TERJAGA DI SUATU MALAM
Langsung ku rebahkan tubuh letihku ini ketika sudah sampai di kamar kontrakanku,tak sempat ku berganti baju,atau sekedar mencuci muka,kasur empuk sudah menggodaku untuk segera menidurinya ketika diri ini membuka pintu.Aku tergoda dan terbuai. “ZZzzzz!!!!. Terlelap.Mimpi telah merenggut tubuh lelahku, membawaku ke negeri antah barantah.
Limbung juga diri ini,serasa tubuh ini tak ada tulang belulangnya.Lemas!!.Aku terlalu memaksakan diri ini untuk mengambil lembur 12 jam.Aji mumpung yang menjadi alasan utama.Yah mumpung ada lemburan,lumayan hasil yang di dapat,Tapi resikonya, berat badan turun drastis,Badan serasa di bebani container.
Dalam lelapku,ada sesuatu yang ingin memaksaku untuk terjaga.Rupannya senandung lapar yang memaksa raga ini terjaga di tengah malam. Ketika mata ini terbuka,serasa ada beban berton-ton menindih tubuhku.Tubuh ini terasa lunglai.Lemesss!!! .Tersadar bahwa sepulang kerja perut ini tak terisi karbohidrat barang sesuap.Tak ingin tubuh ini semakin lunglai tak bertenaga aku harus segera terbangun ,perut ini harus segera di suplay karbohidrat,supaya aku bisa kembali merehatkan tubuh lelah ini,untuk kembali merenda mimpi mimpi di tilami kasur busa empuk,yang sedari tadi meggodaku untuk segera membaringinya.
Ku paksakan tubuh ini berdiri, walau aku tertatih.Kuraih jaket yang tergantung di balik pintu kamar kontrakanku.Aku bergegas membuka pintu,ku lihat jam menunjukkan pukul 00.30 wib..Aku berharap di luar sana masih tersedia lapak-lapak penjaja makanan.Ku langkahkan kakiku .Ku paksakan aku berjalan cepat,meski lunglai sentiasa memelukku.Dalam benakku aku igin segera menemukan sesuap makanan, untuk memgembalikan energi dalam tubuh ini.Sudah berapa banyak air liur tertelan karena membayang untuk segera menyantap makanan.Aroma kuliner khas malam hari tercium tajam oleh hidung ini.”Ehmmm uuueeenake” Liur ini semakin deras mengalir.Sampai juga aku di syurganya mala mini.Di sana ku lihat masih banyak berjajar lapak –lapak yang menjual aneka kuliner,dari martabak,ayam goreng, nasi goreng.Ku edarkan pandangan,dari ujung sampai ujung lagi,Nasi goreng yang menjadi pilihan bersantap malam ini.
“Mas,nasi goreng satu porsi”
“ Di sini atau di bungkus?”
“Siap bozz” jawabnya akrab.
Langsung ku lahab habis seporsi nasi goring yang terhidang di depanku.Ku nikmati sensasi kenikmatan racikan bumbu yang tercampur menjadi satu dalam nasi goreng hingga tersisa piring sama sendoknya saja.” Wuihhhh nikmatttt” .Tubuh ini terasa segar kembali,tubuh yang sedari tadi lunglai,mulai bertenaga.Sepertinya asupan karbohidart telah menjadi energi yang mengalir lewat darah,dan tersalur ke tiap-tiap anggota tubuhku.Saatnya kembali keperaduan,perut ini sudah tak lagi berdendang ria menyanyikan senandung lapar. Ku ajak kakiku untuk melangkah kembali pulang ke kamar kontrakan. Aku enggan bergegas masuk ke kamar,ketika aku sudah sampai di tempat kontrakanku.Mata ku tersihir oleh lukisan indah di atas sana.Semilir angin semakin membuat diri ini terhipnotis akan indahnya ciptaan Sang Khalik.Rembulan yang sempurna memancarkan sinarnya di tingkahi kerlap-kerlip centil gumintang seolah mengajakku untuk berbincang.”Hai manusia ,aku juga makluk seperti dirimu,aku selalu tunduk dan patuh akan titah Tuhanku.Aku selalu berdzikir mengagungkan nama Tuhanku,selalu kupancarkan sinar indah sepanjang malam,apakah kamu tidak berpikir?”Aku merasa tersindir Sang rembulan dan gumintang saja sentiasa berdzikir dan tunduk akan titah Tuhannya.Sedangkan aku, manusia yang di beri banyak kelebihan,kadang suka lalai,dengan alasan sibuk.
Sempurna cahaya terang bulan yang sentiasa di tingkahi senyu-enyum centil yang gumintang,mengajakku untuk bertafakur,merenung.Semilir angin, yang membelai kulitku dengan lembut seolah ,menuntunku untuk sejenak terpekur.Ku sandarkan tubuhku pada pagar besi persis di di depan pintu kanmar kontrakaknku.Ku biarkan pagar besi itu menopang berat badanku.Nurani yang tersimpan di ceruk hatiku pun mengajakku untuk kembali menyelami relung-relung hidup yang telah ku lalui.Aku tertunduk,malu rasanya bila ku terus memandangi lukisan indah di atas sana.Ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku.Tanpa ku sadari Dia meninggalkanku,dan semakin menjauh dari kehidupanku.Aku baru tersadar saat ini.Betapa kesibukan,telah berhasil melalikan diriku,dan membengkokan arah tujuan hidupku.Aku terlena.Aku terbuai.Oleh indahnya, oleh cantiknya kefanaan. “Yahhhhh,aku memang telah terbuai.Bahkan aku terlupakan dari tujuan hidupku”.Kelopak mata in pun tak mampu membendung luapan haru.Menetes, dan terus menetes.Aku biarkan terus mengalir.
Aku tak kuasa.Ada sesuatu yang memburu,Aku mencoba menenangkan diriManusia kadang aku merasa berdosa,ketika aku pancarkan sinar terang ini ke bumi,Di bagian bumi yang lain ,cahaya indahku ini di manfaatkan untuk berbuat kerusakan di bumi,bermaksiat kadang ingin ku ludahi orang –oran itu, yang sedang asyik masyuk” sang bulan seolah ikut berbicra.” .
“Ya,seharusnya malam ini gunakan untuk berdzikir meningat kebesaran sang kholik,berdoalah di waktu-waktu seperti ini,insya allah akan di ijabah doa-doamu.Itu janji tuhanmu,Bukankah engkau dulu sering melakukan itu? Gumintangpun tak luput memberi saran.Aku benar-benar merasa di ingatkanoleh makluk –makluk tuhan ini, sampai .tak terasa kah ini telah menjejak di depan kamar kontrakan.
Ku lihat bulan tersenyum,gumintangpun masi centilberkelap –kelip,meningkahi malam benderang ini.Betapa indsahnyaKupandang lekat lekat wajah sang rembualan dia seolah menatpku dan seolah juga mengingatkakku,bahwa aku pernah begitu akrab dengannya.Dia seolah ingin membuka rekam jejakku beberapa tahun silam.Ku biarkan diriku bercumbu dengan dinginya malam,ku sandarkan tubuhku dip agar besi yang tepat berada di depan pintu kontrakanku.Aku ingin berlama-lama memandang bulan dan gumintang.Ku buka satu persatu file masa laluku yang tersimpan dalam memori otakku.Sang bulan dan gumintangpun membantuku untukmengingat, mereka membawaku pada suatu masa,di saat-saat remaja.Aku bersama lima orang temanku aktif di sebuah mushola kecil, kami sama –sama aktif menjadi remaja masjid.Mengajari anak-anak kecil mengaji, itu menjadi rutinitas kami bersama,saling berlomglomba untukl yang paling pertama samopai di masjid.Sebagian besar waktu kami di habiskan di Mushola kecil itu..bahkan belajar pun di mushola.Mushola kecil itu ibarat rumah kedua kami.Kegiatan yang paling kami gemari.Ketika tubuh tubuh kami merapat membenruk sebuah shaft. Bertahajud.Kami mengadu,berkeluh kesah kepada Sang khalik.Ada saatnya kami tadabur alam,pergi ke sebuah bukit yang jaraknya tidak terlau jauh dari desa kami.Kami bertahajud,di terangi Sang rembulan ,dan kerlip sang gumintang .Kami selalu memandangi sang rembulan dan gumintang sebelum bertahajud,supaya rasa syukur dalam jiwa –jiwa kami semakin kuat tertancap.”Yah aku ingat sekarang ,dan aku tahu kenapa gumintang dan rembulamn menatapku seperti itu.Ku tatap lekat-lekat sang rembulan,tetapsejuk memancarklan keindahan sinar di malam hari,begitupun gumintang,mereka masih bertingkah centil kerlap-kerlip, saling bersahutan.Aku putuskan, segera masuk ke dalam kamar kontrakakan, ada gundah yang terus membayang perasaanku,Ku terpekur,ada beban yang menggelayut dal;am alam sadarku,Ada sesuatu yang tearmat lama aku tingalkan.Sejak bekerja di sebuah Pabrik hamper seluruh waktuku tersita untuk kerja.Semua itu terkikis,sedikit demi sedikit dan akhirnya pupus ,hilang entah kemana.Yah berjalan begitu saja tanpa aku sadari bahwa kau telah meninggalkannya.Aku tersadar ada ketidak seimbangan antara dunia dan akhiratku.Tapi semua terkubur akan kesibukakanku di pabrik.Hambar, memang terasa hambar hidup ini.
Rasa kantuk yang sedari tadi menggelayut,kini pergi entah kemana,Kasur busa yang empuk,yang sedari tadi memgodaku ,tak juga aku hiaraukan,Alam sadarku telah tersentuh oleh keindahan ciptaan sang khalik,nuraniku ku pun mulai mengusik dan berbisik.” Ayo lakukan, apayang kamu pikirkan,apa yang kamu tunggu lagi”.
Ku sandarkan tubuh ini pada dinding ,gundah semakin merasuk ke dalam jiwaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar