ketika diri berazam untuk berkarya,sebagai wujud aktualisasi diri,kerana diri ini punya potensi yang harus di asah dan di uji
Sabtu, 20 November 2010
Perjalanan Liku
Rabu, 17 November 2010
Sebuah Nilai
Tampak raut kelelahan yang menyelimutinya.Mentari waktu itu telah begitu panas .Dan merenggut peluh-peluh keringatnya,hingga tubuhnya dehidrasi.tapi kakinya terus mengajaknya melangkah dan suaranya terus lantang berkata "Batiiiik,baju batiik.....".Yah sebut saja dia ibu Siyem Perempuan paruh baya yang mulai senja umurnya.Merantau ke bandung 40 tahun yang lalu .Dan kin pun tetap setia berkeliling Bandung untuk menjajakan kain batik.Meski pun hasilnya tak seberapa di bandingkan berapa tenaga yang dia keluarkan,tapi prinsip hidup membuatnya tetap tersenyum dan bahagia melakukan itu semua.Semangat yang seharusnya kita tiru sebagai seorang pemuda yang masih berlimpah tenaga.Minggu, 31 Oktober 2010
Empati atau Cinta?

Rasa memang sebuah bentuk yang bisa di ungkap .Yah itu yang ku rasakan akhir-akhir ini.Ada sebuah rasa yang mampir dalam kehidupanku.Tentunya sebuah rasa cinta yang membuncah .Eithhhhh...... Tapi sebentar......Benarkah itu rasa cinta atau hanya empati?Entah lah tapi yang kurasakan saat ini aku ingin sekali menghiburnya,aku ingin sekali membuatnya tersenyum,sedikit melupakan kesakitan hatinya yang kini telah menderanya.Aku paling nggak bisa membiarkan dia menangis seorang diri.Sementara orang -orang terdekatnya tak ada yang mampu mengetahuinya kalau sebenarnya hatinya sedang retak, luluh lantak ,akibat badai kerinduan yang amat sangat kepada kedua orang tuanya.Aku bisa merasakan semua itu.Ketika bulir -bulir kerinduan itu mengalir deras dalam hatinya .Sekali lagi aku tak bisa menjawab apakah itu cinta atau hanya empati yang lahir dari dalam hatiku.
"assalamualikum,gimana keadaanmu? apa kini kau telah baik-baik saja?".SMS ku kirim kepadanya di sela-sela istirahatku .Aku khawatir dia masih rapuh dan belum bisa menata hatinya."Walaikum salam...Alhamdulillah saya sudah baik Bang....."SMS berbalas juga."Syukurlah kalau begitu".Jawabku...
lega perasaanku membaca dan mengetahui kabarnya.Aku harap dia tak berbohong padaku,dan memang kondisinya kali ini baik-baik saja.
Bila ku kenang pertemuan itu.Bertemu dalam acara book fair secara tak sengaja.Perkenalan yang tak sengaja pula.Ketika aku di sana berniat bertemu seorang sahabat.Karena acara book fair itu di penuhi sesak pengunjung.Aku agak kesulitan menemukan sahabatku itu.Meski SMS terus bersahut,tapi aku tak jua dengan segera bertemu dengan sahabtku itu.Hingga aku putuskan untuk bertanya."Maaf mbak ,boleh bertanya?"Pintaku pada seseorang yang kebetulan ada di depanku.Hemm...dengan agak judes dia menjawab pertanyaanku.Tapi aku juga menangkap ada gurat kesediaan di sana.Ku beranikan diri untuk berkenalan dengannya.Dengan muka yang super kecut dia memperkenalkan diri.Wah .....aku takkan patah arang hanya dengan raut muka seperti itu.Aku berusaha semanis dan seramah mungkin bercakap dengannya.Ku yakinkan bahwa tak ada maksud apa2,hanya sekedar ingin mengenalnya.walau sebenarnya aku sangat ingin tahu ada apa di balik mukanya ,yang sangat mahal hanya untuk sebuah senyum.Karena aku memang menangkap ada sesuatu pancaran muram di sana.Bukan pula aku ingin ikut campur urusan dia,tapi aku hanya berusaha mengulurkan tangan siapa tahu ,aku bisa membantunya.dan tentunya aku bisa menguak,ada apa sebenarnya....
Yah.....aku berhasil.Dari perkenalan itu aku mendapatkan pasword,kata kunci yang bisa membuatku mengenalnya lebih jauh lagi.Sebuah nomor ponsel telah aku dapatkan darinya.Yah...itu sudah cukup untuk perkenalan kali ini.Kini aku bergegas untuk bertemu dengan sahabatku ,yang ternyata posisinya tak terlalu jauh darti tempatku berada.Ehm,,,, lautan buku membuat kami berenang sesuka hati untuk memilih buku.Ada beberapa buku yang aku beli.Dan segera pulang ,meninggalkan lautan buku yang berjajar bak makanan yang menggoda selera.Kalau tak segera aku tinggalkan...pastinya aku akan mengeluarkan banyak uang dari uang yang telah aku anggarkan untuk beli buku.Kalu keinginan itu aku turuti,sebelum gajian berikutnya tiba dah habis uang di kantong ini.Itu berarti aku tak bisa makan.Hidup sebagai urban memang segala harus berbayar.kalau tak pandai mengelola unag bisa-bisa pailit jadinya.
Bermodal nomor hape itu aku beranikan diri untuk mengirim pesan padanya.Ku coba mengajaknya bercerita, dan gayungpun bersambut.Dia begitu terbuka menceritakan kepahitan ,kepediahan yang dia pendam selama ini.Sejak masih sekolah dasar dia sudah di tinggalkan kedua orang tuanya,merantau ke negeri seberang.Menjadi tenaga kerja.Dia sungguh tak menyadari itu,bahwa perpisahan itu menjadi awal dari semua kepediahannya selama ini.bahwa perpisahan itu menjadi perjumpaan terakhir denga kedua orang tuanya,dan tak tahu kapan akan bersua kembali denga kedua orang tuanya.Sebulan dua bulan dia tak menyadari itu,tapi setelah tahun berganti tahun dia mulai menyadari bahwa dia akan berpisah dengan orang tuanya dalam waktu yang sangat lama,atau mungkin tak pernah kembali.Dia berusaha tegar menerima kenyataan itu,Sebagai anak sulung dia merasa punya tanggung jawab besar untuk adik2nya.Dia kubur dalam dalam kepedihan dan kerinduan itu.Dan berusaha menjalani hari-harinya seperti orang lain,sekolah dan belajar.Ehmmmm....Mungkin itu memang garis takdir.Dengan segala upaya dia lawan kepediahan itu,dia lawan kerinduan itu,Dia berusaha untuk tetap berjalan meski terseok.Semangat belajarnya yang membuat dia kuat dan bertahan.Kehidupan yang kurang menyenangkan membuat hatinya bagai karang,yang berusaha bertahan saat ombak mendera,..
Kesedihan,kerinduan berada pada puncaknya,di saat pembagian rapor ,tema-teman sekelasnya di dampingi ayah dan bundanya,sementara dirinya,Tak ada satupun orang yang mau menjenguknya ,sekedar untuk mengambilkan rapor.Hatinya sangat luka,teriris iris,tersayat.Dia hanya bisa menumpahkan semuanya dengan air mata.Yah karena hanya itu yang bisa dia lakukan.Tapi semua itu membuatnya semakin kuat dan lebih kuat.semua itu memunculkan sebuah tekad untuk terus sekolah.Ada sebauh harapan bahwa dia ingin jadi pemenang.Kepedihan itu membuatnya terpecut untuk terus berjuang menjadi yang terbaik.Sampai garis takdir membawanya untuk bertemu orang tua angkat.Hati ku tak kuasa menahan haru mendengar kisahnya.Amat sangat kepedihanya menghujam dalam hatiku.Terasa begitu menyayat,tapi dari semua itu timbul juga rasa bangga, salut, karena dia mampu bertahan dalam episode yang begitu tak bersahabat dengannya.Mendengar kisah itu,aku semakin ingin mengetahui.,semakin ingin ikut merasakan beban yang dia rasa saat ini, dengan berbagi kepahitan ini aku berharap dia bisa sedikit melepas penat itu.
Tapi ssekuat-kuat nya karang dia pasti akan terkikis jua ketika deburan ombak terus menerjangnya.Ada saat dia tak bisa menguasai hidupnya,mersa menjkadi oarng yang tak di pedulikan.Menjadi orang terbuang.....Itu yang dia ungkapkan dalam pesan-pesanya yang dia kirim padaku.
Sejak saat itu aku rutin berkirim pesan menanyakan kabar,dan ku buka seluas-luasnya diriku,bila dia ingin berbagi kepedihan padaku.Bersamaan dengan itu timbul rasa untuk terus memperhatikannya,mempedulikannya,mengasihinya.dan rasa tulus....
hmm,,......Kini rasa itu bergejolak dalam hatiku,ingin ku ungkapkan.Dalam kebingunganku mengetahui rasa ini,sebuah tanya yang belum jua aku jawab.Empati atau Cinta?aku memberanikan diriuntuk mengungkap rasa itu.Aku adalah tipe orang yang tak bisa menyembunyikan perasaan.Ku ungkapkan rasa itu padanya dan mengulurkan tanganku, untuk mengajaknya dalam ikatan mahligai.Aku berharap dengan cara itu aku akan bisa lebih memberikan perhatikan,aku bisa lebih mendengar keluh kesahnya.Aku bisa lebih bisa membantunya.Ehm,,,, tapi ternyata niatku itu tak berbuah manis.Dia menolak karena ingin fokus belajar dan memberikan kado terindah untuk orang tua angkatnya.Dia menganggap apa yang aku niatkan bukan solusi terbaik untuk saat ini.Aku mencoba memahami dan mencoba mengerti akan semua inginnya.Dan tentunya sangat berharap keputusan itu menjadi keputusan yang terbaik untuknya.Yahhh......aku menghargai itu semua,,,Kini aku berharap dia kan bahagia dengan keputusannya itu.Dan aku akan tetap menjadi seseorang yang membuka selebar mungkin untuk menerima keluh kesahnya.Karena itu yang bisa aku lakukan.Kini ku biarkan dia terbang tanpa ikatan apapun.Ku biarkan dia terbang meraih asa dan mimpimya.Aku kan tetap tersenyum bahagia melihat bahagia.Aku kan kembali mencari jawab atas rasa ini.Empati Atau Cinta?
- makasih untuk seseorang yang memberiku inspirasi ada sebuah puisi untukmu.
Aku kan hadir dalam pedihmu..
menjadi orang yang kan mendengar keluh kesahmu
,aku kan membuka tangan ini....
meski kau tak membutuhkannya.....
Memang aku tak bisa membedakan rasa itu....
tapi semua itu hadir dengan tulus.....
tetaplah semangat menuju hari cerahmu.....
Azzura......Kau bidadari itu....
Rabu, 27 Oktober 2010
Kahuripan
.jpg)
Sore yang bergelayut mendung mengantarkanku ke Stasiun Kereta api.Aku harus segera kembali ke kampung halamanku,karena sejak kemarin Ibu menyuruhku pulang.Dep kolektor hampir setiap pagi menyambangi rumahku.Dia menagih sisa angsuran sepeda motor ku yang tak jua aku lunasi.Huft.......terasa menyebalkan .Tanpa di tagih pun aku juga ingin segera melunasinya.Semua ini tertunda karena memang belum ada uang yang bisa aku gunakan untuk membayarnya......Tapi Alhamdulillah hanya denga uluran Tangan Allah aku bisa mendapatkan uang untuk melunasi angsuran itu.
Selasa, 26 Oktober 2010
Tak terduga

Tak bosan bosan diri ini berucap doa.Untuk sebuah asa.Untuk sebuag pertolongan.Dalam kesejukan iman,hati ini meratap....mengiba..... akan uluran kasih sayang........Ohhh......Betapa diri ini sangatlah hina dan papa.Tak ada secuilpun yang bisa aku lakukan ,kecuali atas karunianya.Ya Rab... kabulkan.........
Berbesar hati dalam menghadapi setiap kesempitan yang hadir.Membuat hati ini sentiasa sejuk,walau kadang rasa jengah hadir dalam sulitku.Aku kan berharap dan akan terus berharap.Ada sebuah kesadaran akan makna kesempitan.Terlahir dalam jiwa bahwa semua kesempitan itu adalah episode kehidupan yang akan berakhir.Dan berganti menjadi kelapangan .yah sebuah kelapangan hidup.....Dan benar adanya dengan kesadaran itu, kesempitan itu sebuah masa masa indah yang sunyi...jika kita salah memaknai akan berubah jadi kelam yang menakutkan.Tak sanggup diriku....
Alhamdulilllah......Alhamdulillahhhh.......Kalimat itu tak henti hentinya terucap dari bibirku.Uluran kasih Alloh di saat diri ini terjebak di ambang putus asa.Semua karunia ALLAH yang tak pernah aku duga.Aku semakin Yakin bahwa Allah itu Tuhan Yang Maha Pengasih Dan Penyayang.Segala Puji hanya untuk-MU y ALLAH.....
Minggu, 29 Agustus 2010
Racun itu
Detik-detik waktu memaksa waktu segera beranjak.Berganti dari gelap menuju terang, dari terang menuju gelap.Selalu seperti itu.Aku duduk di temani secangkir kopi yang tersisa ampasnya di kerak gelas.Beberapa puntung rokok membersamiku,menghabiskan senja yang kian beranjak gelap.Di tangan kananku,ku mainkan batang rokok,yang seskali aku hisap,ku telan.Dan ku biarkan masuk ke dalam kerongkongan menuju paru-paru ku.Dan ku keluarkan lagi."Uhuk!!.uhuk!!!".Meski tubuh ini sudah berisyarat,tapi tak kunjung aku hentikan.Aku malah semakin asyik memainkan batang rokok itu.dan sesekali menghisap dalam-dalam.
" Mbok ya sudah merokoknya.wong batuknya sudah parah gitu lho!"tegur ibuku ketika mendengar suara batukku yang seolah jeritan ragaku yang mulai rapuh.
Hati nuraniku sebenarnya juga berseru seperti itu,tapi aku tak kuasa jika keinginan untuk merokok itu datang.Aku merasa merokok sudah menjadi menu wajib dalam keseharianku.Aku lebih baik tidak makan asalkan ada rokok di sampingku.Rokok ibaratkan seorang istri yang akan selalu bersamaku dan menuruti segala yang aku inginkan.
***************
Detik-detik waktu terus menuntun untuk berjalan.Membawa untuk terus berjalan mengitari siklus waktu dari gelap menuju terang,dari terang menuju gelap.Selalu ku nikmati senja dengan segelas kopi dan berbatang-batang rokok.Ibuku juga tak bosan-bosannya menegur dan mengingatkan aku.Seolah olah hidupku hari ini adalah replika dari hidupku kemaren.Tapi tubuh ini tidak mau mengikuti ritme seperti itu.Raga ini semakin ringkih, karena rokok telah menjadi gurita dalam tubuhku.Batuk membuatku tersiksa.Dan akhirnya aku limbung ,terkapar ketika tak bisa lagi ku tahan rasa sakit yang meremukkan dada.
"Kamu harus berhenti!!!!"Kali ini nuraniku tegas memerintahkan aku untuk berhenti mencumbu batang beracun itu.Ibuku juga menjauhkan sejauh-jauhnya dari rokok dan aksesorisnya.Bahkan baunya pun tak berkenan tercium olehku.Aku hanya menurut saja dan mengikuti semua anjuran dan larangan itu.Walau mulut ini terasa asam. walau syahwat ini masih ingin membersamai dan menikmati batang rokok itu.Aku sudah tak bisa menahan rasa masam dalam mulut ini."Kalu diri mampu berdiri,pasti aku kan segera beranjak ke warungnya Lek Sri.Dan akan aku nikmati sebatang rokok di sana." gumanku
Tapi kali ini aku tak bisa menggerakkan tubuh ini sedikitpun.Terasa.panas!!!!!.
"Kamu ini ngeyel kalau di kasih tahu.sudah di suruh berhenti merokok ,tetap saja nggak mau berhenti.Sekarang kalau sudah seperti ini siapa yang repot dan susah".Ku dengar Ibu menggerutu,saat mengantarkan makanan ke kamarku.Aku hanya terdiam. Ada rasa sesal yang mulai merasuk.Ada rasa sesal tak aku gubris nurani yang setiap waktu berteriak-teriak.Tapi syahwat lebih menggodaku untuk terus memeluk dan mencumbu batang-batang rokok itu.Aku lebih meilih membebaskan diriku untuk mengikuti syahwat dari pada terkungkung oleh nurani yang bawel.Tetap kunikmati,ku hisap batang-batang rokok itu.Setiap kelelahan ,keruwetan yang mengendap dalam tubuh ini,terlepas bersama asap-asap yang aku hembuskan.Tanpa ku sadari semua, bahwa kenikmatan itu harus berbayar.Karena setiap terlepasnya keruwetan dan kelelahan ini keluar bersama asap itu.,ternyata batang -batang rokok itu meninggalkan racun yang akan membuat ragaku ringkih dan semakin ringkih.
***********
Jasad ini telah bersepakat dan merapat dengan nurani.Berazam untuk saling menjaga dan saling melindungi.Aku akan berusaha mengikuti hati nurani.Akan ku kurung syahwat yang selalu mengajakku ,menyesatkanku untuk mengikuti keinginannya menghisap batang-batang beracun itu.
“Bagaimana keadaanmu,apa sudah baikan?”.Tanya ibuku saat mengantarkan sarapan untukku di kamar.
.“Sudah bu ,Ini juga mau keluar sebentar, mau jalan-jalan pagi bu,.Badan sudah kaku semua karena sudah lama tak di gerakkan”
“Ya sudah”
Memang kasih ibu sepanjang masa.Tak ku ragukan lagi pepatah itu.Sekarang aku benar-benar merasakan sendiri.Sekarang aku rasakan sendiri dengan tulus ibuku merawatku di kala sakitku .
Pagi ini aku paksakan tubuh ringkih ku ini untuk keluar menghirup udara segar.setelah beberapa hari terkungkung di dalam kamar.Entah mengapa kaki ini menuntunku untuk melangkah ke sudut desa.Hingga ku lihat jelas orang-orang berkumpul di sana. Berkumpul di warungnya lek Sri.Mungkin karena terbawa kebiasaan yang sering nongkrong di warungnya Lek Sri.Ku lihat di sana telah berkumpul.Mereka bermandi asap.Di temani secangkir kopi dan gorengan mereka bercanda.Mulut mulut mereka ibarat knalpot yang tiada henti mengepulkan asap.Yah asap beracun yang membuat tubuh ku limbung.Yang membuat dadaku sesak terbakar..
Ingin ku beranjak meninggalkan pergi .Tapi kepulan-kepulan asap itu malah menari nari menggodaku.Merayu dan mengajakku “ Ke sini”.Asap itu menjelma menjadi gadis cantik langkahnya meliuk gemulai.yang sentiasa menggoda.”Sini, mampir sini.Ayo kita nikmati pagi ini di warungnya lek Sri.Ayo!!!.Aku temani”.Terus saja asap itu menggodaku.
“Jon,kemana saja? Sini mampir dulu.Sudah lama kamu nggak kesini .”
Lek Sri membuatku kaget.
Lek Sri semakin membuat syahwatku bergejolak untuk kembali menikmati asap laknat yang telah menghancurkan tubuhku.Syahwatku pun tak henti-hentinya menggoda.
“Ayo mampir sebentar,mulutmu sudah masam gitu, sudah lama kamu tak merkok.Sedikit saja tak ada masalah bagimu.”
“Kamu kan sudah berjanji untuk tidak menghirup asp laknat itu!!!.Ingat!!!! kamu sudah berjanji.!!!”Nurani dengan tegas menghardikku.
Nyali syahwatku menciut.Tak ada keberanian sedikitpun untuk melawan hardikkan nuraniku.Aku memang telah berazam untuk patuh dan mengikuti nuraniku dari pada syahwatku yang lebih sering menipuku dari pada mendatangkan kebaikan untukku.
“kapan-kapan saja Lek,aku Cuma amau jalan-jalan saja dulu. Aku kurang enak badan.KU pulang dulu ya.”Aku segera pamit karena Tak mau berlama-lama di situ takut diri ini tak kuasa menahan syawat untuk kembali merokok.Aku berjalan dengan sedikit berlari.Tak ku dengarkan syahwatku yang sedari tadi ngomel-ngomel.Aku sudah menyadari sepenuhnya kalau nurani adalah panutanku. Pimpimnanku yang bisa membuatku bahagia kelak.walau kadang jalannya begitu sulit dan berliku, tapi kelak akan ku tuai hasil yang manis dari pada aku menuruti syahwatku yang awalnya terasa nikmat dan membanggakan tapi ternyata akhirnya melahirkan beribu penyesalan .Yah aku sangat menyesal menuruti syahwatku untuk menghirup asap laknat itu. Dulu aku sangat bangga karena sebagai lelaki aku bisa merokok.Waktu itu aku beranggapan bahwa merokok adalah lambang kejantanan bagi seorang pria.tapi ternyata itu tetap semu dan semu.Tak ada hasil yang bisa membuatku tetap membusungkan dada,tapi malah dadaku terbakar karena keangkuhanku sendiri.
*********
Ku sibakkan tirai yang menutup jendela.Ku lihat di luar masih gelap.Hanya beberapa lampu dari kejauhan terlihat seperti gumintang.Masih pagi, bahkan masih shubuh .Tak biasanya aku terjaga sepagi ini.Ku lihat jam yang menghiasai hp.Yah memang masih pagi.Baru jam 04.00 pagi.Suara tadarus membuat syahdu pagi ini.Tubuhku terasa ringan untuk beranjak.Aku benar-benar heran.Apa ini karena aku telah berhasil menghentikan kebiasaan burukku menghisap batang beracun itu?.Mungkin saja.Aku merasa terlahir kembali.Hidup terasa sangat berarti bagiku.Aku merasa manjadi manusia yang utuh,tak tergadai oleh syahwatku.Aku merasa ada panutan ,pemimpin ,yang jika aku mengikutinya.Aku akan menjadi manusia merdeka, yang terbebas dari kungkungan syahwat.Yah, kini aku telah mengikuti nuraniku.mengikuti apa yang dia titahkan.Ku beranjak,nuraniku menuntun untuk bersentuhan dengan air.Berwudhu.Sebentar lagi Adzan subuh berkumandang.Dan sepertinya kali ini aku benar-benar merasakan panggilan cinta dari Sang Khalik itu.
Mentari mengintip di balik tirai jendelaku.Aku terlalu asyik menikmati pagi ini,hingga tak tersadar bahwa pagi telah menghampiriku.Sang ibu mengetuk pintu hendak membangunkanku.”Lho tumben sudah bangun….., sarapan sudah aku siapkan,Ibu mau berangkat kerja dulu.”.Aku hanya tersenyum dan malu melihat Ibu ku yang begitu mencintaiku.Aku malu karena telah menyia-nyiakan cintanya selama ini.Bahkan aku tak tersadar kalau selama ini Ibuku sangat mencintaiku.Timbul Tekad ku untuk membahagiakan Ibuku.Yang telah berperan sebagai Ayahku juga.Itu tekadku….
Kondisiku mulai membaik.Tubuhku mulai segar..Membuatku semakin bersemangat.Asap laknat yang dulu menyelimutiku,kini telah sirna.Aku sudah benar-benar meninggalkannya.Walau syahwat tak lelah mengajakku untuk menghisap batang batang laknat itu.
Tak ada lagi hasrat untuk kembali ke Warungnya Lek Sri.Aku jengah melihat kepulan asap menari-nari si warung itu.Aku muak.Tapi aku juga kasihan ,dan tak tega teman-temanku terjebak asap laknat di warung LeK Sri.Aku merasa berdosa jika aku telas ter bebas dari asap laknat itu sementara temanku masih terjebak.Ada sebuah tekad.ingin mengajak mereka semua meninggalkan asap beracun itu.Memang beresiko.tapi aku harus berusaha.Apa yang aku lakukan bukan sesuatau yang mudah. tapi aku harus berusaha.Tak ada salahnya aku kembali ke warungnya Lek Sri.Aku yakin teman-temanku pagi ini masih berkumpul di sana.
Ku langkahkan kakiku,Warung Lek Sri adalah tujuanku.Ku lihat teman-temanku masih asyik bercanda di sana.Tak ada yang berubah ,tetap asap mengepul,menari-nari menggoda para pecandu tuk segera menghambur memeluknya.Tapi aku kesana tidak untuk memberikan ruang untuk syahwatku bernostalgia.
Selasa, 24 Agustus 2010

“ARTI SEBUAH CINTA”
By: Atik Rahmawati
Rahma adalah nama panggilanku, aku adalah mahasiswa keperawatan di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Hari ini tanggal 28 Mei 2009 tepat jam 07.00 WIB aku tersadar dari lamunanku, hari ini adalah hari terakhir ujian praktekku. Hemmm, aku telah melewati hari-hari yang berat, smoga hari ini aku diberi kelancaran desusku. Jam 07.30 WIB dosen penguji telah datang, ujianpun segera dimulai. Aku mendapatkan giliran pertama kali. Sekitar 30 menit aku berada di dalam lab bergelimut dengan phantom boneka yang mirip dengan manusia dan dosen, rasanya lega banget ujianku telah selesai. Apapun hasilnya yang penting aku telah menyelesaikan tugasku pikirku.
Ba’da sholat magrib, aku sedang asyik dengan tugas-tugasku yang masih terbengkalai. Suara dering telepon berbunyi... Ku lihat temanku Gita memanggil. Tumben sekali Gita menelponku batinku, ternyata dia memeberitahuku kalau saudaranya ada yang ingin berkenalan denganku. Saudaranya bernama Dani, sudah bekerja dan berusia 25 tahun. Wahh... Hari ini aku mimpi apa za gumamku, dengan nada biasa akupun mengiyakan untuk mengasih no hpku pada saudaranya. Tidak lama hpku berbunyi lagi, ternyata ada nomor baru memanggil. Jantungku mulai berdegup dag dig dug.... ku tata hatiku untuk menerima telepon. Ternyata benar, telepon itu dari saudaranya Gita. Kamipun mulai mengobrol dan mengenal satu sama lain. Besok adalah malam minggu, Mas Dani mengajakku untuk ketemu,dia ingin mengenalku lebih jauh lagi dan akupun mengiyakan.
Jam 19.00 tetttt, aku telah siap dengan kaos merah favoritkudengan memakai celana jeans dan krudung merah. Tidak berapa lama Mas Dani datang dengan mobilnya. Mas Dani mengajakku di rumah makan lesehan yang lumayan terkenal di daerah Malang. Sambil menyantap hidangan yang disuguhkan, kamipun mulai bercerita tentang diri kami masing2. Mas Dani bilang padaku bahwa dia ingin mencari seseorang yang dapat menjadi calon pendamping hidupnya. Sejenak kalimat itu terasa asing bagiku, selama ini aku tak pernah membahas hal2 seperti itu meskipun dengan teman2ku di kampus atau di kost. Mas Dani adalah orang pertama kali yang membicarakan hal itu padaku. Aku hanya terdiam dan berpikir, aku adalah gadis yang masih berusia 21 tahun,aku masih kuliah, apakah aku sudah pantas untuk memikirkan hal itu????????? Kalimat ini yang selalu membayangi fikiranku sejak bertemu dengan Mas Dani. Hari2ku mulai terasa begitu berbeda, aku mulai memikirkan semua perbincanganku dengan Mas Dani kemaren malam. Aku merasa dia begitu sempurna buatku sampai2 semua kriteriaku ada pada dirinya, mulai dari wajah yang tampan, penampilan yang rapi,sopan, menyenangkan saat diajak bicara dan yang terpenting lagi dia udah bekerja. Memang tak dipungkiri bahwa dengan semua itu aku bakal dianggap gadis matre, tapi inilah hidup dan ini adalah pilihan hidupku..
Tiap hari Mas Dani selalu menelponku, kami selalu mengobrol lewat telpon. Hari berganti hari, perasaan suka mulai tumbuh di hatiku seiring dengan tumbuhnya rasa cemas yang juga membayang bayangi hari2ku. Aku masih bingung bagaimana harus menyikapi hal ini. Dia adalah orang pertama yang ingin mengajakku untuk serius padahal aku merasa aku masih kekanak –kanakan. Meskipun begitu dia tetap mau menerimaku dan akupun mulai belajar menjadi seseorang yang dewasa. Tiap hari tiada henti-hentinya aku berdoa. “Ya Allah semoga jika memang Mas Dani adalah jodohku maka mudahkanlah langkah kami, tapi jika dia memang bukan jodohku jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku daripadanya” itulah doa yang selalu kupanjatkan. Dalam hal ini aku adalah tipe orang yang lemah, aku tidak ingin tersakiti dan menyakiti karna keduanya sangatlah menyakitkan. Makanya aku ingin mendapatkan kejelasan apakah dia memang orang yang diciptakan untukku atau bukan, meskipun pemikiranku ini terlalu cepat. Aku pernah mendengar jika kita ragu dalam memilih sesuatu maka sholatlah dan mintalah kepada Allah untuk memberi petunjuk, Insyaallah akan dikabulkan.
Satu bulan berlalu, hubunganku dengan Mas Dani semakin dekat. Baru saja Mas Dani menelponku mengajak ke rumahnya karna ada acara pengajian dalam rangka ulang tahun keponakannya. Sempat aku menolaknya, tapi akhirnya aku mengiyakan. Jam 16.00 WIB nanti dia akan menjemputku dikost. Hemm... Hari ini adalah hari yang penting karna aku akan bertemu dengan semua keluarganya... Oh my God... Apakah aku bisa menghadapi hari ini?????? Yach... Ini adalah tantangan yang harus bisa ku takhlukkan, Katanya aku ingin menjadi dewasa???????? pikirku.. Inilah moment yang tepat untuk mengukur seberapa siapkah aku untuk menyongsong masa depan...
Tepat jam16.00 WIB Mas Dani sudah berada di depan kost untuk menjemputku. Dia masih memakai seragam karna baru saja pulang dari kantor. Akupun segera menghampirinya. Hari ini aku sengaja berdandan biar nampak cantik di depannya dan keluarganya.. Saat tiba di depan rumahnya, jantungku mulai berdetak kencang.... aku mulai grogi. Setelah turun dari mobil, dia menyuruhku untuk masuk dan dia mengikutiku dari belakang. Waowwww... Keluarganya sudah berkumpul, aku mulai menyalami mereka satu persatu sambil memaksa mulutku untuk selalu tersenyum. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku seperti orang aneh... Akhirnya aku ke depan dan membantu menyiapkan kue buat para undangan. Ternyata undangan yang hadir cukup banyak. Tak sengaja aku mendengar salah seorang undangan bertanya pada ibunya Mas Dani. Ibu itu bertanya:” Ini to calonnya Dani?”. Aku mencoba mendengarkan dengan baik. Tapi alangkah kagetnya aku saat mendengar jawaban dari ibunya Mas Dani. Ibunya bilang kalau aku hanya teman putrinya alias teman dari adiknya Mas Dani. Hatiku kecewa sekali mendengar hal itu. Aku seperti tidak dianggap sama sekali disana, tapi aku mencoba untuk berpikiran positif dan mungkin ibunya Mas Dani punya alasan berbicara seperti itu. Setelah semua undangan datang, aku pergi ke dapur untuk membantu pekerjaan di sana. Apa yang bisa aku kerjakan ya kukerjakan temasuk membersihkan piring dan sendok dan menata nasi buat para undangan. Selang beberapa menit Mas Dani mencariku dan mengajakku untuk makan, setelah makan kamipun sempat mengobrol sebentar sampai jam 20.30 dan akupun pamit untuk pulang. Setelah berpamitan dan bersalaman dengan keluarga Mas Dani, akupun diantar pulang sampai kost. Huh lega rasanya, ternyata aku bisa melaluinya meskipun aku sedikit kecewa dengan sikap ibunya yang sepertinya tidak nyaman dengan kedatanganku.
Pagi ini mentari bersinar dengan cerah... hari ini Mas Dani mau main ke rumah dan dia adalah orang pertama yang akan ku kenalkan pada orang tuaku karna selama ini aku tidak pernah mengenalkan siapapun pada ortuku. Seperti janjinya, dia datang jam 10.00 WIB. Ortuku ikut menyambut kedatangannya dan mengobrol sebentar di ruang tamu kemudian meninggalkan kami berdua. Mas Dani bilang kalau dia menyukai suasana rumahku yang dingin dan sejuk karna rumahku memang terletak di desa dan dikelilingi oleh pepohonan yang masih rindang. Jam dindingku menunjukkan jam 11.00, Mas Dani pamit untuk pulang karna dia harus mempersiapkan keberangkatannya besuk ke Surabaya untuk acara diklat selama 2 minggu. Hari ini aku sengaja menyuruhnya main ke rumah karna setelah ini kami tidak akan bertemu selama 2 minggu, selain itu aku juga ingin mengetahui pendapat ortuku tentang Mas Dani.
Satu minggu berlalu begitu lambat, meskipun Mas Dani begitu sibuk dengan kegiatan diklatnya, dia selalu menyempatkan untuk menelponku hingga suatu hari muncullah masalah yang muncul berawal dari perbincangan kami mengenai hari kelahiran. Ternyata keluarga Mas Dani masih kejawen, mereka masih melakukan penghitungan hari kelahiran. Kamipun penasaran dengan hari kelahiran kami masing2. Masalah itu muncul saat jumlah dari hari kelahiran kami adalah 25. Sebenarnya aku dan MasDani tidak tahu arti dari angka 25 itu, kami memutuskan untuk membahasnya setelah Mas Dani pulang dari Surabaya. Entah mengapa sejak saat itu perasaanku tidak enak. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya kepada nenekku tentang arti dari pertemuan hari lahir yang jumlahnya 25 karna mungkin saja nenekku mengerti tentang perhitungan orang2 Jawa. Ternyata perasaanku benar, sebuah pernikahan yang memiliki jumlah 25 adalah tidak baik. Kata orang2 Jawa dulu, rumah tangganya tidak akan langgeng karna selalu bertengkar dan salah satu bisa sakit-sakitan atau bahkan meninggal. Aku begitu syok mendengar hal itu karna kata Mas Dani keluarganya masih percaya tentang hal itu dan Mas Dani sendiri juga percaya.. Sejak saat itu aku mulai menghindar, dua hari tidak ada komunikasi di antara kami dan selama ini hal itu tidak pernah terjadi. Setelah kupikir2, aku tidak mau tersiksa dengan keadaan yang belum tentu terjadi, bisa saja keluarganya mengartikan lain dan tidak seburuk apa yang kupikirkan. Akhirnya akupun mulai menjalin komunikasi lagi, aku berpuara-pura seperti tidak terjadi apa2.
Dua minggu berlalu, akhirnya Mas Dani pulang dari Surabaya. Keesokan harinya aku menghubungi Mas Dani untuk mengajak ketemu dan membicarakan masalah itu, tapi entah mengapa Mas Dani selalu menghindar dengan alasan masih sibuk. Aku semakin tidak tenang, aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut, kalau memang harus berakhir aku ingin berpisah dengan baik2. Berulangkali aku menghubungi Mas Dani dan selalu saja membicarakan hal itu hingga dia bosan mendengarnya dan akupun juga bosan membahasnya. Lama tak ada kabar dari Mas Dani, aku memutuskan untuk kembali konsentrasi pada kuliahku yang tinggal menyelesaikan tugas akhir. Besuk adalah dateline pengumpulan Karya Tulis Ilmiah, sedangkan aku masih belum membuat lembar persembahan. Entah kenapa hari ini aku begitu terbawa perasaan sampai2 dalam lembar persembahan, aku menuliskan pesan untuk ortuku:”Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa membahagiakan kalian, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk membuat kalian bangga. Sampai saat itu tiba, aku ingin engkau memeluk ku seraya berkata, terima kasih Ya Allah…Engkau telah menitipkan kepada ku malaikat kecil sebagai anugerah terindahMu. Dimanapun dan kapanpun, kalian selalu ada di hatiku” tak terasa air mataku mulai menetes. Selang beberapa menit hpku bordering, ternyat telpon dari Mas Dani. Akhirnya dia sudah mengetahui jawaban dari semua itu dan semua itu sama dengan apa yang dikatakan nenekku. Dia ingin bertemu denganku untuk membahas semua itu dan aku mengiyakan. Setelah kututup telponnya, airmataku jatuh dan tak bisa terbendung lagi, ku coba untuk tegar tapi tetap saja aku tidak bisa menghentikan tangisku. Meskipun butuh waktu cukup lama, akhirnya tangisanku berhenti juga. Aku mulai berpikir dengan menggunakan akal sehatku, bukankah ini yang kuinginkan, semakin cepat masalah ini terselesaikan semakin cepat aku bisa memulai kehidupan yang baru. Ternyata semua itu hanya kata2 belaka, aku tetaplah seorang gadis yang lemah yang belum bisa tegar. Dalam hidup, kita harus dapat menentukan pilihan dan ini adalah pilihan yang terbaik, smoga aku bisa melaluinya..amin... Sejenak akupun hanya bisa berdoa dan memasrahkan semuanya pada Allah, Dia sudah menentukan yang terbaik untukku.
Hari ini hari sabtu, kuliahku libur jadi aku bisa bersantai sejenak. Aku mulai mengisi waktu luanku dengan membersihkan kamarkostku karna satu bulan lagi aku sudah boyongan ke rumah selamanya. tak terasa sudah jam 09.00 WIB, aku bergegas untuk mandi karna jam 10.00 WIB aku ada janji dengan Mas Dani untuk bertemu. Hari ini jam 10.15 WIB, akhirnya Mas Dani datang juga. Kupersilahkan dia masuk di ruang tamu. Sejenak suasana menjadi hening, kami berdua hanya terdiam. Akhirnya aku yang memulai percakapan, aku menanyakan bagaimana pendapat dari ortunya. Mas Dani menjelaskan kepadaku sesuai dengan pembicaraan antar dia dan ayahnya. “Memang hasilnya buruk jika harus dipaksakan untuk bersatu” kata Mas Dani. Dia tidak ingin suatu hari kelak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mendengar semua itu aku hanya bisa diam, mulutku seperti terkunci rapat. Aku harus gimana lagi, kalau Mas Dani saja percaya maka aku tidak bisa memaksa lagi. Aku hanya bisa mengiyakan tanpa bisa berkata-kata. Dia juga berpesan padaku agar hubungan kami tetaplah baik, tidak sebagai kekasih tapi sebagi teman. Kira-kira satu jam perbincangan berlangsung, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah secara baik2 karna memang hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi. Meskipun semua perkataannya begitu menyakitkan hatiku, entah mengapa air mataku tak ada yang jatuh setetespun, aku seperti mendapat kekuatan untuk menghadapi semua ini. Setelah semua selesai, Mas Dani pamit pulang dan kuantar sampai di depan teras. Sepeninggalan Mas dani, akupun mulai menangis lagi tapi tangisanku tak bertahan lama karna aku mulai bisa menata hatiku.
Satu bulan setelah berpisah dengan Mas Dani, kami sudah tidak pernah lagi berkomunikasi. Aku berusaha tidak memikirkannya karna belum tentu dia juga memikirkanku. Tanggal 22 September 2009 telah tiba. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagiku, karna hari ini adalah hari dimana aku diwisuda. Lautan manusia telah memenuhi tempat wisuda, nampak terlihat senyuman bahagia dimana-mana. Tidak ketinggalan, aku menghabiskan waktuku untuk berfoto-foto dengan teman2 dan kedua ortuku... “Ehm...aku puas dengan hari ini” batinku. Meskipun IPKku tidak sampai kumlot, tapi aku sudah cukup bersyukur mendapat IP 3 lebih.
Satu tahun setelah wisudaku, aku mencoba ikut tes CPNS di kota Surabaya, Alhamdulillah aku diterima dan ditempatkan di RSUD Dr. Soetomo. Aku tinggal di rumah Bulekku yang dekat dengan RS, jadi aku tidak perlu kost lagi.
Hari ini hari pertamaku masuk kerja dan aku harus masuk malam. Masuk malam di UGD adalah hal yang paling kubenci, karna banyak kecelakaan yang terjadi pada malam hari yang membuatku tidak bisa tidur.hehe... Ternyata tidak seperti dugaanku, sejak jam 21.00 WIB sampai jam 01.00 WIB tidak ada pasien yang datang. Aku mulai merebahkan badanku di bed pasien yang ada di UGD tapi mataku tidak mau terpejam. Kira-kira jam 03.15 WIB, tiba2 terdengar suara gaduh Ambulance di depan. Aku dan para perawat lain keluar dengan membawa brangkar, ternyata baru saja terjadi kecelakaan dan kelihatannya cukup serius. Kecelakaan tersebut menyebabkan satu orang luka parah dan tiga orang lain hanya luka ringan. Kamipun segera membawa masuk pasien dengan luka berat tersebut. Saat brangkar didorong memasuki UGD, aku melihat sesosok lelaki yang kukenal. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, “Subhanallah, bukankah ini adalah Mas Dani yang kukenal? Kenapa bisa sampai begini?” tanyaku dalam hati. Mas Danipun segera mendapatkan pertolongan pertama dan kemudian dilakukan observasi. Aku mencoba mencari jawaban atas segala pertanyaan yang ada di kepalaku, aku bertanya pada seorang koran yang terluka ringan tentang kronologi kecelakaan itu. Kecelakaan itu terjadi saat rombongan Mas Dani yang berjumlah empat orang sedang menuju ke Surabaya ditabrak oleh sebuah truk pengangkut barang karna pada saat itu supir truk sedang mengantuk. Setelah beberapa saat, mas Dani dipindah di ruang rawat inap.
Keesokan harinya, aku sudah melihat keluarga Mas Dani dari Malang sudah datang dan sedang menunggunya di kamar. Karna kecelakaan tersebut, kaki Mas Dani patah, hal itu bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk sembuh lagi. Sebelum aku pulang, aku menyempatkan menengoknya. Dia begitu kaget melihat kedatanganku, akupun menceritakan bahwa aku bekerja di sini. Setiap hari aku selalu menyempatkan untuk menjenguknya, kadang aku bergantian menjaganya karna aku tidak tega dengan kedua orang tuanya yang sudah tua. Setiap hari aku selalu menyiapkan segala kebutuhannya, aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan dan aku hanya ingin menolongnya sebagai seorang teman yang membutuhkan bantuan. Orang tuanya nampak begitu senang setiap kali aku datang, bahkan mereka sudah menganggapku sebgai putrinya sendiri.
Satu bulan sudah Mas Dani dirawat, Alhamdulillah perkembangan kesehatannya sangat cepat. Besuk dokter sudah mengizinkan dia untuk pulang tetapi harus tetap rutin kontrol.
Hari ini aku masuk malam sehingga aku bisa mengantar kepulangan Mas Dani. Sebelum pulang, ibu Mas Dani mengajakku duduk di depan kamar dan mengajakku berbincang-bincang. Ibunya sangat berterima kasih karna aku sudah merawat Mas Dani setiap hari. “Tidak usah berlebihan, Buk. Hal ini sudah sepatutnya saya lukakan sebagai seorang teman” jawabku pada ibu Mas Dani. Dalam kesempatan itu, ibunya Mas Dani berkata:” Andaikan waktu dapat diputar kembali, aku ingin sekali merestui hubungan kalian”. “Sudahlah Buk, jangan mengungkit masa lalu, sekarang Mas Dani dan saya sudah mendapatkan kehidupan kami sendiri2. Saya tahu bahwa kami tidak bisa bersatu” jawabku. “Iya Nak, maafkan semua kesalahanku yang dulu” kata ibu Mas Dani sambil memelukku. “Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu, Ibu tidak bersalah. Saya hanya hanya minta doa restu dari Ibu sekeluarga, Insyaallah minggu depan saya akan bertunangan. Saya hanya bisa mendoakan smoga Mas Dani juga mendapatkan seorang pendamping yang baik pula” kataku agak lirih.
Tepat jam 11.00 WIB, Mas Dani sekeluarga pulang. Sebelum pulang Mas Dani berterima kasih padaku dan mendoakanku semoga bahagia dengan pilihanku. Aku telah menceritakan semuanya pada Mas Dani. Aku juga berpesan pada Mas Dani untuk menjaga dirinya dan smoga dia kelak akan mendapatkan pendamping yang baik yang sesuai dengan keinginannya. Suasana haru mewarnai perpisahanku dan Mas Dani. Selamat jalan Mas Dani, inilah jalan yang terbaik bagi kita. Semoga kita bisa mendapatkan kebahagiaan kita masing2. Terima kasih engkau pernah menjadi orang yang berarti dalam hidupku dan engkau telah mengajarkanku bahwa cinta tidak harus memiliki tapi cinta adalah apa yang dapat kita beri untuk orang lain..
Rahma adalah nama panggilanku, aku adalah mahasiswa keperawatan di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Hari ini tanggal 28 Mei 2009 tepat jam 07.00 WIB aku tersadar dari lamunanku, hari ini adalah hari terakhir ujian praktekku. Hemmm, aku telah melewati hari-hari yang berat, smoga hari ini aku diberi kelancaran desusku. Jam 07.30 WIB dosen penguji telah datang, ujianpun segera dimulai. Aku mendapatkan giliran pertama kali. Sekitar 30 menit aku berada di dalam lab bergelimut dengan phantom boneka yang mirip dengan manusia dan dosen, rasanya lega banget ujianku telah selesai. Apapun hasilnya yang penting aku telah menyelesaikan tugasku pikirku.
Ba’da sholat magrib, aku sedang asyik dengan tugas-tugasku yang masih terbengkalai. Suara dering telepon berbunyi... Ku lihat temanku Gita memanggil. Tumben sekali Gita menelponku batinku, ternyata dia memeberitahuku kalau saudaranya ada yang ingin berkenalan denganku. Saudaranya bernama Dani, sudah bekerja dan berusia 25 tahun. Wahh... Hari ini aku mimpi apa za gumamku, dengan nada biasa akupun mengiyakan untuk mengasih no hpku pada saudaranya. Tidak lama hpku berbunyi lagi, ternyata ada nomor baru memanggil. Jantungku mulai berdegup dag dig dug.... ku tata hatiku untuk menerima telepon. Ternyata benar, telepon itu dari saudaranya Gita. Kamipun mulai mengobrol dan mengenal satu sama lain. Besok adalah malam minggu, Mas Dani mengajakku untuk ketemu,dia ingin mengenalku lebih jauh lagi dan akupun mengiyakan.
Jam 19.00 tetttt, aku telah siap dengan kaos merah favoritkudengan memakai celana jeans dan krudung merah. Tidak berapa lama Mas Dani datang dengan mobilnya. Mas Dani mengajakku di rumah makan lesehan yang lumayan terkenal di daerah Malang. Sambil menyantap hidangan yang disuguhkan, kamipun mulai bercerita tentang diri kami masing2. Mas Dani bilang padaku bahwa dia ingin mencari seseorang yang dapat menjadi calon pendamping hidupnya. Sejenak kalimat itu terasa asing bagiku, selama ini aku tak pernah membahas hal2 seperti itu meskipun dengan teman2ku di kampus atau di kost. Mas Dani adalah orang pertama kali yang membicarakan hal itu padaku. Aku hanya terdiam dan berpikir, aku adalah gadis yang masih berusia 21 tahun,aku masih kuliah, apakah aku sudah pantas untuk memikirkan hal itu????????? Kalimat ini yang selalu membayangi fikiranku sejak bertemu dengan Mas Dani. Hari2ku mulai terasa begitu berbeda, aku mulai memikirkan semua perbincanganku dengan Mas Dani kemaren malam. Aku merasa dia begitu sempurna buatku sampai2 semua kriteriaku ada pada dirinya, mulai dari wajah yang tampan, penampilan yang rapi,sopan, menyenangkan saat diajak bicara dan yang terpenting lagi dia udah bekerja. Memang tak dipungkiri bahwa dengan semua itu aku bakal dianggap gadis matre, tapi inilah hidup dan ini adalah pilihan hidupku..
Tiap hari Mas Dani selalu menelponku, kami selalu mengobrol lewat telpon. Hari berganti hari, perasaan suka mulai tumbuh di hatiku seiring dengan tumbuhnya rasa cemas yang juga membayang bayangi hari2ku. Aku masih bingung bagaimana harus menyikapi hal ini. Dia adalah orang pertama yang ingin mengajakku untuk serius padahal aku merasa aku masih kekanak –kanakan. Meskipun begitu dia tetap mau menerimaku dan akupun mulai belajar menjadi seseorang yang dewasa. Tiap hari tiada henti-hentinya aku berdoa. “Ya Allah semoga jika memang Mas Dani adalah jodohku maka mudahkanlah langkah kami, tapi jika dia memang bukan jodohku jauhkanlah dia dariku dan jauhkanlah aku daripadanya” itulah doa yang selalu kupanjatkan. Dalam hal ini aku adalah tipe orang yang lemah, aku tidak ingin tersakiti dan menyakiti karna keduanya sangatlah menyakitkan. Makanya aku ingin mendapatkan kejelasan apakah dia memang orang yang diciptakan untukku atau bukan, meskipun pemikiranku ini terlalu cepat. Aku pernah mendengar jika kita ragu dalam memilih sesuatu maka sholatlah dan mintalah kepada Allah untuk memberi petunjuk, Insyaallah akan dikabulkan.
Satu bulan berlalu, hubunganku dengan Mas Dani semakin dekat. Baru saja Mas Dani menelponku mengajak ke rumahnya karna ada acara pengajian dalam rangka ulang tahun keponakannya. Sempat aku menolaknya, tapi akhirnya aku mengiyakan. Jam 16.00 WIB nanti dia akan menjemputku dikost. Hemm... Hari ini adalah hari yang penting karna aku akan bertemu dengan semua keluarganya... Oh my God... Apakah aku bisa menghadapi hari ini?????? Yach... Ini adalah tantangan yang harus bisa ku takhlukkan, Katanya aku ingin menjadi dewasa???????? pikirku.. Inilah moment yang tepat untuk mengukur seberapa siapkah aku untuk menyongsong masa depan...
Tepat jam16.00 WIB Mas Dani sudah berada di depan kost untuk menjemputku. Dia masih memakai seragam karna baru saja pulang dari kantor. Akupun segera menghampirinya. Hari ini aku sengaja berdandan biar nampak cantik di depannya dan keluarganya.. Saat tiba di depan rumahnya, jantungku mulai berdetak kencang.... aku mulai grogi. Setelah turun dari mobil, dia menyuruhku untuk masuk dan dia mengikutiku dari belakang. Waowwww... Keluarganya sudah berkumpul, aku mulai menyalami mereka satu persatu sambil memaksa mulutku untuk selalu tersenyum. Aku tak tahu harus berbuat apa, aku seperti orang aneh... Akhirnya aku ke depan dan membantu menyiapkan kue buat para undangan. Ternyata undangan yang hadir cukup banyak. Tak sengaja aku mendengar salah seorang undangan bertanya pada ibunya Mas Dani. Ibu itu bertanya:” Ini to calonnya Dani?”. Aku mencoba mendengarkan dengan baik. Tapi alangkah kagetnya aku saat mendengar jawaban dari ibunya Mas Dani. Ibunya bilang kalau aku hanya teman putrinya alias teman dari adiknya Mas Dani. Hatiku kecewa sekali mendengar hal itu. Aku seperti tidak dianggap sama sekali disana, tapi aku mencoba untuk berpikiran positif dan mungkin ibunya Mas Dani punya alasan berbicara seperti itu. Setelah semua undangan datang, aku pergi ke dapur untuk membantu pekerjaan di sana. Apa yang bisa aku kerjakan ya kukerjakan temasuk membersihkan piring dan sendok dan menata nasi buat para undangan. Selang beberapa menit Mas Dani mencariku dan mengajakku untuk makan, setelah makan kamipun sempat mengobrol sebentar sampai jam 20.30 dan akupun pamit untuk pulang. Setelah berpamitan dan bersalaman dengan keluarga Mas Dani, akupun diantar pulang sampai kost. Huh lega rasanya, ternyata aku bisa melaluinya meskipun aku sedikit kecewa dengan sikap ibunya yang sepertinya tidak nyaman dengan kedatanganku.
Pagi ini mentari bersinar dengan cerah... hari ini Mas Dani mau main ke rumah dan dia adalah orang pertama yang akan ku kenalkan pada orang tuaku karna selama ini aku tidak pernah mengenalkan siapapun pada ortuku. Seperti janjinya, dia datang jam 10.00 WIB. Ortuku ikut menyambut kedatangannya dan mengobrol sebentar di ruang tamu kemudian meninggalkan kami berdua. Mas Dani bilang kalau dia menyukai suasana rumahku yang dingin dan sejuk karna rumahku memang terletak di desa dan dikelilingi oleh pepohonan yang masih rindang. Jam dindingku menunjukkan jam 11.00, Mas Dani pamit untuk pulang karna dia harus mempersiapkan keberangkatannya besuk ke Surabaya untuk acara diklat selama 2 minggu. Hari ini aku sengaja menyuruhnya main ke rumah karna setelah ini kami tidak akan bertemu selama 2 minggu, selain itu aku juga ingin mengetahui pendapat ortuku tentang Mas Dani.
Satu minggu berlalu begitu lambat, meskipun Mas Dani begitu sibuk dengan kegiatan diklatnya, dia selalu menyempatkan untuk menelponku hingga suatu hari muncullah masalah yang muncul berawal dari perbincangan kami mengenai hari kelahiran. Ternyata keluarga Mas Dani masih kejawen, mereka masih melakukan penghitungan hari kelahiran. Kamipun penasaran dengan hari kelahiran kami masing2. Masalah itu muncul saat jumlah dari hari kelahiran kami adalah 25. Sebenarnya aku dan MasDani tidak tahu arti dari angka 25 itu, kami memutuskan untuk membahasnya setelah Mas Dani pulang dari Surabaya. Entah mengapa sejak saat itu perasaanku tidak enak. Akhirnya aku putuskan untuk bertanya kepada nenekku tentang arti dari pertemuan hari lahir yang jumlahnya 25 karna mungkin saja nenekku mengerti tentang perhitungan orang2 Jawa. Ternyata perasaanku benar, sebuah pernikahan yang memiliki jumlah 25 adalah tidak baik. Kata orang2 Jawa dulu, rumah tangganya tidak akan langgeng karna selalu bertengkar dan salah satu bisa sakit-sakitan atau bahkan meninggal. Aku begitu syok mendengar hal itu karna kata Mas Dani keluarganya masih percaya tentang hal itu dan Mas Dani sendiri juga percaya.. Sejak saat itu aku mulai menghindar, dua hari tidak ada komunikasi di antara kami dan selama ini hal itu tidak pernah terjadi. Setelah kupikir2, aku tidak mau tersiksa dengan keadaan yang belum tentu terjadi, bisa saja keluarganya mengartikan lain dan tidak seburuk apa yang kupikirkan. Akhirnya akupun mulai menjalin komunikasi lagi, aku berpuara-pura seperti tidak terjadi apa2.
Dua minggu berlalu, akhirnya Mas Dani pulang dari Surabaya. Keesokan harinya aku menghubungi Mas Dani untuk mengajak ketemu dan membicarakan masalah itu, tapi entah mengapa Mas Dani selalu menghindar dengan alasan masih sibuk. Aku semakin tidak tenang, aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut, kalau memang harus berakhir aku ingin berpisah dengan baik2. Berulangkali aku menghubungi Mas Dani dan selalu saja membicarakan hal itu hingga dia bosan mendengarnya dan akupun juga bosan membahasnya. Lama tak ada kabar dari Mas Dani, aku memutuskan untuk kembali konsentrasi pada kuliahku yang tinggal menyelesaikan tugas akhir. Besuk adalah dateline pengumpulan Karya Tulis Ilmiah, sedangkan aku masih belum membuat lembar persembahan. Entah kenapa hari ini aku begitu terbawa perasaan sampai2 dalam lembar persembahan, aku menuliskan pesan untuk ortuku:”Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa membahagiakan kalian, tapi aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk membuat kalian bangga. Sampai saat itu tiba, aku ingin engkau memeluk ku seraya berkata, terima kasih Ya Allah…Engkau telah menitipkan kepada ku malaikat kecil sebagai anugerah terindahMu. Dimanapun dan kapanpun, kalian selalu ada di hatiku” tak terasa air mataku mulai menetes. Selang beberapa menit hpku bordering, ternyat telpon dari Mas Dani. Akhirnya dia sudah mengetahui jawaban dari semua itu dan semua itu sama dengan apa yang dikatakan nenekku. Dia ingin bertemu denganku untuk membahas semua itu dan aku mengiyakan. Setelah kututup telponnya, airmataku jatuh dan tak bisa terbendung lagi, ku coba untuk tegar tapi tetap saja aku tidak bisa menghentikan tangisku. Meskipun butuh waktu cukup lama, akhirnya tangisanku berhenti juga. Aku mulai berpikir dengan menggunakan akal sehatku, bukankah ini yang kuinginkan, semakin cepat masalah ini terselesaikan semakin cepat aku bisa memulai kehidupan yang baru. Ternyata semua itu hanya kata2 belaka, aku tetaplah seorang gadis yang lemah yang belum bisa tegar. Dalam hidup, kita harus dapat menentukan pilihan dan ini adalah pilihan yang terbaik, smoga aku bisa melaluinya..amin... Sejenak akupun hanya bisa berdoa dan memasrahkan semuanya pada Allah, Dia sudah menentukan yang terbaik untukku.
Hari ini hari sabtu, kuliahku libur jadi aku bisa bersantai sejenak. Aku mulai mengisi waktu luanku dengan membersihkan kamarkostku karna satu bulan lagi aku sudah boyongan ke rumah selamanya. tak terasa sudah jam 09.00 WIB, aku bergegas untuk mandi karna jam 10.00 WIB aku ada janji dengan Mas Dani untuk bertemu. Hari ini jam 10.15 WIB, akhirnya Mas Dani datang juga. Kupersilahkan dia masuk di ruang tamu. Sejenak suasana menjadi hening, kami berdua hanya terdiam. Akhirnya aku yang memulai percakapan, aku menanyakan bagaimana pendapat dari ortunya. Mas Dani menjelaskan kepadaku sesuai dengan pembicaraan antar dia dan ayahnya. “Memang hasilnya buruk jika harus dipaksakan untuk bersatu” kata Mas Dani. Dia tidak ingin suatu hari kelak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Mendengar semua itu aku hanya bisa diam, mulutku seperti terkunci rapat. Aku harus gimana lagi, kalau Mas Dani saja percaya maka aku tidak bisa memaksa lagi. Aku hanya bisa mengiyakan tanpa bisa berkata-kata. Dia juga berpesan padaku agar hubungan kami tetaplah baik, tidak sebagai kekasih tapi sebagi teman. Kira-kira satu jam perbincangan berlangsung, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah secara baik2 karna memang hubungan kami tidak bisa dilanjutkan lagi. Meskipun semua perkataannya begitu menyakitkan hatiku, entah mengapa air mataku tak ada yang jatuh setetespun, aku seperti mendapat kekuatan untuk menghadapi semua ini. Setelah semua selesai, Mas Dani pamit pulang dan kuantar sampai di depan teras. Sepeninggalan Mas dani, akupun mulai menangis lagi tapi tangisanku tak bertahan lama karna aku mulai bisa menata hatiku.
Satu bulan setelah berpisah dengan Mas Dani, kami sudah tidak pernah lagi berkomunikasi. Aku berusaha tidak memikirkannya karna belum tentu dia juga memikirkanku. Tanggal 22 September 2009 telah tiba. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagiku, karna hari ini adalah hari dimana aku diwisuda. Lautan manusia telah memenuhi tempat wisuda, nampak terlihat senyuman bahagia dimana-mana. Tidak ketinggalan, aku menghabiskan waktuku untuk berfoto-foto dengan teman2 dan kedua ortuku... “Ehm...aku puas dengan hari ini” batinku. Meskipun IPKku tidak sampai kumlot, tapi aku sudah cukup bersyukur mendapat IP 3 lebih.
Satu tahun setelah wisudaku, aku mencoba ikut tes CPNS di kota Surabaya, Alhamdulillah aku diterima dan ditempatkan di RSUD Dr. Soetomo. Aku tinggal di rumah Bulekku yang dekat dengan RS, jadi aku tidak perlu kost lagi.
Hari ini hari pertamaku masuk kerja dan aku harus masuk malam. Masuk malam di UGD adalah hal yang paling kubenci, karna banyak kecelakaan yang terjadi pada malam hari yang membuatku tidak bisa tidur.hehe... Ternyata tidak seperti dugaanku, sejak jam 21.00 WIB sampai jam 01.00 WIB tidak ada pasien yang datang. Aku mulai merebahkan badanku di bed pasien yang ada di UGD tapi mataku tidak mau terpejam. Kira-kira jam 03.15 WIB, tiba2 terdengar suara gaduh Ambulance di depan. Aku dan para perawat lain keluar dengan membawa brangkar, ternyata baru saja terjadi kecelakaan dan kelihatannya cukup serius. Kecelakaan tersebut menyebabkan satu orang luka parah dan tiga orang lain hanya luka ringan. Kamipun segera membawa masuk pasien dengan luka berat tersebut. Saat brangkar didorong memasuki UGD, aku melihat sesosok lelaki yang kukenal. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri, “Subhanallah, bukankah ini adalah Mas Dani yang kukenal? Kenapa bisa sampai begini?” tanyaku dalam hati. Mas Danipun segera mendapatkan pertolongan pertama dan kemudian dilakukan observasi. Aku mencoba mencari jawaban atas segala pertanyaan yang ada di kepalaku, aku bertanya pada seorang koran yang terluka ringan tentang kronologi kecelakaan itu. Kecelakaan itu terjadi saat rombongan Mas Dani yang berjumlah empat orang sedang menuju ke Surabaya ditabrak oleh sebuah truk pengangkut barang karna pada saat itu supir truk sedang mengantuk. Setelah beberapa saat, mas Dani dipindah di ruang rawat inap.
Keesokan harinya, aku sudah melihat keluarga Mas Dani dari Malang sudah datang dan sedang menunggunya di kamar. Karna kecelakaan tersebut, kaki Mas Dani patah, hal itu bisa memakan waktu berbulan-bulan untuk sembuh lagi. Sebelum aku pulang, aku menyempatkan menengoknya. Dia begitu kaget melihat kedatanganku, akupun menceritakan bahwa aku bekerja di sini. Setiap hari aku selalu menyempatkan untuk menjenguknya, kadang aku bergantian menjaganya karna aku tidak tega dengan kedua orang tuanya yang sudah tua. Setiap hari aku selalu menyiapkan segala kebutuhannya, aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan dan aku hanya ingin menolongnya sebagai seorang teman yang membutuhkan bantuan. Orang tuanya nampak begitu senang setiap kali aku datang, bahkan mereka sudah menganggapku sebgai putrinya sendiri.
Satu bulan sudah Mas Dani dirawat, Alhamdulillah perkembangan kesehatannya sangat cepat. Besuk dokter sudah mengizinkan dia untuk pulang tetapi harus tetap rutin kontrol.
Hari ini aku masuk malam sehingga aku bisa mengantar kepulangan Mas Dani. Sebelum pulang, ibu Mas Dani mengajakku duduk di depan kamar dan mengajakku berbincang-bincang. Ibunya sangat berterima kasih karna aku sudah merawat Mas Dani setiap hari. “Tidak usah berlebihan, Buk. Hal ini sudah sepatutnya saya lukakan sebagai seorang teman” jawabku pada ibu Mas Dani. Dalam kesempatan itu, ibunya Mas Dani berkata:” Andaikan waktu dapat diputar kembali, aku ingin sekali merestui hubungan kalian”. “Sudahlah Buk, jangan mengungkit masa lalu, sekarang Mas Dani dan saya sudah mendapatkan kehidupan kami sendiri2. Saya tahu bahwa kami tidak bisa bersatu” jawabku. “Iya Nak, maafkan semua kesalahanku yang dulu” kata ibu Mas Dani sambil memelukku. “Tidak ada yang perlu dimaafkan Bu, Ibu tidak bersalah. Saya hanya hanya minta doa restu dari Ibu sekeluarga, Insyaallah minggu depan saya akan bertunangan. Saya hanya bisa mendoakan smoga Mas Dani juga mendapatkan seorang pendamping yang baik pula” kataku agak lirih.
Tepat jam 11.00 WIB, Mas Dani sekeluarga pulang. Sebelum pulang Mas Dani berterima kasih padaku dan mendoakanku semoga bahagia dengan pilihanku. Aku telah menceritakan semuanya pada Mas Dani. Aku juga berpesan pada Mas Dani untuk menjaga dirinya dan smoga dia kelak akan mendapatkan pendamping yang baik yang sesuai dengan keinginannya. Suasana haru mewarnai perpisahanku dan Mas Dani. Selamat jalan Mas Dani, inilah jalan yang terbaik bagi kita. Semoga kita bisa mendapatkan kebahagiaan kita masing2. Terima kasih engkau pernah menjadi orang yang berarti dalam hidupku dan engkau telah mengajarkanku bahwa cinta tidak harus memiliki tapi cinta adalah apa yang dapat kita beri untuk orang lain..
Selasa, 27 Juli 2010
BUBUR CINTA
cericit burung gereja mengusik pagi ini.Mungkin juga mengiringi langkah kerianganku mendorong gerobak keliling kampung berisi bubur . dengan langkah agak tertatih kupaksakan untuk terus melangkah .Sesekali aku mengetuk mangkuk untuk memanggil para pembeli.Nikmat juga meski terasa berat ." ting!!!!Ting!!!!.Suara lengkingan mangkok yang aku ketuk . merayu para Ibu-Ibu untuk membelikan sarapan untuk bayi-bayinya tercinta.Ku hentikan berobagku ketika ada yang membeli bubur ." Neng beli buburnya".Ku lempar senyum semanis mungkin. Pembeli adalah raja, sedangkan aku sebagai penjual adalah pelayan.Akan aku berikan pelayanan terbaik kepada pembeli supaya mereka puas dan tentunya mau membeli bubur lagi.Menjual bubur adalah salah satu aktifitasku disela-sela kesibukan kuliah dan mengajar anak-anak di madrasah.Aku hanya membantu Bibi yangh mulai renta di makan usia.Tak tega juga membiarkan bibi berjalan tertatih mennjajakan bubur .Sejak Ibu meninggalkan kami semua.Kammi tiga bersaudara tinggal dengan bibi.Bibi yang menjadi orang tua kami.Makanya sepertinya kurang pantas kalau tak membantunya.Meski pun aku seorang wanita aku mersa mampu untuk melakukan itu.Terasa juga langkah ini terasa berat.ternyata pagi telah mengantarkanku untuk bersua denag para pembeli.Tak ada salahnya aku rehat sejenak.Kusandarkan gerobak. ku arahkan langkahku menuju salah satu pohon rindang . aku ingin sejenak menghirup udara alam.Biarlah sejenak ku nikmati karunia Allah yang tak terkira indahnya ini.Kusandarkan tubuhku pada pohon itu.Kuhirup udara segar pagi ini. "Ahhh nikmatnya!!!!!".
"Teh beli bubur"ada anak kecil yang mau membeli bubur.
" Ya, sebentar ya adik manis"
ku hampiri anak kecil itu. to be continued
"
Sabtu, 03 Juli 2010
Laptop
Di saat semburat mulai tampak menguning di ufuk .Di saat aku mulai khawatir karena aku sudah terlambat untuk mengantar kan koran .Dengan sepeda dia datang agak tergesa.
“ Maat terlambat Nif.Tadi aku bangunya kesiangan.”
"Ya, sudah nggak apa-apa kok, sepertinya sudah agak terlambat nih.Yuk kita langsung berangkat saja.Semua Koran ini harus sudah terbagikan kepada para pelanggan sebelum , mereka berangkat kerja”
Dengan mengendarai sepeda, aku mengajak Ahmad mengelilingi komplek perumahan yang letaknya tidak terlalu jauh.Aku berusaha mengayuhnya lebih cepat supaya aku bisa mengantarkan koran tepat pada waktunya.Sudah jadi kerjaan rutin setiap pagi,aku harus mengantar Koran kepada para pelanggan di sekitar komplek itu.Hasil yang ku dapat lebih dari cukup,karena terkadang para pelanggan yang rata-rata orang berpunya memberi uang jasa kepadaku,meski aku sudah mendapat bayaran dari agen koran setiap bulan.Akhirnya dengan sedikit kerja keras. pekerjaan kelar tepat pada waktunya. Tersisa sedikit tenaga . Ku bawa tubuh in berteduh di taman komplek.
" Mad, gimana nih rasanya membatu mengedarkan koran?" tanyaku di sela-sela istirahatku.
" Wuihhh,capek banget nifffff, tapi menyenangkan penuh tantangan!!!! aku jadi semakin bersemangat nif!!!
"Yah , sip klo gitu!!!!
“Oh, ya kamu nggak malu kalau anak-anak komplek melihatmu mengantarkan koran?”
"Nggak kok nif, saya nggak akan malu selama yang aku lakukan adalah baik dan tentunya halal. Dan tentunya penuh tantangan"
" Kalau Orang tua mu?"
"Nggak apa-apa kok.Aku tadi sudah minta izin pada orang tuaku.Dan orang tuaku mengizinkanku.Katanya biar aku belajar mandiri.Tenanglah kamu tak usah mengkhawatirkan semua itu.Yang jelas aku senang menjalani semua ini.”
“ Trus , apa yang ingin kamu dapatkan dari mengantar koran ini?”
“ Ah kamu ini nif, nanya kayak wartawan aja. He he he. Ya pastinya aku ingin belajar mandiri.ingin bisa merasakan susahnya mencari rezki. Dan tentunya hasil yang kudapatkan akan aku belikan laptop”
" Ha!!!!!" terkejutnya aku bukan kepalang.
“ Beli laptop? Nggak salah Mad. Butuh berapa tahun kamu bisa mewujudkannya.?.Kamu kan tinggal minta sama Ayah mu?"
"Nggak ah Nif,aku ingin membeli laptop dari jerih payahku sendiri.Yah aku sudah ada sedikit tabungan untuk tambah-tambah.”
“ Ck. Ck .ck. Kamu memang bersemangat Mad”
“ Ya, kita memang harus tetap bersemangat. Tapi jujur Nif semangatku ini karena kamu”
“Kok bisa?”
“Aku sering memperhatikanmu ketika sedang mengantar Koran ke rumahku.Setiap pagi kamu sudah bersepeda berkeliling komplek mengatar koran.Aku perhatikan kamu begitu menikmati pekerjaanmu itu.Usiamu sepantar denganku, tapi kamu sudah bekerja untuk memenuhi kebutuhanmu sendiri.Sedangkan aku kalau butuh sesuatu tinggal minta sama orang tua.Kadang aku berpikir sepertinya nikmat .Ada kepuasan ketika kita membeli sesuatu yang kita inginkan dengan jerih payah kita sendiri”
"Iya, bagiku nikmat nggak nikmat, puas nggak puas aku harus melakukan ini Mad.Karena memang aku harus melakukan ini.Kalau tidak ,Nggak mungkin aku bisa tetap sekolah.Nggak mungkin aku bisa membantu meringankan beban orang tua Mad.?”
“Nif, aku benar- benar salut sama kamu.Nggak salah aku berteman sama kamu”
“He hehehe” aku hanya nyengir mendengar Ahmad berbicara seperti itu.
“Ya sudah mari kita bersama-sama berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan,dan mari kita bersama-sama untuk mewujudkan cita-cita kita"
“ Siap!!!!!”
Kami meluncur pulang setelah cukup beristirahat melepas lelah di Taman komplek.Tadi selama mengantar koran ada beberapa orang pelanggan yang memberi uang jasa.Nanti saja aku hitung di rumah dan nantinya akan di bagi dua dengan Ahmad.Sampai di rumah aku mengajak Ahmad ke kamar aku lagi sibuk menghitung uang jasa yang di beriakn oleh para pelanggan.Sementara ku biarkan Ahmad meliaht –lihat isi kamarku.Mungkin dia heran melihat keadaan kamarku yang berbeda jauh dengan kamarnya yang bersih dan lapang.Sedangkan kamarku pintunya saja hanya terbuat dari tirai.
"Nihh, mad, bagian mu, simpan aja, mudah-mudahan uangnya cepat ngumpul banyak, dan cepat bisa beli laptop he he he"
“Apa Nif?”
“Uang jasa dari para pelanggan Koran “
" Nggak ah, ini kan yang dapat uang kan kamu, aku nanti saja kalau jatah gaji bulanan mengantar koran sudah di bagi"
" Nggak apa-apa,terima saja, kamu kan tadi juga ikut mengantar koran ,jadi kamu juga berhak mendapat uang ini, ayo terima saja"
" Ya,sudah kalau begitu"
" Nah gitu dong,,!"
"Nif ini apa kok banyak kertas berserakan?Tanya Ahmad,ketika melihat tumpukan kertas berserakan di kamarku
“Ahhhh, bukan apa-apa .Cuma lagi iseng nulis cerpen aja kok?”
“Jadi,selama ini kamu suka nulis cerpen ? kenapa sih nggak cerita?”
“ Wah, malu ahhh”
“ Kenapa harus malu. Cerpen mu bagus kok.Bener loh, bagus sekali.Aku takjub.Aku baru nyadar ternyata kamu punya bakat terpendam.Ayo dong terus kembangkan"
"Insyaallah Mad.”
" Wah ternyata sudah banyak cerpen yang kamu buat"
" he he he .Lumayan .Tuh sudah meneumpuk.Aku sudah tulis sejak kelas satu SMP dan nggak kerasa sekarang sudah kelas tiga SMP.Ada kepuasan, ada kenikmatan Mad ketika kegundahanku tertuang dalam sebuah tulisan.”
" Gimana kalau nanti sore kamu ke rumah, trus kamu ketik di komputer ku. Entar kalau sudah jadi kita kirim vie E-mail aja, gimana?”
"Boleh, tapi malu .”
"Ah ,jangan sungkan-sungkan. Nggak ada yang melarang kok.Santai saja"
" Boleh lah.Tapi nanti siang kamu kesini lagi ya"
" Ya, nanti siang aku datang lagi ke rumahmu"
********
Aku terlelap.Yah rasa lelah ini memang tak bisa di hilangkan kecuali dengan terlelap.Aku terjaga setelah di bangunkan Ibu.Dan Ahmad sudah duduk di dekatku.
“ Hey, kok malah tidur.Di tungguin juga”
“Mang ada apa Mad”.Jawabku sekenanya, sambil mengumpulkan serpihan-serpihan kesadaran setelah hilang karena terlelap.
“Ahhhh, parah kamu Nif.Katanya mau ke rumahku”
“Astaghfirullah!!!!, maaf aku lupa!”
“Belum sholat dhuhur ,ya.Sholat dulu gih, biar aku pilih-pilih cerpenmu yang akan di tulis”
“ Ya sudah klo gitu tunggu sebentar ya, aku sholat dulu.”
Aku segera beranjak. Menunaikan kewajibanku.Sepertinya Ahmad masih sibuk memilah dan memilih cerpen-cerpenku yang sengaja aku tumpuk di meja belajarku.
“Dah, yuk langsung ke rumah, aku sudah dapat kok cerpen yng meburutku bagus untuk di ketik.”
Kami langsung bersepeda. Meluncur ke rumah Ahmad yang gedongan itu.Pengalaman pertama bagiku bisa masuk ke rumah gedongan.Biasanya aku hanya menyaksikan dari luar saja.Kini aku bisa masuk ke dalamnya.
Ahmad langsung mengajakku ke kamarnya.Wuihhhhh luarbiasa.Kamarnya begitu luas.Bersih dan Rapi.Ahmad langsung menyalakan computer. Dan menyilakan aku untuk menyalin naskah cerpen yang telah aku tulis ke dalam computer.Dia membiarkanku meluapkan rasa kedalam tulisan.Membiarkanku larut dalam tokoh yang aku ceritakan.Dalam menulis aku seperti berpindah ke negeri antah barantah.Aku seperti dalang yang memainkan tokoh-tokoh pewayangan. Begitu mengalirr. Nikmat!!!!!!
“Sudah beres , Nif”.Ahmad membuyarkan kenikmatan itu.
“Ah, eh sudah sudah Mad. Tinggal di edit saja”.Jawabku tergagap karena kaget.
Ahmad membantuku mengedit .Setelah merasa yakin sudah benar.Ahmad menyambung ke internet.Membuatkan aku sebuah alamat Email.Dan mengirimkan cerpenku ke salah satu media online yang menerima karya-karya cerpen.Aku langsung pamit pulang dan melupakan semua itu. Aku tak berani berharap kalau cerpen ku akan di muat di media itu. Yah mending aku melupakannya.Dan kembali menulis cerpen-cerpen yang lain.
************
Masa liburan sekolah sudah hampir usai .Aku tak tahu nasib cerpenku yang telah ku kirim beberapa waktu yang lalu.Ahmad pun menggelengkan kepala ketika aku tanya nasib cerpenku.Yah bagiku aku tak terlalu mempermasalahkan semua itu. Memang dari awal aku sudah berusaha menerima hal terburuk yang akan terjadi.Tapi kesedihan itu segera sirna ketika ku lihat Ahmad tetap bersemangat dan rutin membantuku mengantarkan Koran.Kami sempatkan beristirahat sejenak di sebuah taman di area komplek, setelah selesai mengantarkan Koran.
“Tetap semangat ya Nif. Teruslah berjuang meski cerpenmu belum di muat”
“Makasih ,Mad.Aku malah tercambuk untuk lebih banyak menulis.Oh ya dah berapa uang terkumpul uuntuk beli laptop?”
“Wah, dah lumayan.Aku dah Nggak kuat ingin segera beli laptop”
“Eh ,Mad kamu kan dah punya Komputer di rumah, kok masih mau beli laptop sih”
“Entar aja aku kasih tahu ! he he he he”
“ Walah kok main rahasia-rahasian sihhh”
Ahmad malah nyengirr.
“Pulang yuk Nif.Kali ini langsung ke rumahku ya”
“Boleh, sekalian nebeng nulis lagi ya!”
“Kapan saja Hanif mau nulis ,silakan .Pintu kamarku selalu terbuka untuk sahabatku ini”
Kami pun tersenyum meninggalkan taman.Meluncur ke Rumah Ahmad.Kali ini aku sudah tak terlalu canggung Ke rumah Ahmad.Kami lansung menuju kamar Ahmad.Dia langsung menyalakan Komputer .Sepertinya dia lagi update status di FB.Aku langsung minta Izin mandi untuk menyegarka badan.Baru mau menyiram air. Ada yang mengedor pintu.
“ Nif, sudah belum?.Keluar sebentar!. Ada sesuatu yng harus kamu ketahuai sekarang”
“ Bentar Mad, Ini juga baru mau mulai mandi”
“.Mandinya nanti saja.” Terus saja Ahmad memaksaku .
“Ya, ya sebentar.”
Akupun keluar dengan bersarung handuk.Ahmad mengajakku menuju kamarnya setengah berlari.
“Nih baca”. Dia menuntunku ke layar computer.
Ku baca dengan seksama sebuah tulisan yang terpampang jelas di sebuah majalah online.Aku merasa sangat mengenal tulisan ini.
"Mad inikan cerpen saya?"
" Iya itu memang cerpen kamu yang di kirirm beberapa waktu yang lalu.Cerpenmu di muat Nif!!!"
Aku malah melongo.Heran bercampur tak percaya
"Kok malah bengong!!!.Benar kan kalau kamu ini benar-benar berbakat.Buktinya karya kamu di muat" .Tak bisa Ku ungkapkan betapa bahagianya aku. Bahagia karena cerpenku dimuat. Bahagia karena mempunyai sahabat sebaik Ahmad.
***********
Pagi ini aku sendiri mengantar koran ke para pelanggan.Ku tunggu dari tadi ,tapi Ahmad tak kunjung datang.Terpaksa aku harus berangkat sendiri.Tak tahulah.Kenapa Ahmad tidak datang pagi ini. Apa semangatnya sudah lemah?. Apa dia sudah putus asa, karena begitu berat menjalani kehidupan sebagai pengantar koran."Ahh, dasar orang kaya, gitu saja sudah menyerah".Gerutuku.Apa jangan –jangan aku telah membuat dia tersinggung.Sehingga dia tak mau lagi bersahabat denganku.Aku merasa kehilangan sahabatku.Biasanya setelah selesai mengantar koran kami rehat di taman komplek.Bercanda ria.Ku kayuh sepedaku ke Taman . Berharapa Ahmad ada di sana.Nihil.Tak ada sesosok bayang Ahmad di sana.Timbul rasa khawatir setelah tak juga ku dapatkan dimana keberadaan Ahmad.Aku putuskan Ke rumahnya.Kebetulan ada pembantunya.
"Bi, ada Ahmad nggak Bi?"
"Nggak ada Nif. Baru saja dia keluar"
"Dia bilang nggak pergi kemana?"
"Nggak,dia cuma mau bilang pergi ke rumah temannya"
"Ohhh,gitu, Bi. Ya sudah kalau gitu aku pamit dulu ya Bi"
"Ya, Nif"
Kemana Ahmad ini.Pergi kemana dia.Aku pun bergegas pulang karena tugasku mengantar koran sudah selesai.Aku nggak terlalu terburu-buru,karena hari ini masih masa-masa liburan sekolah.Aku nggak harus ke sekolah hari ini.Segera sandarkan sepeda ku di pagar rumah.Aku langsung menuju sumur di belakang rumah.Mandi pagi hari setelah mengantar koran akan terasa segar.Aku kaget ketika ku buka gorden lusuh yang menjadi pintu kamarku.
"Lho Ahmad?Kok kamu di sini?.Bukankah kamu tadi pergi ke rumah temanmu?"
"Bukankah kamu ini temanku juga?"
"Kemana saja, kok tadi nggak datang?"
“He he he.Semalem aku di ajak Bapak jalan-jalan.Pulangnya agak larut malam.Jadinya tadi habis sholat subuh aku ketiduran.Pas aku kesini ternyata kamu sudah berangkat.”
“Kirain, kamu sudah nggak mau lagi ikut menganyar koran?”
“Ya, nggak lah!.Ahmad sahabatmu ini akan terus bersemangat!!!!!!!!.Oh.... ya Nif. Aku pulang dulu ya. Assalamualikum.”.
Aku benar-benar aneh melihat sikap Ahmad hari ini.Tak biasanya Dia buru-buru pulang kalau sedang main ke rumah.Ah, nanti siang akan aku tanyakan padanya.sebenarnya apa yang terjadi dengannya.Belum sempat ku ganti baju sehabis mandi tadi. Rasa kagetku karena Ahmad tiba-tiba sudah berada di kamarku membuatku lupa untuk ganti baju.Ku buka lemari baju.Ada yang aneh.Ada kotak berhias kertas kado terbungkus rapi teronggok di antara tumpukan bajuku.Segera ku ambil karena penasaran.Terselip kertas disana.
“Untuk Sahabatku Hanif Fadhilah.
Tetap semangattttttt!!!!!.Maaf ya tadi pagi aku nggak ikut mengantar koran. He he he.Nif sahabatku yang pualing baik.Nih aku ada sesuatu untukmu.Bukalah.Sebelumnya aku sangat berhasrat untuk memilikinya,tapi setelah aku tahu kalau kau punya potensi hebat untuk menjadi penulis,aku jadi berpikir ulang untuk memilikinya.Aku merasa kamu orang yang paling tepat untuk memilikinya.Gunakan. Rawat baik-baik..Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menjadi penulis hebat.Sehebat Habiburahman el Sirazy.Namamu akan tetap abadi karena karya-karyamu. Teruslah berjuang sahabatku.semangatttt!!!!!!!!
Sabtu, 26 Juni 2010
MEMELUK ASA
Semburat sang surya menguning di ufuk sana.Udara nan dingin menusuk tulang sentiasa menggoda jiwa-jiwa untuk terlelap,tapi aku harus bergegas berkejaran dengan sang surya,sebelum sang surya mengurasa habis butir-butir keringat dalam jasad ini.Ini hari ketiga aku mengerjakan tugasku mencangkul di sawah lik Parto.Di sela -sela penantianku menunggu pengumuman kelulusan,aku gunakan untuk bekerja mencari tambahan untuk biaya sekolah.Ayah dan ibuku sudah tak mampu untuk membiayai sekolahku hinggasekolah menengah atas.Aku juga tak tega,melihat kondisi fisik orang tuaku,yang mulai terlihat kerut-kerut di sekujur tubuhnya.Tak akan aku permasalahkan kondisi keluargaku yang pas-pasan ini,aku sudah merasa kuat unutk menaggung segala keperluan hidupku,termasuk membiayai sekolahku nanti.Tak akan kau sesali terlahir dari keluarga yang pas-pasan.Aku malah bersyukur terlahir dari rahim ibuku,dengan segala kekurangan yang aku rasakan membuatku menjadi pribadi yang kuat,mandiri ,tidak bergantung pada orang lain."ehmmmm, nikmatnya bersyukur***********
Ini hari ke empat aku menjadi buruh cangkul di sawahnya Lek Parto.Aku harus segera menyelesaikannya.dan berpindah ke tempat yang lain.Aku harus bisa mengumpulkan uang sebanyak mungkin.Waktuku cuma dua minggu untuk memngumpulkan uang.Sang surya sudah sepenggalan naik,sinarnya mulai menyengat tubuhku.Sebentar lagipasti akan membakar tubuhku,dan menguras keringat dalam jasad ini.Di pematang sawah ,berjaklan Sri anaknya Lek Parto,yang usianya sepantar denganku.Dia juga sedang menunggu penguguman kelulusan.Yang beda dia tak harus bersusah payah,bergelut dengan lumpur sawah,karrena menmang ayah nya juragan di desa ku.Dia menuju ke arahku.membawa serantang makanan untuk sarapan.Selama aku mencangkul di sawah bapaknya.Dia rutin mengantar sarapan ke sawah."Ahhh, aku tak mau gede rasa,mungkin hanya dia yang punya waktu luang,toh dia juga mengantar sarapan untuk bapaknya yang juga bergumul dengan lumpur di sawah.
"Pak ,sarapan dulu"Sri memanggil ayahnya
"nIF,sini sarapan dulu"
" Ya, Sri sebentar,aku bersih-bersih badan dulu"
"Sini nif,sarapan dulu, biar tenaganya kembali pulih" Ajak lek Parto
Ku bersihkan tubuhku,lalumke menuju gubug.Sri dan Lek parto sudah menunggu di sana.
Ada kenikmatan tersendiri ketik menyantap makana, di sawah.Tak bisa terucap dengan kata-kata.nikmatttttt!!!
" Contohlah hanif ini lho sri,meski masih muda,dia sudah mandiri,memenuhi kebutuhannya sendiri"
"Ah, biasa aja kok lil,aku hanya ingin meraih mimpi dan mewujudj\kan cita-citaku lik"
"Bapakmu pasti banggga punya anak seperti kamu niff"
"Ya, lek, aku memang sangat ingin membanggakan orang tua saya,sebagai wujub rasa terima kasih dan rasa sayang saya ada orang tua"
"Kamu memang naka yang berbakti" lek parto menepuk menepuk bahuku.
"ih, bapak ini,hanif kok di puji, nanti besar kepal lho!!" sinis Sri denga muka berlipat-lipat.
aku dan lek parto hanya bisa tersungging ,meliaht kelakuan Sri
Minggu, 20 Juni 2010
BERTEMU DI SUATU TEMPAT
Hati berdesir tak beraturan,keringat dingin terus saja membasahi kedua telapak tangan.Mukaku mera.Betapa malunya aku.Ini pertama kalinya aku berusaha menjalin hubungan serius menuju jenjang pernikahan tanpa melalui pacaran.Sebuah pertemuan yang akan mengubah hidupku.Sebuah pertemuan yang akan mengubah status ku dari lajang menjadi seorang suami.Aku merasa getar-getar rasa itu kembali hadir memenuhi palung hatiku,setelah beberapa tahun silam aku kecewa karena aku gagal melangsungkan pernikahan Hati ini menjerit karena luka tersayat. Dan berbuah pada sebuah keputusan untuk fokus pada pekerjaan dan mengesampingkan urusan ini.Sampai tak tersadar jasad telah termakan usia. "Nif, kapan kamu nikah?"
"Nanti,Bu,aku masih ingin fokus pada pekerjaan"
" Ingat lho umurmu sudah hampir kepala tiga".Aku tertegun mendengar [perkataan ibu barusan.
“Sekarang umurmu sudah 27 tahun. Lho!.Mau nunggu apalagi?”
"27.Hahhh!, ternyata umurku sudah hampir kepala tiga!!".
Mulutku menganga lebar,mendengar perkataan sang bunda di ujung telepon sana.
“Kenapa malah diam, di ingatkan untuk nikah kok malah diam,apa kamu nggak kepingin menggendong buah hati?adikmu saja sudah punya momongan!.”Gerutu sang bunda.
“Iya Bu, maafkan Hanif yang terlalu keasyikan kerja, hingga lupa kalau hanif masih lajang”
“Apa perlu Ibu carikan?”
“Nggak ,nggak usah Bu, untuk urusan ini biarlah Hanif yang mencarinya sendiri,biar lebih sreg”
“Ya sudah, semua Ibu serahkan pada Hanif saja, tapi ingat jangan lama-lama!!. Ibu tunggu sampai lebaran nanti .Kalau Hanif belum memdapatkannya,Ibu yang akan carikan!”
“Iya Bu, minta doanya saja”.Jawabku pasrah.
Ibuku memang sudah benar-benar memaksaku untuk menikah.Bahkan mengultimatum.Tidak biasanya Ibu bersikap seperti itu.Ahhh mungkin itu bahasa cinta Ibu pada anaknya yang belum menikah ini.Aku merasa memang sudah saatnya aku berusaha untuk menjemput jodohku, meski rasa sakit masih terasa ketika aku gagal melanjutkan hubungan ke pelaminan dua tahun yang lalu ketika umurku baru seperempat abad.
Kini aku merubah semua rencanaku hingga 180 derajat. Menikah yang dulu belum ada dalam rentetan rencana yang ku susun,kini harus aku jejalkan dan menjadi salah satu tujuan yang harus aku raih secepatnya. Tapi…. Sepertinya aku sedikit mengalami kesulitan.Karena saat ini belum ada salah satu wanita yang mampu menggetarkan hatiku.Meskipun teman-teman di tempat kerjaan cantik-cantik tapi kalau hati ini tak ada sinyal getaran-getaran rasa,tak akan aku respon.Ada beberapa teman yang pedekate denganku, tapi aku acuhklan karena memang tak ada getar-getar rasa itu.Aku memang orang yang sulit jatuh hati,tapi ketika hati ini sudah tergetar oleh rasa, aku akan mencurahkan semua perhatianku pada orang tersebut dan akan berusaha mati-matian untuk mendapatkanya.Dan tentunya itu menjadi kendala tersendiri untukku.Sekarang kesibukanku bertambah,memilah dan memilih siapa kira-kira yang mampu menggetarkan hati ini.Ku korek-korek lagi memori yang tersimpan dalam otak ini.Siapa tahu ada salah satu nama yang tersimpan menjadi memori indah dalam hidupku.Hasilnya nihil.Tak satupun aku ingat nama-nama wanita yang pernah mampir dalam hidupku.Malah memoriku membawa ku pada satu nama yang membuat hati ini kecewa berat.Dia memilih untuk pergi meninggalkanku di saat aku telah bersiap-siap untuk melamarnya.”Aghhh!” aku nggak mau kecewa itu kembali berkecamuk dalam hatiku,biar ku kubur dalam-dalam dalam palung terdalam hatiku.Aku tak mau tersiksa denga perasaan pahit itu.Tak ku temukan target yang ku temukan dalam memoriku, akupun beralih ke opsi lain.Ku buka daftar kontak yang tersimpan dalam hpku.Satu-satu ku ku kirimi sms pada mereka,meminta bantuan mereka,siapa tahu mereka punya salah seorang kenalan yang siap nikah ,dan bersedia menikah dengan ku.” Hmmmm” sepertinya aku harus bersabar.Dua hari aku tunggu, tak ada satupun balasan sms yang membuatku tersenyum sungging.Nol besar.Malah teman-teman menggodaku, yang parah balasan sms dari jono .”Nif,nih ada wanita yang siap nikah, dia seorang janda berumur 70 tahun. Mau?”.Wah keterlaluan juga nih orang, masak saya suruh nikah dengan nenek-nenek.”Huuh” .gerutuku.Senyumku sedikit tersungging saat hari ketiga aku mendapat sms dari seorang sahabat nun jauh di sana.tapi senyumku menjadi kecut,saat ku baca kalimat.” Tapi dia minta waktu setahun untuk menyelesaikan kuliahnya.”Wah ,aku yang tidak sanggup kalau harus menunggu satu tahun, umur nih sudah mau kepala tiga”.Balas sms ku pada sohib jauhku itu.
Ku putar otak.Mencari cara.Tak ada hasil .Nihil.Tak ada bayangan sedikitpun.Aku malah semakin pusing,mengejar sesuatu yang tak tahu dimana aku akan mendapatkannya.Bingung mencari solusi. Akhirnya aku putuskan untuk berhenti sesaat,merehatkan sejenak otakku.Setelah beberapa hari ini aku peras otakku.Dan sampai saat ini usahaku belum membuahkan hasil.Ku buka laptop .Iseng untuk menyegarkan otakku.Ku OL,Membuka akun jejaring sosial.Ku lihat banyak juga teman yang lagi OL.”He he he, nggak ada salahnya aku ajak chat,semua teman yang OL ,siapa tahu, ada yang berjodoh.”Gumanku.Mungkin aku sudah kehabisan akal ,sehingga aku melakukan perbuatan nekad seperti ini.Satu persatu aku ajak chat.Berbagai tanggapan, aku rasakan langsung.Ada yang diam nggak ada respon,ada yang ketus sambil marah-marah, ada yang jaim,ada juga yang ramah merespon dan ngalir saja ketika di ajak berbincang.Ada seorang wanita yang membuat hati ini tertarik,getar-getar rasa itu mulai terpendar dari dalam hatiku .Dia sangat merespon ketika aku ajak untuk chat.Dia mengaku bernama Ana septiani.Lagi nyantri di daerah Padalarang.Wah senangnya hatiku bukan kepalang.Aku memperkenalkan diri dan jujur ku katakan kalau aku hanya seorang muslim biasa yang tidak pernah bersinggungan dengan pesantren , kitab kuning.Aku hanya mendapatkan pelajaran agama waktu masih kecil di sebuah mushola kecil di kampung halaman.Tapi aku berusaha mengamalkan apa yang aku tahu itu.
Dari apa yang di tulis dalam percakapan itu ku rasakan dia jujur dan apa adanya.Kata-katanya halus tapi tidak terkesan kemayu dan genit.Dia sangat sopan.Aku mulai tertarik dengan wanita ini.Niat awal OL hanya iseng, untuk merehatkan sejenak saraf-saraf otak di kepala ini, berubah menjadi salah satu usaha ku untuk menemukan jodohku.Yah menurutku, jodoh bisa ketemu di mana saja.Seperti temanku,dia ketemu jodohnya hanya gara-gara ada sms nyasar ke hpnya.Dia sudah maki-maki tuh orang, ehhh malah sekarang jadi istrinya.Jodoh memang rahasia Tuhan yang telah di tentukan.Kita nggak tahu kapan dan di mana akan bertemu dengan jodoh kita.Seperti aku sekarang ini,mudah-mudahan orang yang aku ajak berbincang di luar sana menjadi jodohku ,meski aku belum melihat wajah aslinya.Meski aku baru saja mengenal orang ini.Setidaknya aku bisa melihat photo profilnya.Dan aku yakin photo yang dia pajang itu asli .Aku sempat tanyakan padanya.Dan memang itu fhoto aslinya.”Ana, menurut Ana, calon suami yang Ana harapkan itu seperti apa sihhh?.”tanyaku garing dan basa basi.
“ Kalau Ana sih berharap dia bertanggung jawab dan perhatian?”
“Tapi tentunya yang jago baca dan menguasai kitab kuning ?”
“Kalau memang di takdirkan itu yang Ana harapkan,Tapi siapa saja kok,Ana nggak akan pilih-pilih yang penting dia mau bertanggung jawab dan setia “
Hatiku berdentam keras seolah mendapat lampu hijau.
“ Meski pun dia orang awam, yang tak pernah sedikitpun mengenal pesantren?”
“ Ya”jawabanya semakin membuatku gede rasa dan merasa di atas angin.Aku sangat berharap dia membantuku mewujudkan niatku untuk melepaskan masa lajangnya sebelum lebaran nanti.
Sebenarnya aku minder, karena memang tak pernah selangkahpun kakiku menuju ke pesantren.Aku hanya orang islam abangan, yang tak bisa membaca kitab kuning, apalagi arab gundul.Tapi tentunya aku pun ingin mendapat istri yang terbaik dan berharap memang Ana jodoh aku yang ku cari selama ini.
Dengan modal nekad dan gede rasa aku beranikan diri untuk mengutarakan niatku.”Na, aku ingin menyampaikan sesuatu”
“ Ya silakan?”
“Sedari tadi aku sudah banyak berbincang dengan Ana.Dan jujur Na,saat ini aku berusaha menjemput jodohku.Apa ana bersedia kalau aku ajak untuk membangun sebuah mahligai ,menghalalkan sebuah hubungan dengan pernikahan?”
Beberapalama ku tunggu nggak ada respon
“Ana”. Ku coba meminta tanggapan
”Maaf,kalau aku belum bisa memutuskan.Aku masih ragu dan takut salah memutuskan kalau aku bilang ya, takut Mas Hanif bukan jodohku,tapi kalau aku bilang tidak aku juga takut ternyata Mas Hanif memang jodoh yang kunantikan saat ini.Aku juga tidak bisa menjalani hubungan tanpa ada rasa.Mas Hanif kita kan baru kenal,apa Mas Hanif tidak terlalu terburu-buru untuk mengajak Ana menikah?”
“ Tidak Ana, samasekali tidak, untuk urusan ini aku tidak mau terlalu ribet di belenggu ketakutan-ketakutan yang membuat kita sulit memutuskan.Masalah rasa itu bisa di upayakan kok.Ya memang cinta itu harus di upayakan dan terus di jaga ketika sudah ada sebuah ikatan.” Ku berusaha menjelaskan.Tapi dia masih ragu untuk memutuskan. Sikapnya itu benar-benar membuat aku tak menentu,harap-harap cemas,kecewa pun ikut andil dalam memporak-porandakan hati ku.
“Tapi Mas Hanif?”
Ku berusaha meyakinkan bahwa masalah rasa bisa di upayakan.Yang penting bagiku sekarang menghalalkan sebuah hubungan.Aku berharap Ana mau mempertimbangan alasan-alasan yang telah aku utarakan tadi.
“Baiklah Mas hanif.Aku menghargai niat baik Mas Hanif untuk mengajak Ana menikah,Tapi Mas, aku belum bisa memtuskan saat ini .Beri Ana waktu seminggu untuk berpikir dan sholat istikhoroh.Minggu depan aku beritahu lewat media ini di waktu dan jam yang sama.Itu saja yang bisa aku jawab saat ini Mas.Aku off dulu ya.Assalamualaikum.”
Tidak ada koneksi.Dia sudah offline meninggalkan sejuta beban rasa.Rasa bingung ,berharap, kecewa,senang bercampur menjadi adonan yang entah seperti apa rasanya.
“Aku akan menunggu”gumamku.Aku akan menunggu meski aku akan terhantui rasa cemas.Meski aku juga telah siap bila ternyata jawabannya tidak seperti yang aku harapkan.
*************
Hari ini tepat seminggu aku menunggu sebuah jawaban.Masih ku ingat seminggu yang lalu di temani cahaya rembulan aku chat dengan seaorang santri wati .Dia meminta waktu seminggu untuk memberikan jawaban.Malam ini tepat seminggu aku menunggu Di temani temaram sinar rembulan .Ku buka laptop dan aku kembali OL.aku menanti.Semoga Ana tidak lupa dengan janjinya. Dan malam ini pula dia akan memberikan jawaban yang pasti.
Hp ku bersenandung.Ada panggilan masuk.Ibu tercinta meneleponku.Ada apa gerangan?.
“Nif, gimana apa kamu sudah menemukan calon yang cocok untuk kamu ajak nikah” tanya Ibuku di ujung telepon sana
“ Do’akan saja Bu”
“ Apa kamu mau Ibu kenalkan dengan anaknya Mbak Parti,dia juga merantau di Bandung”
“Nanti saja Bu,biar Hanif berusaha mencari sendiri Bu.Nanti kalau Hanif belum mendapatkan calon sebelum lebaran,Ibu boleh kok memperkenalkan Hanif sama siapa saja yang menurut Ibu Baik”Ku berusaha menolak tawaran ibu sehalus mungkin,Supaya Ibu tidak tersinggung.Aku juga tidak mau berterus terang kalau saat ini sedang menanti sebuah jawaban dari seorang wanita solehah.Aku tak mau gede rasa, karena memang semuanya masih belum jelas.Masih ngambang.Malu tentunya pada Ibu kalau aku bilang aku sudah punya calon ,kalau toh ternyata dia memberikan jawaban yang tidak aku inginkan.Biarlah ku simpan rapat-rapat galau dalam hati ini sampai nanti aku mendapat jawaban yang pasti ..Ku tunggu beberapa saat.Dan kesabaranku pun berbuah hasil.
“Ass, Mas Hanif”Dia menyapaku
“Kum salam,Gimana kabar?” sedikit basa basi
“Hamdulillah , baik.Gimana dengan Mas Hanif?”
“ Hamdulillah saya juga baik”
“Mas, sesuai janji ku seminggu yang lalu.Aku akan memberikan sebuah keputusan.”
“Ya Ana , aku sudah menunggu waktu ini,dengan kecemasan yang menhujamm hatiku”
“Tapi apapun yang nanti ana katakan, Mas hanif akan menerimanya dengan lapang dada kan?”
“Ya, Ana aku sudah menyiapkan hati dan pikiranku untuk menerima apaun yang akan Ana katakan”
“Mohon maaf sebelumnya kalau Ana membuat Mas Hanif di landa kecemasan,menunggu jawaban Ana.Ana sudah sholat istikhoroh,sudah membicarakan dengan orang tua Ana,dengan Guru ana.Guru Dan orang tua Ana menyerahkan semuanya pada Ana.Dan Jawaban Isthikoroh ana juga belum jelas.Tapi karena memang tenggat yang Ana berikan Cuma Seminggu ,jadinya Ana harus memutuskan…” Kata-katanya terhenti.Aku tak tahu apa kah dia mempermainkan perasaanku atau dia masih ragu.Hatiku benar-benar berdentam keras.Keringat dingin semakin keluar deras membasahi telapak tangan.Meskipun aku sudah berusaha mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang akan menjadi keputusan Ana.Tapi tetap saja aku kesulitan Hati ini berdesir-desir.
“Ana ,jadi gimana keputusan Ana?”.Tanya ku berusaha menghilangkan kecemasan yang sedari tadi menghantui.
“Aku… Aku menunggu kehadiran Mas hanif di Rumahku.Besok pagi.Ini ku tuliskan alamat rumahku dan nomor hp ku.Bila Mas Hanif menemui kesulitan menuju rumahku.silakan hubungi nomor ini”
“Jadiiiiii……..”
“Ya Mas, Aku tunggu kehadirannya besok.Dah ya aku OFF dulu”
Tidak ada koneksi.Dia sudah Off.Aku jadi gemes.Tapi sungguh berbahagia.Karena Dia memberikan jawaban yang menyejukkan hati.Sejuukk sekali.Bahagianya aku.Ingin ku berteriak-teriak kegirangan ,tapi ku urungkan itu.Jiwa ini masih punya rasa malu untuk melakukan itu.Nggak enak sama tetangga.Hanya senyum sungging yang mewakili kebahagiaan itu.Seraya bibir berucap “Alhamdulillah”.Sepertinya aku tak akan terlelap tidur malam ini.Tapi malam ini aku harus segera terlelap.Ingin segera ku khabarkan berita bahagia ini pada sang Ibunda tercinta.Tapiaku urungkan.”Besok saja,ini baru pertemuan pertama,nanti kalau memang sudah ada acara lamaran.aku akn cerita kabar bahagia ini kepada orang tua.Dan aku akan memboyongnya ke Bandung untuk ikut menyaksikan hari yang membahagiakan ini.
.Dengan segenap energi keberanian yang aku kumpulkan. Aku pun meluncur ke alamat rumah yang di berikan Ana padaku.Sengaja aku datang sendirian,karena aku menganggap ini hanya pertemuan biasa.Silaturahmi biasa untuk saling mendalami,bukan acara lamaran. Dengan semangat empat lima,ku geber si jagur,ke padalarang.Ku siapkan jiwa dan raga ini untuk menemuainya.Sms beberapa kali mengernyit,
”Mas Hanif sudah sampai mana?”.
“Sebentar lagi sampai kok” Ku balas SMS itu.
Hati ini semakin berdebar kencang tak beraturan.Ketika ku sampai di depan rumahnya.Ternyata sudah berkumpul banyak warga di situ.Sepertinya aku salah menafsirkan.Keringat terus membasahi mukaku.Aku tak membawa persiapan sama sekali.Karena aku tak menyangka akan di sambut seheboh ini.Salahku juga tidak mempertanyakan lebih detail pada Ana.Tapi tetap ku langkahkan kakiku menuju rumah Ana.Untung tadi di perjalanan aku beli beberapa kue untuk buah tangan.Di depan rumah ada Bapak-bapak yang menyambutku.Aku kira itu orang tuanya Ana.”Assalamualaikum,Mas Hanif ya,Silakan masuk”Bapak itu menyapa hangat.Aku hanya mengangguk untuk menutupi kegugupanku."Cessss!!!".semilir kesejukan mengalir ke dalam hati mengisi setiap relung-relung terdalam hatiku ketika aku melihat dari dekat wanita bernama Ana.Ku coba menyapanya meski hanya berguman “Assalamualaikum Ana”.Sekilas ku lihat mulutnya berkomat kamit membalas salam.”Walaikum salam” .Kami sama-sama malu,salah tingkah,dan ,ahh tak tahulah ada rasa lain yang mengalir dalam relung hatiku.Sejuk sekalii.


