Melihat belantara jalan begitu padat,males sebenarnya untuk pergi jauh.Apalagi harus berkendara.Tapiiii.......
Aku harus tetap beranjak,karena celana ini harus segera di jahit.Malu rasanya bila terlihat sama teman teman.Bisa jadi bahan olokan seharian.Mau nggak mau aku harus ke Sayati,mencari tukang permak celana,untuk menambal celana ini.Itu juga berarti aku harus menelusuri belantara jalan yang begitu padat dengan kuda besi.Serangga berkaki empatpun berjubel menjadi jalan itu penuh sesak tak bergerak.Tak kalah ruwet si hijau pun parkir sembarangan berebut penumpang.Aku pun jadi salah satu orang yang jadi rebutan itu.Aku terpaksa naik dan berharap kan segera sampai Ke Sayati.Semua melata, merayap ,pelan..pelan sekali,membuat aku sangat jengah.Si hijau terus saja merayap dan terus merayap,hingga si sebuah gang, si hijau berhenti.Ada calon penumpang,yang sepertinya ingin menggunakan jasanya.Ku lihat ada dua wanita,yang satu setengah baya, dan satunya lagi sepertinya masih gadis,karena dari cara berpakaian yang stylish,aku bisa memastikan kalau memang dia masih belia.
Dan memang benar dugaanku.aku kurang tahu apakah mereka anak Ibu ,atau saudara.dan memang aku tak perlu tahu itu."Ya,,,mungkin sedikit mengusir jengahku,lumayan juga untuk cuci mata."Pikirku.He he he he he.
"Lek,,,,,,mau Anik titip kok nukokne jaket sisan yen neng Sayati.Mau Sms karo aku".Aku terperangah,,,kaget,,mungkin juga senang.Dialek jawa begitu faseh keluar dari mulut kedua wanita tadi.Aku merasa senang aja bisa bersua dengan sesama perantau,tapi aku diam,berusaha menyembunyikan identitasku sebagai orang jawa.Sungguh bukan karena malu,aku cuma menjaga sikap saja.Kan nggak asyik kalau aku SKSD,Sok kenal sok dekat dengan mereka.Aku cuma terdiam dan terus menyimak obrolan mereka.Sebenarnya nggak enak juga, tapi karena aku paham bahasa itu,mau tidak mau aku pun begitu jelas mendengar obrolan mereka.Dan memang aku sangat menikmati sejenak afmosfer jawa di angkutan itu.Serasa diri ini terhantar ke Kampung halaman,di daerah Wonogiri yang selalu ku rindukan.Gunung Gajah Mungkur yang selalu ku singgahi ketika aku mudik,sampai Obyek Wisata batu seribu,berseliweran dalam memoriku.
Masih segar dalam ingatanku, waktu itu aku bersama teman-teman sepermainan waktu kecil, reunian Hiking ke Gunung Gajah Mungkur,rasa bahagia itu begitu menbuncah,tak bisa tertuangkan dalam sebuah ungkapan.Canda tawa,guyonan,olok2an,smua membuat acara reunian itu menjadi ajang kangen .Sepanjang pendakian kami saling bercerita tentang masa kecil kami yang sangat menyenangkan,,,.Kesempatan itu juga kami manfaatkan untuk berkisah tentang perjalanan hidup masing masing yang menghantar menjadi manusia urban.Iwan sahabat kecilku,yang tetap kecil ini bercerita tentang kelahiran pertamanya."Sebelum puasa kemaren Anakku lahir ,,wah cuakepe seperti bapaknya, he he he he".Dengan bangganya Iwan mengenalkan anaknya itu."Iya asal ngga hitam dan pendek kaya bapaknya".Celetuk Imran,yang di sambut gelak tawa kami semua."Hamdulillah,puasa kemaren aku mengkhitbah wanita idamanku.Insyaalloh nati habis lebaran akad nikah dan walimahannya.Ilyaspun tak mau kalah untuk berbagi kebahagianya.Kami semua mengucapkan selamat Barakallahu laka wa baroka alaika wa jama'a baina kuma fi khoir.Yang di amini begitu dalam oleh Ilyas.Imran pun yang sudah dulu berumah tangga bercerita tentang prestasi anak sulungnya yang menjadi juara satu lomba bulu tangkis tingkat Provinsi.Selang beberapa detik,semua mata tertuju padaku,tatapan mereka begitu dalam ,seolah mengharap sebuah jawaban.Aku juga tahu maksud dari tatapan mereka itu.Tatapan mereka,seolah bertanya." Kamu kapan menyusul?????".Ah ... tak akan aku jawab,dan memang tak perlu aku jawab."Wah ,,, tuh lihat air terjun itu,,indah banget, mandi dulu yuk,biar tak terlalu gerah",Ajakku untuk mengalihkan tanya tersirat mereka,yang memang sangat sulit aku jawab,untuk urusan yang satu ini aku memang kurang beruntung di bandingkan dengan sohib-sohibku ini.Aku sering gagal untuk melanjutkan sebuah proses ta'aruf menjdi sebuah khitbah,,berkali-kali aku coba,tapi aku selalu gagal,untuk melanjutkannya.Entah kenapa seperti itu,mungkin aku yang terlalu tinggi membuat kriteria,atau memang aku orang yang sulit untuk mencintai.
Masih segar dalam ingatanku, waktu itu aku bersama teman-teman sepermainan waktu kecil, reunian Hiking ke Gunung Gajah Mungkur,rasa bahagia itu begitu menbuncah,tak bisa tertuangkan dalam sebuah ungkapan.Canda tawa,guyonan,olok2an,smua membuat acara reunian itu menjadi ajang kangen .Sepanjang pendakian kami saling bercerita tentang masa kecil kami yang sangat menyenangkan,,,.Kesempatan itu juga kami manfaatkan untuk berkisah tentang perjalanan hidup masing masing yang menghantar menjadi manusia urban.Iwan sahabat kecilku,yang tetap kecil ini bercerita tentang kelahiran pertamanya."Sebelum puasa kemaren Anakku lahir ,,wah cuakepe seperti bapaknya, he he he he".Dengan bangganya Iwan mengenalkan anaknya itu."Iya asal ngga hitam dan pendek kaya bapaknya".Celetuk Imran,yang di sambut gelak tawa kami semua."Hamdulillah,puasa kemaren aku mengkhitbah wanita idamanku.Insyaalloh nati habis lebaran akad nikah dan walimahannya.Ilyaspun tak mau kalah untuk berbagi kebahagianya.Kami semua mengucapkan selamat Barakallahu laka wa baroka alaika wa jama'a baina kuma fi khoir.Yang di amini begitu dalam oleh Ilyas.Imran pun yang sudah dulu berumah tangga bercerita tentang prestasi anak sulungnya yang menjadi juara satu lomba bulu tangkis tingkat Provinsi.Selang beberapa detik,semua mata tertuju padaku,tatapan mereka begitu dalam ,seolah mengharap sebuah jawaban.Aku juga tahu maksud dari tatapan mereka itu.Tatapan mereka,seolah bertanya." Kamu kapan menyusul?????".Ah ... tak akan aku jawab,dan memang tak perlu aku jawab."Wah ,,, tuh lihat air terjun itu,,indah banget, mandi dulu yuk,biar tak terlalu gerah",Ajakku untuk mengalihkan tanya tersirat mereka,yang memang sangat sulit aku jawab,untuk urusan yang satu ini aku memang kurang beruntung di bandingkan dengan sohib-sohibku ini.Aku sering gagal untuk melanjutkan sebuah proses ta'aruf menjdi sebuah khitbah,,berkali-kali aku coba,tapi aku selalu gagal,untuk melanjutkannya.Entah kenapa seperti itu,mungkin aku yang terlalu tinggi membuat kriteria,atau memang aku orang yang sulit untuk mencintai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar