.Aku berusaha acuh,tak mau memikirkan masalah itu,tapi masalah itu malah semakin jelas menampakkan kegelisahannya dalam hatiku.Kenapa? yah kenapa? aku tak bisa bersikap acuh seperti biasanya,kenapa,semakin ingin ku lupakan,masalah itu malah ngiwi-iwi di depan mukaku,mengejek diriku.Duh... malangnya aku.Betapa sulitnya aku tinggalkan beban itu.Kalau seandainya atun tak meninggalkanku,tentunya ini takkan terjadi padaku.Aku tak akan mendapat predikat "BUJANG LAPUK".Sebuah predikat yang seolah meluluhlantakkan kejantananku sebagai seorang pria.Orang seumuranku sudah beranak,tak cuma satu bahkan ada yang punya anak sampai tiga ,sementara aku,masih tersiksa,tak bisa menyalurkan libido ,di tambah predikat yang mebuat jiwa ini,terluka ,sakitttt."Huhh orang hanya bisa menjudge tanpa mau melihat apa yang sedang terjadi dalam diriku.Dulu aku hampir saja menikah,sebagai lelaki tentunya aku sangat bertanggung jawab akan istir dan anakku kelak.Aku sudah berusaha dagang batagor untuk membiayai pernikahan kami,dan tentunya untuk menghidupi anak dan istriku,tapiiiiii.apa yang di lakukan atun,dia malah pergi dengan orang lain,dengan alasan,hidup dengan ku bakal MADESU(masa depan suram) karena aku hanya tukang batagor keliling,yang berpenghasilan pas-pasan." yah Tun,teganya kamu meninggalkan diriku,parahnya kamu pergi dengan sanhabtku sendiri" hatiku remuk redam,luluh lantak,tak berujud.Kalau tak ada setitik iman di dada,pastinya sudah melayang nyawea ini terbang bersama kekecewaan yang mendalam.Sekarang,terasa sulit bagi diriku untuk membuka hati pada perempuan,tapi bukan berarti aku jadi tertarik pada sesama lelaki," naudzubillah".Aku hanya belum bisa menghilangkan perih dalam hati ini.entah samapai kapan?.bagiku semua itu dilema.Di satu sisi aku ogah di sebut bujang lapuk,tapi aku juga belum bisa ,aku belum bisa membuka hati ini." Ahhh,Dilema,kini engkau malah membersamaiku juga"
ketika diri berazam untuk berkarya,sebagai wujud aktualisasi diri,kerana diri ini punya potensi yang harus di asah dan di uji
Kamis, 13 Mei 2010
DILEMA
.Aku berusaha acuh,tak mau memikirkan masalah itu,tapi masalah itu malah semakin jelas menampakkan kegelisahannya dalam hatiku.Kenapa? yah kenapa? aku tak bisa bersikap acuh seperti biasanya,kenapa,semakin ingin ku lupakan,masalah itu malah ngiwi-iwi di depan mukaku,mengejek diriku.Duh... malangnya aku.Betapa sulitnya aku tinggalkan beban itu.Kalau seandainya atun tak meninggalkanku,tentunya ini takkan terjadi padaku.Aku tak akan mendapat predikat "BUJANG LAPUK".Sebuah predikat yang seolah meluluhlantakkan kejantananku sebagai seorang pria.Orang seumuranku sudah beranak,tak cuma satu bahkan ada yang punya anak sampai tiga ,sementara aku,masih tersiksa,tak bisa menyalurkan libido ,di tambah predikat yang mebuat jiwa ini,terluka ,sakitttt."Huhh orang hanya bisa menjudge tanpa mau melihat apa yang sedang terjadi dalam diriku.Dulu aku hampir saja menikah,sebagai lelaki tentunya aku sangat bertanggung jawab akan istir dan anakku kelak.Aku sudah berusaha dagang batagor untuk membiayai pernikahan kami,dan tentunya untuk menghidupi anak dan istriku,tapiiiiii.apa yang di lakukan atun,dia malah pergi dengan orang lain,dengan alasan,hidup dengan ku bakal MADESU(masa depan suram) karena aku hanya tukang batagor keliling,yang berpenghasilan pas-pasan." yah Tun,teganya kamu meninggalkan diriku,parahnya kamu pergi dengan sanhabtku sendiri" hatiku remuk redam,luluh lantak,tak berujud.Kalau tak ada setitik iman di dada,pastinya sudah melayang nyawea ini terbang bersama kekecewaan yang mendalam.Sekarang,terasa sulit bagi diriku untuk membuka hati pada perempuan,tapi bukan berarti aku jadi tertarik pada sesama lelaki," naudzubillah".Aku hanya belum bisa menghilangkan perih dalam hati ini.entah samapai kapan?.bagiku semua itu dilema.Di satu sisi aku ogah di sebut bujang lapuk,tapi aku juga belum bisa ,aku belum bisa membuka hati ini." Ahhh,Dilema,kini engkau malah membersamaiku juga"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
APIK MAS HANIF MENGALIRRRRR,LANJUTKAN
BalasHapus