra.” .

“Ya,seharusnya malam ini gunakan untuk berdzikir meningat kebesaran sang kholik,berdoalah di waktu-waktu seperti ini,insya allah akan di ijabah doa-doamu.Itu janji tuhanmu,Bukankah engkau dulu sering melakukan itu? Gumintangpun tak luput memberi saran.Aku benar-benar merasa di ingatkanoleh makluk –makluk tuhan ini, sampai .tak terasa kah ini telah menjejak di depan kamar kontrakan.

Ku lihat bulan tersenyum,gumintangpun masi centilberkelap –kelip,meningkahi malam benderang ini.Betapa indsahnyaKupandang lekat lekat wajah sang rembualan dia seolah menatpku dan seolah juga mengingatkakku,bahwa aku pernah begitu akrab dengannya.Dia seolah ingin membuka rekam jejakku beberapa tahun silam.Ku biarkan diriku bercumbu dengan dinginya malam,ku sandarkan tubuhku dip agar besi yang tepat berada di depan pintu kontrakanku.Aku ingin berlama-lama memandang bulan dan gumintang.Ku buka satu persatu file masa laluku yang tersimpan dalam memori otakku.Sang bulan dan gumintangpun membantuku untukmengingat, mereka membawaku pada suatu masa,di saat-saat remaja.Aku bersama lima orang temanku aktif di sebuah mushola kecil, kami sama –sama aktif menjadi remaja masjid.Mengajari anak-anak kecil mengaji, itu menjadi rutinitas kami bersama,saling berlomglomba untukl yang paling pertama samopai di masjid.Sebagian besar waktu kami di habiskan di Mushola kecil itu..bahkan belajar pun di mushola.Mushola kecil itu ibarat rumah kedua kami.Kegiatan yang paling kami gemari.Ketika tubuh tubuh kami merapat membenruk sebuah shaft. Bertahajud.Kami mengadu,berkeluh kesah kepada Sang khalik.Ada saatnya kami tadabur alam,pergi ke sebuah bukit yang jaraknya tidak terlau jauh dari desa kami.Kami bertahajud,di terangi Sang rembulan ,dan kerlip sang gumintang .Kami selalu memandangi sang rembulan dan gumintang sebelum bertahajud,supaya rasa syukur dalam jiwa –jiwa kami semakin kuat tertancap.”Yah aku ingat sekarang ,dan aku tahu kenapa gumintang dan rembulamn menatapku seperti itu.Ku tatap lekat-lekat sang rembulan,tetapsejuk memancarklan keindahan sinar di malam hari,begitupun gumintang,mereka masih bertingkah centil kerlap-kerlip, saling bersahutan.Aku putuskan, segera masuk ke dalam kamar kontrakakan, ada gundah yang terus membayang perasaanku,Ku terpekur,ada beban yang menggelayut dal;am alam sadarku,Ada sesuatu yang tearmat lama aku tingalkan.Sejak bekerja di sebuah Pabrik hamper seluruh waktuku tersita untuk kerja.Semua itu terkikis,sedikit demi sedikit dan akhirnya pupus ,hilang entah kemana.Yah berjalan begitu saja tanpa aku sadari bahwa kau telah meninggalkannya.Aku tersadar ada ketidak seimbangan antara dunia dan akhiratku.Tapi semua terkubur akan kesibukakanku di pabrik.Hambar, memang terasa hambar hidup ini.

Rasa kantuk yang sedari tadi menggelayut,kini pergi entah kemana,Kasur busa yang empuk,yang sedari tadi memgodaku ,tak juga aku hiaraukan,Alam sadarku telah tersentuh oleh keindahan ciptaan sang khalik,nuraniku ku pun mulai mengusik dan berbisik.” Ayo lakukan, apayang kamu pikirkan,apa yang kamu tunggu lagi”.

Ku sandarkan tubuh ini pada dinding ,gundah semakin merasuk ke dalam jiwaku

Sabtu, 12 Juni 2010

ASA YANG AKAN TERUS KU GAPAI

ASA YANG AKAN TERUS KU GAPAI
Selalu saja membuatku bimbang,ketika diri ini tak berharap dia muncull,trus, menghialng tanpa memberi kabar berita,apa maksudnya semua ini.sulit bagiku untuk menafsirkan semua itu." hahhhhh!!!" selalu saja perasaan mempermainkan diriku.kenapa? aku selalu terombang -ambing ke dalam ketidak pastian ,kenapa?.Tak ada kah sesosok manusia yang mau berbagi denganku." huft" betapa lemahnya aku kalau bersandar kepada makluk,Tak lah,takkan ku biarkan diriku teromabng-ambing jke dalam ketidak pastian ini,Aku harus memutuskan.sekaranggg!!!! atauhancur untuk selama-lamanya