Kamis, 26 Januari 2012

Tertipu


                                       
Detik-detik waktu memaksa waktu segera beranjak.Berganti dari gelap menuju terang, dari terang menuju gelap.Selalu seperti itu.Aku duduk di temani secangkir kopi yang tersisa ampasnya di kerak gelas.Beberapa puntung rokok membersamaiku,menghabiskan senja yang kian beranjak gelap.Di tangan kananku,ku mainkan batang rokok yang sesekali aku hisap,ku telan dan ku biarkan masuk ke dalam kerongkongan menuju paru-paru ku dan ku keluarkan lagi.
"Uhuk!!.uhuk!!!".Meski tubuh ini sudah berisyarat,tapi tak kunjung aku hentikan.Aku malah semakin asyik memainkan batang rokok itu dan sesekali menghisap dalam-dalam.
" Mbok ya sudah merokoknya.wong batuknya sudah parah gitu lho!"tegur Ibuku ketika mendengar suara batukku yang seolah jeritan ragaku yang mulai rapuh.
Hati nuraniku sebenarnya juga berseru seperti itu,tapi aku tak kuasa jika keinginan untuk merokok itu datang.Aku merasa merokok sudah menjadi menu wajib dalam keseharianku.Aku lebih baik tidak makan asalkan ada rokok di sampingku.Rokok ibaratkan seorang istri yang akan selalu bersamaku dan menuruti segala yang aku inginkan.
                                                         ***************
Detik-detik waktu terus menuntun untuk berjalan.Membawa untuk terus berjalan mengitari siklus waktu dari gelap menuju terang,dari terang menuju gelap.Selalu ku nikmati senja dengan segelas kopi dan berbatang-batang rokok.Ibuku juga tak bosan-bosannya menegur dan mengingatkan aku.Seolah olah hidupku hari ini adalah replika dari hidupku kemaren.Tapi tubuh ini tidak mau mengikuti ritme seperti itu.Raga ini semakin ringkih, karena rokok telah menjadi gurita dalam tubuhku.Batuk membuatku tersiksa.Dan akhirnya aku limbung ,terkapar ketika tak bisa lagi ku tahan rasa sakit yang meremukkan dada.Dan aku tak tahu lagi seperti apa yang terjadi.Yang ku lihat hanya gelap.Hanya bayang bayang Ibu yang sesekali berkelebat dan kemudian menghilang kembali.Sampai akhirnya aku benar benar melihat Ibu duduk di sampingku.Mengusap usap kepalaku.”Ibu ,,ada apa ?” Tanyaku kebingungan.”Kamu tadi pingsan.Parmin melihatmu tergeletak di teras.Di sangkanya tidur,tapi pas dibangunkan kamu nggak bangun bangun.Parmin memanggil Ibu dan langsung membawamu ke Rumah sakit.Kata dokter Paru paru mu sudah rusak sebelah.Untung nyawamu masih bisa di selamatkan.kalau semenit saja terlambat mungkin kamu akan pergi meninggalkan Ibu sendirian.”Raut sedih menggelayut dalam air muka Ibuku.Aku tersadar telah membuatnya sedih.”Kamu harus berhenti merokok,kalau masih ingin menemani Ibu”.Kata  kata Ibu begitu menghentak dalam dadaku.Kata kata lembut tapi penuh ketegasan.Dulu Ibu yang hanya sekedar mengingatkan ,kini benar benar melarangku untuk bersentuhan dengan Batang laknat itu. Aku bimbang.Tapi demi Ibu akan ku coba lakukan."Kamu harus berhenti!!!!"Kali ini nuraniku tegas memerintahkan aku untuk berhenti mencumbu batang beracun itu.Hampir seminggu aku harus berbaring di Rumah Sakit .Merepotkan Ibuku,merepotkan Semuanya.Aku tak pernah tahu dari mana Ibu mendapatkan uang untuk membayar biaya berobatku selam di rumah saki.Setiap kali aku bertanya ,Ibu selalu menjawab “Tak usah kamu pikirkan ,yang penting kamu sembuh dan jangan merokok lagi.”Tegas Ibuku.DI rumah Ibuku  menjauhkan sejauh-jauhnya dari rokok dan aksesorisnya.Bahkan baunya pun tak berkenan tercium olehku.Aku hanya menurut saja dan mengikuti semua anjuran dan larangan itu.Walau mulut ini terasa asam. walau syahwat ini masih ingin membersamai dan menikmati batang rokok itu.Aku sudah tak bisa menahan rasa masam dalam mulut ini."Kalau diri mampu berdiri,pasti aku kan segera beranjak ke warungnya Lek Sri.Dan akan aku nikmati sebatang rokok di sana." gumanku
Tapi kali ini aku tak bisa menggerakkan tubuh ini sedikitpun.Terasa.panas!!!!!.
"Kamu ini ngeyel kalau di kasih tahu.sudah di suruh berhenti merokok ,tetap saja nggak mau berhenti.Sekarang kalau sudah seperti ini siapa yang repot dan susah".Ku dengar Ibu menggerutu,saat mengantarkan makanan ke kamarku.Aku hanya terdiam. Ada rasa sesal yang mulai merasuk.Ada rasa sesal tak aku gubris nurani yang setiap waktu berteriak-teriak.Tapi syahwat lebih menggodaku untuk terus memeluk dan mencumbu batang-batang rokok itu.Aku lebih meilih membebaskan diriku untuk mengikuti syahwat dari pada terkungkung oleh nurani yang bawel.Tetap kunikmati,ku hisap batang-batang rokok itu.Setiap kelelahan ,keruwetan yang mengendap dalam tubuh ini,terlepas bersama asap-asap yang aku hembuskan.Tanpa ku sadari semua, bahwa kenikmatan itu harus berbayar.Karena setiap terlepasnya keruwetan dan kelelahan ini keluar bersama asap itu.,ternyata batang -batang rokok itu meninggalkan racun yang akan membuat ragaku ringkih dan semakin ringkih.
                                                             ***********

Jasad ini telah bersepakat dan merapat dengan nurani.Berazam untuk saling menjaga dan saling melindungi.Aku akan berusaha mengikuti hati nurani.Akan ku kurung syahwat yang selalu mengajakku ,menyesatkanku untuk mengikuti keinginannya menghisap batang-batang beracun itu.
“Bagaimana keadaanmu,apa sudah baikan?”.Tanya ibuku saat mengantarkan sarapan untukku di kamar.
.“Sudah Bu ,Ini juga mau keluar sebentar, mau jalan-jalan pagi Bu,.Badan sudah kaku semua karena sudah lama tak di gerakkan”
“Ya sudah”
Memang kasih ibu sepanjang masa.Tak ku ragukan lagi pepatah itu.Sekarang aku benar-benar merasakan sendiri.Sekarang aku rasakan sendiri dengan tulus Ibuku merawatku di kala sakitku .
Pagi ini aku paksakan tubuh ringkih ku ini untuk keluar menghirup udara segar.setelah beberapa hari terkungkung di dalam kamar.Entah mengapa kaki ini menuntunku untuk melangkah ke sudut desa.Hingga ku lihat jelas orang-orang berkumpul di sana. Berkumpul di warungnya Lek Sri.Mungkin karena terbawa kebiasaan yang sering nongkrong di warungnya Lek Sri.Ku lihat di sana teman temanku telah berkumpul.Mereka bermandi asap.Di temani secangkir kopi dan gorengan mereka bercanda.Mulut mulut mereka ibarat knalpot yang tiada henti mengepulkan asap.Yah asap beracun yang membuat tubuh ku limbung.Yang membuat dadaku sesak terbakar..
Ingin ku beranjak meninggalkan pergi .Tapi kepulan-kepulan asap itu malah menari nari menggodaku.Merayu dan mengajakku “ Ke sini”.Asap itu menjelma menjadi gadis cantik langkahnya meliuk gemulai.yang sentiasa menggoda.”Sini, mampir sini.Ayo kita nikmati pagi ini di warungnya Lek Sri.Ayo!!!.Aku temani”.Terus saja asap itu menggodaku.
“Jon,kemana saja? Sini mampir dulu.Sudah lama kamu nggak kesini .”
Lek Sri membuatku kaget.
Lek Sri semakin membuat syahwatku bergejolak untuk kembali menikmati asap laknat yang telah menghancurkan tubuhku.Syahwatku pun tak henti-hentinya menggoda.
“Ayo mampir sebentar,mulutmu sudah masam gitu, sudah lama kamu tak merokok.Sedikit saja tak ada masalah bagimu.”
“Kamu kan sudah berjanji untuk tidak menghirup asp laknat itu!!!.Ingat!!!! kamu sudah berjanji.!!!”Nurani dengan tegas menghardikku.Aku juga teringat kata kata Ibu.Aku harus bisa terlepas dari jeratan itu.
Nyali syahwatku menciut.Tak ada keberanian sedikitpun untuk melawan hardikkan nuraniku.Aku memang telah berazam untuk patuh dan mengikuti nuraniku dari pada syahwatku yang lebih sering menipuku dari pada mendatangkan kebaikan untukku.
“Kapan-kapan saja Lek,aku Cuma amau jalan-jalan saja dulu. Aku kurang enak badan.Aku pulang dulu ya.”Aku segera pamit karena tak mau berlama-lama di situ takut diri ini tak kuasa menahan syawat untuk kembali merokok.Aku berjalan dengan sedikit berlari.Tak ku dengarkan syahwatku yang sedari tadi ngomel-ngomel.Aku sudah menyadari sepenuhnya kalau nurani adalah panutanku. Pimpimnanku yang bisa membuatku bahagia kelak.walau kadang jalannya begitu sulit dan berliku, tapi kelak akan ku tuai hasil yang manis dari pada aku menuruti syahwatku yang awalnya terasa nikmat dan membanggakan tapi ternyata akhirnya melahirkan beribu penyesalan .Yah aku sangat menyesal menuruti syahwatku untuk menghirup asap laknat itu. Dulu aku sangat bangga karena sebagai lelaki aku bisa merokok.Waktu itu aku beranggapan bahwa merokok adalah lambang kejantanan bagi seorang pria.tapi ternyata itu tetap semu dan semu.Tak ada hasil yang bisa membuatku tetap membusungkan dada,tapi malah dadaku terbakar karena keangkuhanku sendiri.
                                                     *********
Ku sibakkan tirai yang menutup jendela.Ku lihat di luar masih gelap.Hanya beberapa lampu dari kejauhan terlihat seperti gumintang.Masih pagi, bahkan masih shubuh .Tak biasanya aku terjaga sepagi ini.Ku lihat jam yang menghiasai hp.Yah memang masih pagi.Baru jam 04.00 pagi.Suara tadarus membuat syahdu pagi ini.Tubuhku terasa ringan untuk beranjak.Aku benar-benar heran.Apa ini karena aku telah berhasil menghentikan kebiasaan burukku menghisap batang beracun itu?.Mungkin saja.Aku merasa terlahir kembali.Hidup terasa sangat berarti bagiku.Aku merasa manjadi manusia yang utuh,tak tergadai oleh syahwatku.Aku merasa ada panutan ,pemimpin ,yang jika aku mengikutinya.Aku akan menjadi manusia merdeka, yang terbebas dari kungkungan syahwat.Yah, kini aku telah mengikuti nuraniku.mengikuti apa yang dia titahkan.Ku beranjak,nuraniku menuntun untuk bersentuhan dengan air.Berwudhu.Sebentar lagi Adzan subuh berkumandang.Dan sepertinya kali ini aku benar-benar merasakan panggilan cinta dari Sang Khalik itu.
Mentari mengintip di balik tirai jendelaku.Aku terlalu asyik menikmati pagi ini,hingga tak tersadar bahwa pagi telah menghampiriku.Sang ibu mengetuk pintu hendak membangunkanku.”Lho tumben sudah bangun….., sarapan sudah aku siapkan,Ibu mau berangkat kerja dulu.”.Aku hanya tersenyum dan malu melihat Ibu ku yang begitu mencintaiku.Aku malu karena telah menyia-nyiakan cintanya selama ini.Bahkan aku tak tersadar kalau selama ini Ibuku sangat mencintaiku.Timbul Tekad ku untuk membahagiakan Ibuku.Yang telah berperan sebagai Ayahku juga.Itu tekadku….
Kondisiku mulai membaik.Tubuhku mulai segar..Membuatku semakin bersemangat.Asap laknat yang dulu menyelimutiku,kini telah sirna.Aku sudah benar-benar meninggalkannya.Walau syahwat tak lelah mengajakku untuk menghisap batang batang laknat itu.
Tak ada lagi hasrat untuk kembali ke Warungnya Lek Sri.Tersadar olehku kini bahwa aku telah tertipu oleh egoku dan syahwatku sendiri.Tak ada kebanggaan sedikitpun yang bisa aku lakukan ketika aku asih merokok kecuali hanya menyia nyiakan waktu senjaku.Kini Ritme hidup yang mengatur diriku telah aku rubah.Tak ada Kopi atau sebatang rokok,tapi aku mengisi dengan belajar membaca Alquran dari ibu tercinta.Tak ada rasa malu meski sebesar ini aku belum bisa membacanya.Ini lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Aku jengah melihat kepulan asap menari-nari si warung itu.Aku muak.Tapi aku juga kasihan ,dan tak tega teman-temanku terjebak asap laknat di warung LeK Sri.Aku merasa berdosa jika aku telas ter bebas dari asap laknat itu sementara temanku masih terjebak.Ada sebuah tekad.ingin mengajak mereka semua meninggalkan asap beracun itu.Memang beresiko.tapi aku harus berusaha.Apa yang aku lakukan bukan sesuatau yang mudah. tapi aku harus berusaha.Tak ada salahnya aku kembali ke warungnya Lek Sri.Aku yakin teman-temanku pagi ini masih berkumpul di sana.
Ku langkahkan kakiku,Warung Lek Sri adalah tujuanku.Ku lihat teman-temanku masih asyik bercanda di sana.Tak ada yang berubah ,tetap asap mengepul,menari-nari menggoda para pecandu tuk segera menghambur memeluknya.Tapi aku kesana tidak untuk memberikan ruang untuk syahwatku bernostalgia.

Senin, 23 Januari 2012

ANGKOT KENANGAN

Melihat belantara jalan begitu padat,males sebenarnya untuk pergi jauh.Apalagi harus berkendara.Tapiiii.......
Aku harus tetap beranjak,karena celana ini harus segera di jahit.Malu rasanya  bila terlihat sama teman teman.Bisa jadi bahan olokan seharian.Mau nggak mau aku harus ke Sayati,mencari tukang permak celana,untuk menambal celana ini.Itu juga berarti aku harus menelusuri belantara jalan yang begitu padat dengan kuda besi.Serangga berkaki empatpun  berjubel menjadi jalan itu penuh sesak tak bergerak.Tak kalah ruwet si hijau pun parkir sembarangan berebut penumpang.Aku pun jadi salah satu orang yang jadi rebutan itu.Aku terpaksa naik dan berharap kan segera sampai Ke Sayati.Semua melata, merayap ,pelan..pelan sekali,membuat aku sangat jengah.Si hijau terus saja merayap dan terus merayap,hingga si sebuah gang, si hijau berhenti.Ada calon penumpang,yang sepertinya ingin menggunakan jasanya.Ku lihat ada dua wanita,yang satu setengah baya, dan satunya lagi sepertinya masih gadis,karena dari cara berpakaian yang stylish,aku bisa memastikan kalau memang dia masih belia.
Dan memang benar dugaanku.aku kurang tahu apakah mereka anak Ibu ,atau saudara.dan memang aku tak perlu  tahu itu."Ya,,,mungkin sedikit  mengusir jengahku,lumayan juga untuk cuci mata."Pikirku.He he he he he.
"Lek,,,,,,mau Anik titip kok nukokne jaket sisan yen neng Sayati.Mau Sms karo aku".Aku terperangah,,,kaget,,mungkin juga senang.Dialek jawa begitu faseh keluar dari mulut kedua wanita tadi.Aku merasa senang aja bisa bersua dengan sesama perantau,tapi aku diam,berusaha menyembunyikan identitasku sebagai orang jawa.Sungguh bukan  karena malu,aku cuma menjaga sikap saja.Kan nggak asyik kalau aku SKSD,Sok kenal sok dekat dengan mereka.Aku cuma terdiam dan terus menyimak obrolan mereka.Sebenarnya nggak enak juga, tapi karena aku paham bahasa itu,mau tidak mau aku pun begitu jelas mendengar obrolan mereka.Dan memang aku sangat menikmati sejenak afmosfer jawa di angkutan itu.Serasa diri ini terhantar ke Kampung halaman,di daerah Wonogiri yang selalu ku rindukan.Gunung Gajah Mungkur yang selalu ku singgahi ketika aku mudik,sampai Obyek Wisata batu seribu,berseliweran dalam memoriku.
Masih segar dalam ingatanku, waktu itu aku bersama teman-teman sepermainan waktu kecil, reunian Hiking  ke Gunung Gajah Mungkur,rasa bahagia itu begitu menbuncah,tak bisa tertuangkan dalam sebuah ungkapan.Canda tawa,guyonan,olok2an,smua membuat acara reunian itu menjadi ajang kangen .Sepanjang pendakian kami saling bercerita tentang masa kecil kami yang sangat menyenangkan,,,.Kesempatan itu juga kami manfaatkan untuk berkisah tentang perjalanan hidup masing masing yang menghantar menjadi manusia urban.Iwan sahabat kecilku,yang tetap kecil ini bercerita tentang kelahiran pertamanya."Sebelum puasa kemaren Anakku lahir ,,wah cuakepe seperti bapaknya, he he he he".Dengan bangganya Iwan mengenalkan anaknya itu."Iya  asal ngga hitam dan pendek kaya bapaknya".Celetuk Imran,yang di sambut gelak tawa kami semua."Hamdulillah,puasa kemaren aku mengkhitbah wanita idamanku.Insyaalloh nati habis lebaran akad nikah dan walimahannya.Ilyaspun tak mau kalah untuk berbagi kebahagianya.Kami semua mengucapkan selamat Barakallahu laka wa baroka alaika  wa jama'a baina kuma fi khoir.Yang di amini begitu dalam oleh Ilyas.Imran pun yang sudah dulu berumah tangga bercerita tentang prestasi anak sulungnya yang menjadi juara satu lomba bulu tangkis tingkat Provinsi.Selang beberapa detik,semua mata tertuju padaku,tatapan mereka begitu dalam ,seolah mengharap sebuah jawaban.Aku juga tahu maksud dari tatapan mereka itu.Tatapan mereka,seolah bertanya." Kamu kapan menyusul?????".Ah ... tak akan aku jawab,dan memang tak perlu aku jawab."Wah ,,, tuh lihat air terjun itu,,indah banget, mandi dulu yuk,biar tak terlalu gerah",Ajakku untuk mengalihkan tanya tersirat mereka,yang memang sangat sulit aku jawab,untuk urusan yang satu ini aku memang kurang beruntung di bandingkan dengan sohib-sohibku ini.Aku sering gagal untuk melanjutkan sebuah proses ta'aruf menjdi sebuah khitbah,,berkali-kali aku coba,tapi aku selalu gagal,untuk melanjutkannya.Entah kenapa seperti itu,mungkin aku yang terlalu tinggi membuat kriteria,atau memang aku orang yang sulit untuk mencintai.

Sebuah tanya (?)

Curhat dan berbicara masalah penyakit mata yang aku derita tak ada bosannya bagiku,meski bagi teman semuanya itu bukan masalah yang penting tapi bagiku,itu sangat luar biasa berpengaruh pada masa depan dan karierku.Di sini aku tak mau berbicara masalah manfaat mata dan fungsi besarnya dalam kehidupan kita,tapi mungkin aku hanya akan membahasanya,betapa pentingnya mata bagiku dan tentunya bagi teman semuanya.Apa yang aku derita,aku alami saat ini pasti membuat kita berpikir.Minimal kita akan bertanya  "Ada apa ini?"Dan dari pertanyaan sederhana itu ,kita akan mencoba mencari sebuah jawaban,Dan dari jawaban itu kita akan melakukan sesuatu .Begitu pun diriku teman,Sejak awal memang aku kurang begitu peduli dengan penyakit mata yang aku derita ini.Aku hanya diamkan saja,karena buasanya akan sembuh dengan sendirinya,ketika penyakit mata ini kambuh.Itu mungkin kesalahan pertama saya."Membiarkan sesuatu yang kecil menjadi besar dan sulit di kendalikan".Dan ternyata sikap seperti itu sangat lah buruk sekali.Sikap itu terus berlanjut ,hingga suatu ketika aku benar benar mengalami gangguan mata yang sangat serius dan membutuhkan pertolongan segera.Dalam tahap seperti itu baru tersadar betapa bodohnya aku dalam menyikapi sebuah penyakit ,ataupun masalah yang lain.Pertanyaan pertama sudah terjawab,berlanjut ke pertanyaan berikutnya.Apa aku terlambat menyadari semua ini???.Hemmmm dan jawabannya yah memang aku terlambat menyadari akan semua ini.Aku terlambat mengantisipasi,aku terlambat menyadari,untungnya aku masih punya harapan untuk melihat kembali,walau memang aku harus menerima ketika mata kiri saya tidak banyak harapan untuk kembali seperti semula/Mau tahukah teman apa jawaban dokter ketika aku ajukan pertanyaan seperti ini"Dok gimana dengan kondisi mata yang sebelah kiri?".Dokter pun dengan jelas mengatakan"Maaf untuk mata yang sebelah kiri ,kami tidak bisa menjamin bisa kembali seperti semula,kalaupun bisa di sembuhkan butuh waktu yang lama"."Trus kemungkinan terburuknya seperti apa dok?"."Anda akan mengalami penglihatan buram yang permanen."Sebuah jawaban yang jujur,tapi membuatku miris dan berpikir.betapa terlambat menyadari sesuatu membuat kita mendapatkan sesuatu yang lebih buruk pula.Jujur aku tak begitu terkejut dengan jawaban sang Dolter tersebut,Karena sebelumnya aku sudah berserah diri kepada Allah akan apa yang kan terjadi pada diriku.Pun tak lupa aku berharap moga cepat disembuhkan dari penyakit yang tengah aku derita ini.Dan sikap itulah yang muncul dan membuatku lebih tenang dan siap menghadpai semua yang terjadi ini.
Berlanjut hari ,berlanjut pula logika ini berpikir atas kejadian yang menimpa.Apa ini sebuah cobaan hidup,Atau jangan jangan ini sebuah peringatan dari sikap sikapku yang terdahulu yang telah melenceng dari norma agama yang aku anut?Pertanyaan itu tentu mebuatku semakin serius memikirkan dan mengingat ingat atas apa yang telah aku lakukan tempo hari,,dan memang setelah aku ingat ingat kembali ,ada banyak hal yang telah melenceng dari kaidah kaidah agama yang aku anut.Dari situlah sedikit demi sedikit aku mencoba memperbaiki apa yang di rasa salah .Dan mempertahankan apa yang sudah baik.Dan semua itu butuh proses       yang lama ,
Saat ini saat aku tulis tulisan ini kondisi mata ku belum sepenuhmya pulih,Tapi keinginan yang kuat untuk menulis mengalahkan rasa sakit yang aku rasa,Karena bagiku menuilis adalah energi terbarukan yang mampu menggedor semangat hidupku,energi yang mampu mebakar asa dalam hidupku.Aku berharap semua nya akan semakin baik dan lebih baik lagi.Dari setiap apayang terjadi pada diriku semoga mampu menjadikanku menjadi manusia yang lebih dan lebih baik lagi. Dan yang tak pernah aklu lu[pakan adalah meminta doa kepada teman teman  untuk sudi kiranya memberikan seuntai doa untuk kesebuhab jiwa ,kesembuhan akhlag dan kesembuhan bathin,

Minggu, 15 Januari 2012

ASA YANG AKAN TERUS KU GAPAI: MATA ADALAH ANUGERAH

ASA YANG AKAN TERUS KU GAPAI: MATA ADALAH ANUGERAH

MATA ADALAH ANUGERAH

Dalam gejolak hati,hadir sebuah kerinduan.Hampir dua bulan lebih aku tak mampu menjalankan aktifitasku dengan normal.bahkan kerjapun aku minta cuti ,karena memang tak mampu melakukan aktifitas apapun,karena penglihatanku sedang terganggu.Dan itu adalah gangguan penglihatan yang paling parah yang pernah kua alami.Okey ...aku tak akan membicarakan kenapa dan mulai kapan gangguan mata itu aku alami,tapi  penyakit itu sudah aku derita sejak satu tahun yang lalu,Aku tidak tahu apa itu masih berkaitan dengan amputasi jari kiriku aku tidak,Tapi keluhan di mata itu muncul tak lama setelah jari ini diamputasi.
sEBENARNYA SEBELUM MATAKU PARAH AKU SUDAH BERUSAHA MENGOBATINYA  DAN BERUSAHA MENYEMBUHKAN PENYAKIT ITU,aDA YANG MRMBRTI SARAN pERGI KEsana mdarang Kesii,Tapi tak pernah aku lakukan ,karena aku malah bingung sendiri,Akup un memutuskan untuk pergi ke dokter spesialis mata,untuk memcari solusi yang tepat,walaua mahal banget.Tapi ternyata tak memberikan hasil yang maksimal,bukan karena dokternya yang kurang bagus ,tapi karena faktor akunya yang tidak serius,karena alasan klasik ,Apalagi kalau bukan masalah biaya.sEPERTI APA YANG SUDAH AKU KATAKAN TADI BAHWA UNTUK PERGI KE SPESIALIS BUTUH DOMPET YANG TEBAL UNTUK SEKALI BEROBAT.sEMENTARA PENGHASILANKU JUGA TAK TERLALU BESAR ,DI TAMBAH  BANYAK TERJADI HAL HAL YANG TAK TERDUGA YANG HARUS MEMAKSAAKU MENGAMBIL TABUNGAN..
Dan akhirnya aku tak bisa nego lagi dengan penyakitku ini,ketika kedua mata ku mengalami buram parah,Sisa tabungan yang tak seberapa aku ambil untuk biaya berobat Ke Rumah sakit khusu Mata.Hati bercampur aduk jadi satu,aku khawatir uangku tidak cukupmaku juga ketakutan akan kemungkunan terburuk,"Naudubillah" aku mengalami kebutaan.Tahukah??????aku mengalami depresi yang amat sangat dalam menjalani episode itu.Aku bnear benar merasa terpuruk,bahkab sempat terpikir untuk mengakhiri hidup,,tapi alhamdulillah itu tak aku lakukan ,karena masih ada setitik iman di hati yang melarangku untuk melakukan itu,dan menasehatiku bahwa itu bukan solusi yabg terbaik.Ketika tangan ini sudah memegang pisau,,hati kecilpun selalu berkata "Itu bukan solusi terbaik"Istighfarpun terucap,dan aku mencoba untuk kuat dan bertahan.Kejadian itu terus berulang dan terulang,yapi Allah selalu menguatkanku untuk tidak melakukan hal bodoh untukmengakhitri hidup.Sefenatnya aku juga tak bisa memahami kenapa aku bisaselemah itu,Mungkin karena lelah dan jengah dengan episode episode hidupku yang menguras energi dan logika ku untuk menterjemahkan semua dalam kontek yang positif walau kadang semua itu terasa sangat sangat berat,Sekali ,dua kali mungkin aku bisa melewati,tapi untuk yang ketiga kalinya energiku sudah ahbis dan aku pun ngedrop,
Dengan sisa sisa energi yang aku punya,aku mencoba bangkit kembali dan berusaha kembali menata hati.Sedikit demi sedikit,pelan tapi pasti,merangkak ku coba berdiri,Berusaha optimis,berdoa,positif thingking,aku mulai berjalan danm enapaki episode kali ini.Dan hamdulillah atas Pertolongan Allah,semakin hari penglihatanku semakin membaik,meski belum pulih.Kini aku sudah bisa beraktifitas,dan tang pasti aku bisa menulis lagi dan berbagi  di sini,Doalan saja kau mampu melewati semua ini dan aku terus bisa menulis dan berbagi,Minimal bisa manfaat untuk diri pribadi,dan berharap juga manfaat untuk orang lain,,Terus berkarya dan tetap semangatttttt