Minggu, 19 Februari 2012

Kerinduan Mas Slamet

  Lebaran tahun lalu aku ikut mudik mas Slamet ke Wonogiri.Dia itu sahabatku yang sangat baik dan ramah.Aku kenal Mas Slamet saat dia mulai ngontrak di kontrakan Ayahku.Meskipun dia hanya penjual bakso keliling, tapi dia sangat dermawan dan siap membantu siapa saja yang membutuhkan bantuanya.Itulah mengapa aku sangat dekat denganya.Dia sudah ku anggap kakak aku sendiri.Begitupun keluargaku.Mereka sudah menganggap Mas Slamet bagian dari keluarga kami. 
  Suatu keberuntungan bagiku,dia mau mengajakku ke kampung halamannya.Tanpa pikir panjang aku pun langsung meng-iyakannya.Sangatlah bodoh bagiku menyia-nyiakan kesempatan ini.Jarak antara Bandung -Wonogiri yang jauh pun tak menyurutkan hasratku untuk berkunjung ke tempat sahabatku itu.Dari ahklaqnya yang sangat luar biasa itu,terlintas dalam pikiranku betapa indahnya jalinan persaudaraan di antara tetangga Mas Slamet.Dan aroma ke bersamaan,gotong royong,dan saling peduli masih di pegang teguh masyarakat di desa Mas Slamet.Memang itu baru terlintas dalam pikiranku,karena mas Slamet jarang menceritakan keadaan di desanya.Kalau dia mau bercerita paling cuma menceritakan keindahan panorama Waduk gajah mungkur dan sejarahnya.tak lebih.Dia lebih asyik membicarakan konflik Palestina dengan analisis-analisisnya yang sangat cerdas.Kalau sudah membicarakan topik itu,dia tampak bersemangat,seoalah -olah dia ingin ikut berjuang membela rakyat Palestina.Itulah yang membuat aku semakin kagum dengan pribadinya.Bayangkan, dia yang cuma pedagang bakso keliling lulusan SMP,dengan begitu cerdasnya menganalisa suatu masalah. hebat bukan?.Yang lebih membuatku kagum,wawasanya sangat luas apalagi kalau menyangkut tentang islam.
   Hari yang di tunggu akhirnya datang juga.Setelah ada keputusan dari management pabrik tempat aku bekerja tentang kapan mulai libur dan berapa lama ,aku memutuskan untuk tinggal di rumahnya Mas Slamet kurang lebih seminggu.Supaya aku lebih mengenal  Mas Slamet dan lingkunganya .Jujur saja aku sangat penasaran, kenapa Mas Slamet yang bukan anak pesantren,bukan pula seorang mahasiswa punya kepribadian yang santun dan punya wawasan yang sangat luas.Aku sangat ingin tahu bagaimana keluarga mas Slamet dan keadaan masyarakat disana sehingga bisa membentuk karakter seorang Mas Slamet yang sangat santun dan halus budi pekertinya.
   Hatiku semakin berdebar ketika sampai di agen Bus Kramat djati yang akan membawaku ke kota Wonogiri.
   "Mas nanti kira-kira sampai Wonogiri jam berapa mas?" tanyaku.
   "Sekitar jam tiga dini hari.Itupun kalau perjalanan lancar.Kenapa sudah nggak sabar ya?"
   "Ya mas. Aku pingin cepat sampai di Wonogiri.Aku penasaran seperti apa sih Wonogiri?"
Mas Slamet hanya tersenyum dan berkata" Sabar ya,nanti juga tahu."
Hari ini bis penuh penumpang.Untung jauh-jauh hari aku sudah memesan tiket ,sehingga aku tak perlu khawatir lagi kalau akan gagal berangkat ke Wonogiri.Dalam perjalanan aku tak bisa pejamkan mata.Pikiranku gelisah.Karena ini pengalaman aku merasakan mudik.Biasanya aku di rumah saja nggak kemana-mana,karena aku memang asli orang Bandung.Kira-kira jam tiga,aku sampai di terminal Krisak.Mas Slamet mengajakku mampir sebentardi warung soto yang berjajar di sepanjang kios terminal untuk santap sahur.Setelah puas menikmati Soto.MasSlamet merogoh sakunya.Mengambil HP dan menghubungi kerabatnya untuk menjemputnya di terminal Krisak.Tak sampai setengah jam jemputanpun datang.Udara dingin tak membuat kami ragu untuk menggeber motor.Ternyata rumah Mas Slamet cukup jauh dari terminal.Dalam perjalanan samar-samar kulihat aku melewati beberapa areal persawahan.Orang sini memyebutnya "mbolak".Menjelang subuh kami sampai di rumah.Kebahagiaaan tampak di raut muka orang tua mas Slamet.Aku jadi iri menyaksikan kebahagiaan itu. Memang di hari nan Fitri ini tiada kebahagiaan yang sempurna tanpa berkumpul dengan keluarga.Sedangkan aku malah jauh dari orang tuaku.sedih banget!.
   "Selamat datang di gubug kami yang reot ini,mudah-mudahan adik betah" sapa orang tua mas Slamet merendah.Padahal kalau aku perhatikan Rumahnya nggak kalah bagus dengan rumahku di Bandung.Tapi mereka menyebutnya gubug.
   " Ya " jawabku singkat
   Mas Slamet langsung membawaku ke kamarnya.Dia sangat tahu kalau akau kecapean.Setelah aku masuk ke kamarnya .baru ku temukan jawabannya."Pantas saja mas Slamet wawasannya sangat luas dan cerdas.hampir semua kamarnya berisi buku".
  "Dik kamu istirahat dulu saja ,ntar kalau sudah waktu subhuh aku bangunin". pesan mas Slamet membuyarkan kekagumanku.
   Habis sholat subuh di masjid aku langsung tidur.Aku merasakan badanku capek semua.Sekitar jam tujuh aku di bangunin Mas Slamet.dengan malasnya aku terpaksa bangun.Kalau aku nggak merasa malu dengan Mas Slamet pasti aku akan tidur lagi..Aku di ajak jalan jalan mengitari desa."MasyaAllah" aku takjub.Semua rumah di desa ini terbuat dari tembok tak ada satupun rumah yang terbuat dari anyaman bambu.Bahkan di setiap teras terpampang sepeda motor."Bagus banget!.Busyet di kampung terpencil ini,masyarakatnya sudah makmur.Melebihi tempat tinggalku yang disebut kota." kataku dalam hati.
   "Kenapa. kamu heran ya?" tanya mas slamet mengagetkanku.
   "Iya mas.Aku nggak nyangka.Slama ini yang ada dalam bayanganku kalau di sisni tempatnya seperti desa yang lain.Tempatnya asri dan rumahnya yang masih sangat sederhana yang terbuat dari anyaman bambu.Tapi ternyata aku salah.Tak satupun kulihat rumah yang terbuat dari bambu" jawabku takjub.
   "Kamu jangan heran.seperti halnya saya,rata-rata warga desa ini adalah perantauan yang sukses.Meskipun mereka hanya seorang penjual bakso ataupun penjual jamu gendong"
 benar juga kata mas Slamet.Memang selama ini setiap ketemu pedagang bakso atau jamu, kebanyakan berasal dari Wonogiri.
   " Tapi meskipun masyarakat desa ini telah makmur ada sesuatu yang hilang dari desa ini"lanjut Mas Slamet.
   "Apa mas ?" tanyaku penasaran.
   "Itu ada Masjid,kita kesana yuk.Biar ngobrolnya lebih enak." ajak mas Slamet..
Aku ikut saja ajakan mas Slamet.Aku penasaran apa yang akan di ceritakan mas Slamet.
   "Kamu perhatikan Masjid ini.Ini adalah saksi bisu.Betapa Masjid ini dulunya sangat ramai dengan dakwah.Kami saling bahu- membahu memakmurkan Masjid ini.Tapi semenjak pemuda  di sini yang menjadi tulang punggung Masjid ini satu per satu pergi merantau mengikuti jejak orang tua mereka,Masjid ini jadi redup.Masjid ini ramai menjelang puasa dan sepi setelah lebaran.Aku sangat merindukan dan berharap suatu saat Masjid ini kembali makmur seperti dulu lagi.".jawab Mas Slamet.sekilas kulihat matanya mulai gerimis.
   "Yang membuatku semakin sedih,teman-teman seperjuanganku mulai berubah. Mereka tak lagi peduli dengan Masjid ini.Meskipun mereka sukses secara materi,tapi hati mereka mulai kering.Tak ada lagi semangat untuk kembali memakmurkan Masjid.Mereka lebih asyik memamerkan hasil yang dia dapat di perantauan.Mereka mulai gengsi dan merasa malu untuk kembali memakmurkan Masjid ini." mata Mas Slamet semakin gerimis.
  Aku semakin salut dengan pribadi mas Slamet.Dia memang beda dengan teman-teman perantauannya.Biarpun dia sudah sukses tapi tetap peduli dengan lingkungan desanya.
  Mas Slamet mengusap peluh di pipinya, beranjak dan mengajakku masuk kedalam Masjid.Sejenak dia menatap masjid itu.tak bisa di sembunyikan raut kesedihahn di mukanya.Dia tampak mengenang.Kulihat peluh kembali menetes di pipinya.Entah karena malu air matanya terlihat olehku.Dia langsung mengusapnya.dan mengambil sapu untuk membersihkan Masjid ini.
   "Mau bantu?"Mas Slamet menyodorkan sapu padaku. Ku sambut tawaranya.Memang meskipun megah masjid ini tak terurus.Banyak rumah serangga.di sudut-sudut ruangan.Dengan semangat Mas Slamet membersihkan Masjid itu. Akupun tak mau ketinggalan.Menjelang dhuhur pekerjaan itu selesai.Mas Slamet memberi kode supaya aku mengumandangkan adzan.Karena tak ada jamaah yang datang .kamipun sholat berdua.
    " Kita pulang dulu yuk?"ajak Mas Slamret setelah selesai sholat." Hari ini ada menu spesial untuk berbuka puasa."
    "Apa mas?"
    "Mau tahu?" aku mengangguk."Tadi aku pesan sama ibu untuk di buatkan nasi thiwul khas Wonogiri.Di jamin pasti enak!".Air liurku keluar karena tergiur .Sepanjang perjalanan pulang aku selalu membayangkan untuk segera menyantap nasi thiwul.Aku penasaran .Apa rasanya seperti yang di ceritakan Mas Slamet.Dan berharap adzan magrib segera berkumandang . Aku sudah nggak sabar ingin menikmati nasi thiwul.
                                                                           -oOOo-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar