Kamis, 26 Januari 2012

Tertipu


                                       
Detik-detik waktu memaksa waktu segera beranjak.Berganti dari gelap menuju terang, dari terang menuju gelap.Selalu seperti itu.Aku duduk di temani secangkir kopi yang tersisa ampasnya di kerak gelas.Beberapa puntung rokok membersamaiku,menghabiskan senja yang kian beranjak gelap.Di tangan kananku,ku mainkan batang rokok yang sesekali aku hisap,ku telan dan ku biarkan masuk ke dalam kerongkongan menuju paru-paru ku dan ku keluarkan lagi.
"Uhuk!!.uhuk!!!".Meski tubuh ini sudah berisyarat,tapi tak kunjung aku hentikan.Aku malah semakin asyik memainkan batang rokok itu dan sesekali menghisap dalam-dalam.
" Mbok ya sudah merokoknya.wong batuknya sudah parah gitu lho!"tegur Ibuku ketika mendengar suara batukku yang seolah jeritan ragaku yang mulai rapuh.
Hati nuraniku sebenarnya juga berseru seperti itu,tapi aku tak kuasa jika keinginan untuk merokok itu datang.Aku merasa merokok sudah menjadi menu wajib dalam keseharianku.Aku lebih baik tidak makan asalkan ada rokok di sampingku.Rokok ibaratkan seorang istri yang akan selalu bersamaku dan menuruti segala yang aku inginkan.
                                                         ***************
Detik-detik waktu terus menuntun untuk berjalan.Membawa untuk terus berjalan mengitari siklus waktu dari gelap menuju terang,dari terang menuju gelap.Selalu ku nikmati senja dengan segelas kopi dan berbatang-batang rokok.Ibuku juga tak bosan-bosannya menegur dan mengingatkan aku.Seolah olah hidupku hari ini adalah replika dari hidupku kemaren.Tapi tubuh ini tidak mau mengikuti ritme seperti itu.Raga ini semakin ringkih, karena rokok telah menjadi gurita dalam tubuhku.Batuk membuatku tersiksa.Dan akhirnya aku limbung ,terkapar ketika tak bisa lagi ku tahan rasa sakit yang meremukkan dada.Dan aku tak tahu lagi seperti apa yang terjadi.Yang ku lihat hanya gelap.Hanya bayang bayang Ibu yang sesekali berkelebat dan kemudian menghilang kembali.Sampai akhirnya aku benar benar melihat Ibu duduk di sampingku.Mengusap usap kepalaku.”Ibu ,,ada apa ?” Tanyaku kebingungan.”Kamu tadi pingsan.Parmin melihatmu tergeletak di teras.Di sangkanya tidur,tapi pas dibangunkan kamu nggak bangun bangun.Parmin memanggil Ibu dan langsung membawamu ke Rumah sakit.Kata dokter Paru paru mu sudah rusak sebelah.Untung nyawamu masih bisa di selamatkan.kalau semenit saja terlambat mungkin kamu akan pergi meninggalkan Ibu sendirian.”Raut sedih menggelayut dalam air muka Ibuku.Aku tersadar telah membuatnya sedih.”Kamu harus berhenti merokok,kalau masih ingin menemani Ibu”.Kata  kata Ibu begitu menghentak dalam dadaku.Kata kata lembut tapi penuh ketegasan.Dulu Ibu yang hanya sekedar mengingatkan ,kini benar benar melarangku untuk bersentuhan dengan Batang laknat itu. Aku bimbang.Tapi demi Ibu akan ku coba lakukan."Kamu harus berhenti!!!!"Kali ini nuraniku tegas memerintahkan aku untuk berhenti mencumbu batang beracun itu.Hampir seminggu aku harus berbaring di Rumah Sakit .Merepotkan Ibuku,merepotkan Semuanya.Aku tak pernah tahu dari mana Ibu mendapatkan uang untuk membayar biaya berobatku selam di rumah saki.Setiap kali aku bertanya ,Ibu selalu menjawab “Tak usah kamu pikirkan ,yang penting kamu sembuh dan jangan merokok lagi.”Tegas Ibuku.DI rumah Ibuku  menjauhkan sejauh-jauhnya dari rokok dan aksesorisnya.Bahkan baunya pun tak berkenan tercium olehku.Aku hanya menurut saja dan mengikuti semua anjuran dan larangan itu.Walau mulut ini terasa asam. walau syahwat ini masih ingin membersamai dan menikmati batang rokok itu.Aku sudah tak bisa menahan rasa masam dalam mulut ini."Kalau diri mampu berdiri,pasti aku kan segera beranjak ke warungnya Lek Sri.Dan akan aku nikmati sebatang rokok di sana." gumanku
Tapi kali ini aku tak bisa menggerakkan tubuh ini sedikitpun.Terasa.panas!!!!!.
"Kamu ini ngeyel kalau di kasih tahu.sudah di suruh berhenti merokok ,tetap saja nggak mau berhenti.Sekarang kalau sudah seperti ini siapa yang repot dan susah".Ku dengar Ibu menggerutu,saat mengantarkan makanan ke kamarku.Aku hanya terdiam. Ada rasa sesal yang mulai merasuk.Ada rasa sesal tak aku gubris nurani yang setiap waktu berteriak-teriak.Tapi syahwat lebih menggodaku untuk terus memeluk dan mencumbu batang-batang rokok itu.Aku lebih meilih membebaskan diriku untuk mengikuti syahwat dari pada terkungkung oleh nurani yang bawel.Tetap kunikmati,ku hisap batang-batang rokok itu.Setiap kelelahan ,keruwetan yang mengendap dalam tubuh ini,terlepas bersama asap-asap yang aku hembuskan.Tanpa ku sadari semua, bahwa kenikmatan itu harus berbayar.Karena setiap terlepasnya keruwetan dan kelelahan ini keluar bersama asap itu.,ternyata batang -batang rokok itu meninggalkan racun yang akan membuat ragaku ringkih dan semakin ringkih.
                                                             ***********

Jasad ini telah bersepakat dan merapat dengan nurani.Berazam untuk saling menjaga dan saling melindungi.Aku akan berusaha mengikuti hati nurani.Akan ku kurung syahwat yang selalu mengajakku ,menyesatkanku untuk mengikuti keinginannya menghisap batang-batang beracun itu.
“Bagaimana keadaanmu,apa sudah baikan?”.Tanya ibuku saat mengantarkan sarapan untukku di kamar.
.“Sudah Bu ,Ini juga mau keluar sebentar, mau jalan-jalan pagi Bu,.Badan sudah kaku semua karena sudah lama tak di gerakkan”
“Ya sudah”
Memang kasih ibu sepanjang masa.Tak ku ragukan lagi pepatah itu.Sekarang aku benar-benar merasakan sendiri.Sekarang aku rasakan sendiri dengan tulus Ibuku merawatku di kala sakitku .
Pagi ini aku paksakan tubuh ringkih ku ini untuk keluar menghirup udara segar.setelah beberapa hari terkungkung di dalam kamar.Entah mengapa kaki ini menuntunku untuk melangkah ke sudut desa.Hingga ku lihat jelas orang-orang berkumpul di sana. Berkumpul di warungnya Lek Sri.Mungkin karena terbawa kebiasaan yang sering nongkrong di warungnya Lek Sri.Ku lihat di sana teman temanku telah berkumpul.Mereka bermandi asap.Di temani secangkir kopi dan gorengan mereka bercanda.Mulut mulut mereka ibarat knalpot yang tiada henti mengepulkan asap.Yah asap beracun yang membuat tubuh ku limbung.Yang membuat dadaku sesak terbakar..
Ingin ku beranjak meninggalkan pergi .Tapi kepulan-kepulan asap itu malah menari nari menggodaku.Merayu dan mengajakku “ Ke sini”.Asap itu menjelma menjadi gadis cantik langkahnya meliuk gemulai.yang sentiasa menggoda.”Sini, mampir sini.Ayo kita nikmati pagi ini di warungnya Lek Sri.Ayo!!!.Aku temani”.Terus saja asap itu menggodaku.
“Jon,kemana saja? Sini mampir dulu.Sudah lama kamu nggak kesini .”
Lek Sri membuatku kaget.
Lek Sri semakin membuat syahwatku bergejolak untuk kembali menikmati asap laknat yang telah menghancurkan tubuhku.Syahwatku pun tak henti-hentinya menggoda.
“Ayo mampir sebentar,mulutmu sudah masam gitu, sudah lama kamu tak merokok.Sedikit saja tak ada masalah bagimu.”
“Kamu kan sudah berjanji untuk tidak menghirup asp laknat itu!!!.Ingat!!!! kamu sudah berjanji.!!!”Nurani dengan tegas menghardikku.Aku juga teringat kata kata Ibu.Aku harus bisa terlepas dari jeratan itu.
Nyali syahwatku menciut.Tak ada keberanian sedikitpun untuk melawan hardikkan nuraniku.Aku memang telah berazam untuk patuh dan mengikuti nuraniku dari pada syahwatku yang lebih sering menipuku dari pada mendatangkan kebaikan untukku.
“Kapan-kapan saja Lek,aku Cuma amau jalan-jalan saja dulu. Aku kurang enak badan.Aku pulang dulu ya.”Aku segera pamit karena tak mau berlama-lama di situ takut diri ini tak kuasa menahan syawat untuk kembali merokok.Aku berjalan dengan sedikit berlari.Tak ku dengarkan syahwatku yang sedari tadi ngomel-ngomel.Aku sudah menyadari sepenuhnya kalau nurani adalah panutanku. Pimpimnanku yang bisa membuatku bahagia kelak.walau kadang jalannya begitu sulit dan berliku, tapi kelak akan ku tuai hasil yang manis dari pada aku menuruti syahwatku yang awalnya terasa nikmat dan membanggakan tapi ternyata akhirnya melahirkan beribu penyesalan .Yah aku sangat menyesal menuruti syahwatku untuk menghirup asap laknat itu. Dulu aku sangat bangga karena sebagai lelaki aku bisa merokok.Waktu itu aku beranggapan bahwa merokok adalah lambang kejantanan bagi seorang pria.tapi ternyata itu tetap semu dan semu.Tak ada hasil yang bisa membuatku tetap membusungkan dada,tapi malah dadaku terbakar karena keangkuhanku sendiri.
                                                     *********
Ku sibakkan tirai yang menutup jendela.Ku lihat di luar masih gelap.Hanya beberapa lampu dari kejauhan terlihat seperti gumintang.Masih pagi, bahkan masih shubuh .Tak biasanya aku terjaga sepagi ini.Ku lihat jam yang menghiasai hp.Yah memang masih pagi.Baru jam 04.00 pagi.Suara tadarus membuat syahdu pagi ini.Tubuhku terasa ringan untuk beranjak.Aku benar-benar heran.Apa ini karena aku telah berhasil menghentikan kebiasaan burukku menghisap batang beracun itu?.Mungkin saja.Aku merasa terlahir kembali.Hidup terasa sangat berarti bagiku.Aku merasa manjadi manusia yang utuh,tak tergadai oleh syahwatku.Aku merasa ada panutan ,pemimpin ,yang jika aku mengikutinya.Aku akan menjadi manusia merdeka, yang terbebas dari kungkungan syahwat.Yah, kini aku telah mengikuti nuraniku.mengikuti apa yang dia titahkan.Ku beranjak,nuraniku menuntun untuk bersentuhan dengan air.Berwudhu.Sebentar lagi Adzan subuh berkumandang.Dan sepertinya kali ini aku benar-benar merasakan panggilan cinta dari Sang Khalik itu.
Mentari mengintip di balik tirai jendelaku.Aku terlalu asyik menikmati pagi ini,hingga tak tersadar bahwa pagi telah menghampiriku.Sang ibu mengetuk pintu hendak membangunkanku.”Lho tumben sudah bangun….., sarapan sudah aku siapkan,Ibu mau berangkat kerja dulu.”.Aku hanya tersenyum dan malu melihat Ibu ku yang begitu mencintaiku.Aku malu karena telah menyia-nyiakan cintanya selama ini.Bahkan aku tak tersadar kalau selama ini Ibuku sangat mencintaiku.Timbul Tekad ku untuk membahagiakan Ibuku.Yang telah berperan sebagai Ayahku juga.Itu tekadku….
Kondisiku mulai membaik.Tubuhku mulai segar..Membuatku semakin bersemangat.Asap laknat yang dulu menyelimutiku,kini telah sirna.Aku sudah benar-benar meninggalkannya.Walau syahwat tak lelah mengajakku untuk menghisap batang batang laknat itu.
Tak ada lagi hasrat untuk kembali ke Warungnya Lek Sri.Tersadar olehku kini bahwa aku telah tertipu oleh egoku dan syahwatku sendiri.Tak ada kebanggaan sedikitpun yang bisa aku lakukan ketika aku asih merokok kecuali hanya menyia nyiakan waktu senjaku.Kini Ritme hidup yang mengatur diriku telah aku rubah.Tak ada Kopi atau sebatang rokok,tapi aku mengisi dengan belajar membaca Alquran dari ibu tercinta.Tak ada rasa malu meski sebesar ini aku belum bisa membacanya.Ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Aku jengah melihat kepulan asap menari-nari si warung itu.Aku muak.Tapi aku juga kasihan ,dan tak tega teman-temanku terjebak asap laknat di warung LeK Sri.Aku merasa berdosa jika aku telas ter bebas dari asap laknat itu sementara temanku masih terjebak.Ada sebuah tekad.ingin mengajak mereka semua meninggalkan asap beracun itu.Memang beresiko.tapi aku harus berusaha.Apa yang aku lakukan bukan sesuatau yang mudah. tapi aku harus berusaha.Tak ada salahnya aku kembali ke warungnya Lek Sri.Aku yakin teman-temanku pagi ini masih berkumpul di sana.
Ku langkahkan kakiku,Warung Lek Sri adalah tujuanku.Ku lihat teman-temanku masih asyik bercanda di sana.Tak ada yang berubah ,tetap asap mengepul,menari-nari menggoda para pecandu tuk segera menghambur memeluknya.Tapi aku kesana tidak untuk memberikan ruang untuk syahwatku bernostalgia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar