Detik-detik waktu memaksa waktu
segera beranjak.Berganti dari gelap menuju terang, dari terang menuju
gelap.Selalu seperti itu.Aku duduk di temani secangkir kopi yang tersisa
ampasnya di kerak gelas.Beberapa puntung rokok membersamaiku,menghabiskan senja
yang kian beranjak gelap.Di tangan kananku,ku mainkan batang rokok yang sesekali
aku hisap,ku telan dan ku biarkan masuk ke dalam kerongkongan menuju paru-paru
ku dan ku keluarkan lagi.
"Uhuk!!.uhuk!!!".Meski
tubuh ini sudah berisyarat,tapi tak kunjung aku hentikan.Aku malah semakin asyik
memainkan batang rokok itu dan sesekali menghisap dalam-dalam.
" Mbok ya sudah
merokoknya.wong batuknya sudah parah gitu lho!"tegur Ibuku ketika
mendengar suara batukku yang seolah jeritan ragaku yang mulai rapuh.
Hati nuraniku sebenarnya juga
berseru seperti itu,tapi aku tak kuasa jika keinginan untuk merokok itu
datang.Aku merasa merokok sudah menjadi menu wajib dalam keseharianku.Aku lebih
baik tidak makan asalkan ada rokok di sampingku.Rokok ibaratkan seorang istri
yang akan selalu bersamaku dan menuruti segala yang aku inginkan.
***************
Detik-detik waktu terus menuntun
untuk berjalan.Membawa untuk terus berjalan mengitari siklus waktu dari gelap
menuju terang,dari terang menuju gelap.Selalu ku nikmati senja dengan segelas
kopi dan berbatang-batang rokok.Ibuku juga tak bosan-bosannya menegur dan
mengingatkan aku.Seolah olah hidupku hari ini adalah replika dari hidupku
kemaren.Tapi tubuh ini tidak mau mengikuti ritme seperti itu.Raga ini semakin
ringkih, karena rokok telah menjadi gurita dalam tubuhku.Batuk membuatku
tersiksa.Dan akhirnya aku limbung ,terkapar ketika tak bisa lagi ku tahan rasa
sakit yang meremukkan dada.Dan aku tak tahu lagi seperti apa yang terjadi.Yang
ku lihat hanya gelap.Hanya bayang bayang Ibu yang sesekali berkelebat dan
kemudian menghilang kembali.Sampai akhirnya aku benar benar melihat Ibu duduk
di sampingku.Mengusap usap kepalaku.”Ibu ,,ada apa ?” Tanyaku kebingungan.”Kamu
tadi pingsan.Parmin melihatmu tergeletak di teras.Di sangkanya tidur,tapi pas
dibangunkan kamu nggak bangun bangun.Parmin memanggil Ibu dan langsung
membawamu ke Rumah sakit.Kata dokter Paru paru mu sudah rusak sebelah.Untung
nyawamu masih bisa di selamatkan.kalau semenit saja terlambat mungkin kamu akan
pergi meninggalkan Ibu sendirian.”Raut sedih menggelayut dalam air muka Ibuku.Aku
tersadar telah membuatnya sedih.”Kamu harus berhenti merokok,kalau masih ingin
menemani Ibu”.Kata kata Ibu begitu
menghentak dalam dadaku.Kata kata lembut tapi penuh ketegasan.Dulu Ibu yang
hanya sekedar mengingatkan ,kini benar benar melarangku untuk bersentuhan
dengan Batang laknat itu. Aku bimbang.Tapi demi Ibu akan ku coba lakukan."Kamu
harus berhenti!!!!"Kali ini nuraniku tegas memerintahkan aku untuk
berhenti mencumbu batang beracun itu.Hampir seminggu aku harus berbaring di
Rumah Sakit .Merepotkan Ibuku,merepotkan Semuanya.Aku tak pernah tahu dari mana
Ibu mendapatkan uang untuk membayar biaya berobatku selam di rumah saki.Setiap
kali aku bertanya ,Ibu selalu menjawab “Tak usah kamu pikirkan ,yang penting
kamu sembuh dan jangan merokok lagi.”Tegas Ibuku.DI rumah Ibuku menjauhkan sejauh-jauhnya dari rokok dan
aksesorisnya.Bahkan baunya pun tak berkenan tercium olehku.Aku hanya menurut
saja dan mengikuti semua anjuran dan larangan itu.Walau mulut ini terasa asam.
walau syahwat ini masih ingin membersamai dan menikmati batang rokok itu.Aku
sudah tak bisa menahan rasa masam dalam mulut ini."Kalau diri mampu
berdiri,pasti aku kan
segera beranjak ke warungnya Lek Sri.Dan akan aku nikmati sebatang rokok di
sana." gumanku
Tapi kali ini aku tak bisa
menggerakkan tubuh ini sedikitpun.Terasa.panas!!!!!.
"Kamu ini ngeyel kalau di
kasih tahu.sudah di suruh berhenti merokok ,tetap saja nggak mau
berhenti.Sekarang kalau sudah seperti ini siapa yang repot dan susah".Ku
dengar Ibu menggerutu,saat mengantarkan makanan ke kamarku.Aku hanya terdiam.
Ada rasa sesal yang mulai merasuk.Ada rasa sesal tak aku gubris nurani yang
setiap waktu berteriak-teriak.Tapi syahwat lebih menggodaku untuk terus memeluk
dan mencumbu batang-batang rokok itu.Aku lebih meilih membebaskan diriku untuk
mengikuti syahwat dari pada terkungkung oleh nurani yang bawel.Tetap kunikmati,ku
hisap batang-batang rokok itu.Setiap kelelahan ,keruwetan yang mengendap dalam
tubuh ini,terlepas bersama asap-asap yang aku hembuskan.Tanpa ku sadari semua,
bahwa kenikmatan itu harus berbayar.Karena setiap terlepasnya keruwetan dan
kelelahan ini keluar bersama asap itu.,ternyata batang -batang rokok itu
meninggalkan racun yang akan membuat ragaku ringkih dan semakin ringkih.
***********
Jasad ini telah bersepakat dan
merapat dengan nurani.Berazam untuk saling menjaga dan saling melindungi.Aku
akan berusaha mengikuti hati nurani.Akan ku kurung syahwat yang selalu
mengajakku ,menyesatkanku untuk mengikuti keinginannya menghisap batang-batang
beracun itu.
“Bagaimana keadaanmu,apa sudah
baikan?”.Tanya ibuku saat mengantarkan sarapan untukku di kamar.
.“Sudah Bu ,Ini juga mau keluar sebentar,
mau jalan-jalan pagi Bu,.Badan sudah kaku semua karena sudah lama tak di
gerakkan”
“Ya sudah”
Memang kasih ibu sepanjang
masa.Tak ku ragukan lagi pepatah itu.Sekarang aku benar-benar merasakan
sendiri.Sekarang aku rasakan sendiri dengan tulus Ibuku merawatku di kala
sakitku .
Pagi ini aku paksakan tubuh
ringkih ku ini untuk keluar menghirup udara segar.setelah beberapa hari
terkungkung di dalam kamar.Entah mengapa kaki ini menuntunku untuk melangkah ke
sudut desa.Hingga ku lihat jelas orang-orang berkumpul di sana . Berkumpul di warungnya Lek Sri.Mungkin
karena terbawa kebiasaan yang sering nongkrong di warungnya Lek Sri.Ku lihat di
sana teman temanku telah berkumpul.Mereka bermandi asap.Di temani secangkir
kopi dan gorengan mereka bercanda.Mulut mulut mereka ibarat knalpot yang tiada
henti mengepulkan asap.Yah asap beracun yang membuat tubuh ku limbung.Yang
membuat dadaku sesak terbakar..
Ingin ku beranjak meninggalkan
pergi .Tapi kepulan-kepulan asap itu malah menari nari menggodaku.Merayu dan
mengajakku “ Ke sini”.Asap itu menjelma menjadi gadis cantik langkahnya meliuk
gemulai.yang sentiasa menggoda.”Sini, mampir sini.Ayo kita nikmati pagi ini di
warungnya Lek Sri.Ayo!!!.Aku temani”.Terus saja asap itu menggodaku.
“Jon,kemana saja? Sini mampir
dulu.Sudah lama kamu nggak kesini .”
Lek Sri membuatku kaget.
Lek Sri semakin membuat
syahwatku bergejolak untuk kembali menikmati asap laknat yang telah
menghancurkan tubuhku.Syahwatku pun tak henti-hentinya menggoda.
“Ayo mampir sebentar,mulutmu
sudah masam gitu, sudah lama kamu tak merokok.Sedikit saja tak ada masalah
bagimu.”
“Kamu kan sudah berjanji untuk tidak menghirup asp
laknat itu!!!.Ingat!!!! kamu sudah berjanji.!!!”Nurani dengan tegas
menghardikku.Aku juga teringat kata kata Ibu.Aku harus bisa terlepas dari
jeratan itu.
Nyali syahwatku menciut.Tak ada
keberanian sedikitpun untuk melawan hardikkan nuraniku.Aku memang telah berazam
untuk patuh dan mengikuti nuraniku dari pada syahwatku yang lebih sering
menipuku dari pada mendatangkan kebaikan untukku.
“Kapan-kapan saja Lek,aku Cuma
amau jalan-jalan saja dulu. Aku kurang enak badan.Aku pulang dulu ya.”Aku
segera pamit karena tak mau berlama-lama di situ takut diri ini tak kuasa
menahan syawat untuk kembali merokok.Aku berjalan dengan sedikit berlari.Tak ku
dengarkan syahwatku yang sedari tadi ngomel-ngomel.Aku sudah menyadari
sepenuhnya kalau nurani adalah panutanku. Pimpimnanku yang bisa membuatku
bahagia kelak.walau kadang jalannya begitu sulit dan berliku, tapi kelak akan
ku tuai hasil yang manis dari pada aku menuruti syahwatku yang awalnya terasa
nikmat dan membanggakan tapi ternyata akhirnya melahirkan beribu penyesalan
.Yah aku sangat menyesal menuruti syahwatku untuk menghirup asap laknat itu.
Dulu aku sangat bangga karena sebagai lelaki aku bisa merokok.Waktu itu aku
beranggapan bahwa merokok adalah lambang kejantanan bagi seorang pria.tapi
ternyata itu tetap semu dan semu.Tak ada hasil yang bisa membuatku tetap
membusungkan dada,tapi malah dadaku terbakar karena keangkuhanku sendiri.
*********
Ku sibakkan tirai yang menutup
jendela.Ku lihat di luar masih gelap.Hanya beberapa lampu dari kejauhan
terlihat seperti gumintang.Masih pagi, bahkan masih shubuh .Tak biasanya aku
terjaga sepagi ini.Ku lihat jam yang menghiasai hp.Yah memang masih pagi.Baru
jam 04.00 pagi.Suara tadarus membuat syahdu pagi ini.Tubuhku terasa ringan
untuk beranjak.Aku benar-benar heran.Apa ini karena aku telah berhasil
menghentikan kebiasaan burukku menghisap batang beracun itu?.Mungkin saja.Aku
merasa terlahir kembali.Hidup terasa sangat berarti bagiku.Aku merasa manjadi
manusia yang utuh,tak tergadai oleh syahwatku.Aku merasa ada panutan ,pemimpin
,yang jika aku mengikutinya.Aku akan menjadi manusia merdeka, yang terbebas
dari kungkungan syahwat.Yah, kini aku telah mengikuti nuraniku.mengikuti apa
yang dia titahkan.Ku beranjak,nuraniku menuntun untuk bersentuhan dengan
air.Berwudhu.Sebentar lagi Adzan subuh berkumandang.Dan sepertinya kali ini aku
benar-benar merasakan panggilan cinta dari Sang Khalik itu.
Mentari mengintip di balik tirai
jendelaku.Aku terlalu asyik menikmati pagi ini,hingga tak tersadar bahwa pagi
telah menghampiriku.Sang ibu mengetuk pintu hendak membangunkanku.”Lho tumben
sudah bangun….., sarapan sudah aku siapkan,Ibu mau berangkat kerja dulu.”.Aku
hanya tersenyum dan malu melihat Ibu ku yang begitu mencintaiku.Aku malu karena
telah menyia-nyiakan cintanya selama ini.Bahkan aku tak tersadar kalau selama
ini Ibuku sangat mencintaiku.Timbul Tekad ku untuk membahagiakan Ibuku.Yang
telah berperan sebagai Ayahku juga.Itu tekadku….
Kondisiku mulai membaik.Tubuhku
mulai segar..Membuatku semakin bersemangat.Asap laknat yang dulu menyelimutiku,kini
telah sirna.Aku sudah benar-benar meninggalkannya.Walau syahwat tak lelah
mengajakku untuk menghisap batang batang laknat itu.
Tak ada lagi hasrat untuk
kembali ke Warungnya Lek Sri.Tersadar olehku kini bahwa aku telah tertipu oleh
egoku dan syahwatku sendiri.Tak ada kebanggaan sedikitpun yang bisa aku lakukan
ketika aku asih merokok kecuali hanya menyia nyiakan waktu senjaku.Kini Ritme
hidup yang mengatur diriku telah aku rubah.Tak ada Kopi atau sebatang
rokok,tapi aku mengisi dengan belajar membaca Alquran dari ibu tercinta.Tak ada
rasa malu meski sebesar ini aku belum bisa membacanya.Ini lebih baik dari pada
tidak sama sekali.
Aku jengah melihat kepulan asap
menari-nari si warung itu.Aku muak.Tapi aku juga kasihan ,dan tak tega
teman-temanku terjebak asap laknat di warung LeK Sri.Aku merasa berdosa jika
aku telas ter bebas dari asap laknat itu sementara temanku masih terjebak.Ada
sebuah tekad.ingin mengajak mereka semua meninggalkan asap beracun itu.Memang
beresiko.tapi aku harus berusaha.Apa yang aku lakukan bukan sesuatau yang
mudah. tapi aku harus berusaha.Tak ada salahnya aku kembali ke warungnya Lek
Sri.Aku yakin teman-temanku pagi ini masih berkumpul di sana .
Ku langkahkan kakiku,Warung Lek
Sri adalah tujuanku.Ku lihat teman-temanku masih asyik bercanda di sana.Tak ada
yang berubah ,tetap asap mengepul,menari-nari menggoda para pecandu tuk segera
menghambur memeluknya.Tapi aku kesana tidak untuk memberikan ruang untuk
syahwatku bernostalgia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar