
Memulai pagi sepertinya tak afdol kalau tak bersentuhan dengan sang surya.Hemm...memang pagi ini terasa sempurna.Mentari begitu bermurah hati menebar cahaya,menghangatkan jagad.Aku berusaha menikmati itu semua.Memang hangat terasa pagi ini,ketika mentari sepengalan naik,membuat bayang tubuh ini seolah mengikutiku.Ada sunah yang harus tertunai,Dhuha.Akupun bergegas,menunaikannya.Tapi.......Mukena ku tertinggal di Sekretariat ahwat.Tak urung aku pun berjalan ke sana.Berniat mengambil mukena ku.Berjalan menyusuri selasar masjid,yang melewati ruang utama Masjid.Sayup ku dengar lantunan indah,,Begitu kusyuk,damai terdengar..Lantunan kalam itu menyejukkan jiwa jiwa yang kering, menggetarkan hati hati para pencari Tuhan.Hati bertanya "Siapa gerangan Orang yang membaca begitu indah Kalimat Agung itu?".Tubuhku bereaksi mencari jawab,ku longokkan kepalaku,mengintip dari jendela berkaca.Seorang Ikhwan Kusyuk melantunkan Kalimat Agung itu.Ternyata Mas Irfan,Teman seperjuangan dalam dakwah.Sebenarnya aku sudah lama kagum sama pribadinya yang santun dan selalu memberikan perhatian yang lebih untuk dakwah.Dia orang yang lembut,tapi tegas dalam mempertahankan prinsip.Ohhh....Tiba tiba hati ini mendesir kagum,,Sungguh terasa berbeda.Anganku berharap,,Mungkinkah????.Ah,,,sepertinya aku tak yakin ,,,ku coba menepis angan,meski aku berharapkan menjadi nyata.Aku ingat kalau niatku tadi ingin ke sekretariat ahwat mengambil mukena.Ku tunaikan niat itu,,dan ku coba kusyuk dalam dhuha.
**********Aku mendapat amanah sebagai salah satu penanggung jawab kesekretariatan. Ya, saat itu lembaga kami sedang mengadakan acara talk show bersama salah seorang nara sumber yang sedang naik daun saat itu. Aku yang mengurusi administrasi peserta akhwat yang menghadiri acara itu, sedangkan Irfan jadi penanggungjawab ikhwan.
Ponselku bergetar diiringi nasyidnya Ummi Sammi Yusuf. "Afwan, Teh kwitansi untuk pembayaran acara masih ada? bisa ana minta?" Ternyata Mas Irfan yang mengirim sms.Meski hatiku menderu dendam tapi aku berusaha bersikap biasa. "Insya Allah masih ada, nanti ana antarkan ke atas." Balasku sebisa mungkin menahan rasa yang aku simpan. "Syukran" Balasnya lagi. Acara ini dilaksanakan di Auditorium kampus, berhubung pendaftaran ikhwan dan akhwat dipisah agak jauh jadi aku harus mengantarkan sendiri kwitansi yang beliau minta. Dengan menahan semua keindahan hati ini melalui istighfar, akupun menemuinya. kami tidak bertatap muka langsung, meskipun satu organisasi kami tetap saling menjaga.
"Afwan Akh Irfan." Aku memanggilnya sambil membalikkan sedikit wajahku agar tak terlihat jelas olehnya. "Ini kwitansi yang antum minta." Dengan posisi masih mengalihkan sedikit pandanganku, berkomunikasi dengan dia adalah hal yang aku hindari, serasa memasuki ruang pengap tanpa udara, sesak nafas yang ditimbulkan bukan karena memang hampa udara, namun karena semua detakan hatiku yang tak bisa aku hentikan. Aku menjulurkan tanganku memberikan barang yg ia butuhkan.
"Oh iy, syukron ukhti." Jawabnya. Huft, alhamdulillah. Aku segera berbalik badan dan ingin segera menenangkan hatiku ditempatku semula. Namun..
"Afwan, ana lupa tadi format untuk rekapan peserta ada di antum?" Deg, suara lembutnya itu memanggilku kembali. Astagfirullahhaladzim, ujian ini benar-benar bisa menghentikan detak jantungku. dengan terpaksa aku berbalik lagi sebagian, demi menghormati dia.
"Iya masih di ana. Antum buth sekarang?"
"Iya ana butuh sekarang."
"Insya Allah nanti diantarkan lagi."
"Afwan ana merepotkan."
"Na'am tidak apa-apa." Jawabku langsung berbalik dan kembali ke tempat semula.
Aku memilih jalan aman untuk hatiku, aku minta tolong akhwat lain untuk mengantarkan format rekapan itu.
********************
Entah kamu tau atau tidak, aku pernah dekat dengan ketua departemenku sendiri. Jangan pikir aku pacaran ya, tentunya tidak. Kami hanya kurang menjaga hijab saja antara aku dan Imran. Entah karena aku yang mudah terperdaya atau bagaimana, aku begitu cair dengannya. Aku berusaha meyakinkan dia agar jangan sampai pacaran karena amanah yang ia pegang sangat penting dan tugas kita sebagai pengemban amanah dakwah adalah tidak menyentuh ranah pacaran. Ternyata aku lebih dulu kecolongan, Imran tidak menganggap usahaku selama ini untk memepertahankan agar ia tidak menyentuh ranah itu. Jelas aku kecewa, harapanku saat aku memiliki seorang ketua adalah ia bisa amanah di tugas dakwahnya. Tapi ternyata tidak, hingga saat ini bahkan detik ini aku seperti kehilangan kepercayaan padanya. Aku dengan dia seperti perang dingin. Tidak ada komunikasi itu lagi. Bukan aku merindukan kesalahan komunikasi itu, tapi aku tidak ingin seolah-olah aku adalah mantan pacar yang harus dijauhi.
Apa kau tau cerita itu?
Tapi tahukah kamu? Ternyata aku jauh lebih dekat denganmu. Kedekatan kita kedekatan yang terjaga, kedekatan yang saling mendukung dan men-support. Tidak ada komunikasi yang berlebihan diantara kita. Yang kita komunikasikan benar-benar masalah kader dan dakwah yang kita jalani.
Ingat tidak, ketika aku bertanya tentang adik binaanmu yang pacaran dengan teman adik binaanku? Aku menghubungimu untuk membahas masalah itu, kamu pun memberi respon positif padaku. Kita membahas hal yang memang harus dibahas.
Lalu, saat aku nge-chat via FB menanyakan tentang sahabat ikhwan kita kang Hasan yang jarang terlihat saat rapat dan agenda-agenda lain. Kamu memang tidak membalas chat-ku, tapi kamu langsung send SMS kn? Dan kitapun memulai membahas hal itu, ditambah dengan aku memberitahu tentang ketua departemenku yang akhirnya memiliki pacar. Kamu menenangkan aku, ya itu yang bisa aku tangkap saat kita membahas masalah itu. Kamu tidak memperbesar masalah yang angkatan kita hadapi.
Sampai, saat aku mengabarkan aku kehilangan ayahku. Kamu adalah satu dari dua ikhwan yang aku beri kabar langsung. Kamu tahu SMS penguat darimu merupakan SMS yang aku simpan. Cara mu menyebut nama ku dengan kata "ukh", membuatku bahagia. Tidak dipungkiri, aku memang bahagia.Tangisan langit mereda,berganti dengan dinginya udara yang menusuk tulang saat tulisan itu selesai aku buat.Sesungging senyum ku ukir setelah ku baca tulisan ini,andai engkau tahu semua itu..ah....aku kembali berangan.dan memang angan itu menghantarkanku pada peraduan dan terlelap.
pagi ini aku merasa semua begitu indah.Hatiku berdesir.Entah apa yang akan terjadi.Pagi ini aku sangat bersemangat untuk pergi ke Kampus.Meski aku kuliah siang,tapi aku sengaja berangkat pagi.Karena ada tugas di sekretariat ahwat yang harus aku selesaikan.Sesampai di sana ternyata sudah hadir Murrobiku yang akrab aku sapa Bu Murr."Assalamualikum,,Bu "Ku sapa beliu.Agak heran juga aku, kenapa sepagi ini Bu Murr sudah ada di sini." Waalaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh,,Aku tahu pagi ini pasti kamu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar