.jpg)
Sore yang bergelayut mendung mengantarkanku ke Stasiun Kereta api.Aku harus segera kembali ke kampung halamanku,karena sejak kemarin Ibu menyuruhku pulang.Dep kolektor hampir setiap pagi menyambangi rumahku.Dia menagih sisa angsuran sepeda motor ku yang tak jua aku lunasi.Huft.......terasa menyebalkan .Tanpa di tagih pun aku juga ingin segera melunasinya.Semua ini tertunda karena memang belum ada uang yang bisa aku gunakan untuk membayarnya......Tapi Alhamdulillah hanya denga uluran Tangan Allah aku bisa mendapatkan uang untuk melunasi angsuran itu.
Dalam penantian di Stasiun,Aku seperti hidup dalam dunia yang sangat lain.Betapa berbagai macam orang muncul dalam dunia yang tak ku kenal itu.Ada bocah kecil berpakaian lusuh ,mondar-mandir menengadahkan tangan meminta belas kasian para calon penumpang.Ada Berbagia macam obrolan dalam bahasa Ibuku.Bahasa jawa.Bahasa yang sering aku tinggalkan ,karena resiko hidup sebagai urban,aku sering menggunakan bahasa indonesia dalam berakap.Wuihhhhh.....Seperti ada nuansa yang lain ketika aku mendengar bahasa itu.Ehmmm.....Semua itu menyadarkanku,bahwa ada dunia yang lain yang juga, hidup dan berjalan sesuai Titah Tuhan yang hadir di sekitar kita tanpa kita sadari.Yah.....kehidupan yang kita lupakan atau sengaja kita lupakan,karena kita asyik meneguk kehidupan kita sendiri.Semua itu ada dan terus ada di sekitar kita,tapi terasa asing ketika kita hadir dalam nuansa seperti itu...Semua itu malah membawa perenungan akan makna hidup.Dalam perjalanannya,seolah kita di ciptakan hanya sendiri.setiap ada kesenangan hanya kita yang menikmati,ketika ada duka hanya kita yang merasakannya.Tak ada orang lain,tak tak ada orang yang merasakan.Padahal dalam dunia yang lain itu ada orang yang mungkin menghadapi episode hidupnya denagn tertatih,bahkan terseok.lebih dari apa yang aku rasakan.Kurang adil dan mungkin kurang bijak kalauaku mengatakan kalau aku merasa menjadi orang yang paling sengsara .Merasa menjadi orang yang teraniaya.Terus semua kedukaan itu kita bersimpul dan menyalahkan pada Sang Pencipta karena membiarkan aku terlunta-lunta.Padahal ada saham kita kenapa semua itu terjadipada diri kita.Yah semua itu mengali dan membaut diriku semakin tersada akan hakikat hidup.Kahuripan hidup yang penuh kesadaran bahwa semua yang terjadi dan akan terjadi adalah simpul takdir yang harus kita jalani.Seperti Kereta yang membawaku pergi meninggalkan Kota ini menuju Kampung halaman.Aku akan menjalani,meski aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan aku nanti.Kahuripan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar