Minggu, 19 Juni 2011

senyum dan pengemis

Sebenarnya sudah lama ingin aku kisahkan pada teman semua  yang barangkali mau sejenak membaca tulisan ini.Tak ada maksud apapun kecuali hanya ingin berbagi dan berkisah.Dan inilah yang aku kisahkan pada teman semua.
   Berawal dari keputusanku untuk jakil (jalan kaki,minjem istilah dari teman yang di lampung) karena sepeda motor aku istirahatkan di Kampung halaman.Dan ternyata jakil itu menyenangkan.Banyak hal yang tak terduga yang aku jumpai dalam acara jalan kaki ini.Melewati area persawahan ,gang gang sempit dan tentunya berpapasan dengan berbagai macam manusia lengkap dengan karakternya.Seperti yang aku jumpai di gang sempit ,tepatnya jalan setapak ,atau jalan alternatif menuju kompleks Industri Dimana aku bekerja di salah satu Pabrik yang berdiri di kawasan Industri itu.Seorang kakek Tua dengan pakain lusuh ,dan wajah yang melow,pokoknya melas banget dan memang itu modal utama seorang yang berprofesi menjadi seorang pengemis.Maaf kalau aku menggunakan kata profesi untuk pengemis ini.Karena pengemis itu sebuah pekerjaan yang mudah tapi menghasilkan banyak uang.Cukup dengan modal pakaian lusuh dan wajah melow, anda semua sudah bisa menjalani profesi ini.Berminat????.Sekiranya masih mampu berusaha jauhi itu kalau tak ingin wajah mu hilang di Akherat kelak.Maaf sekali lagi kalau aku seolah tidak suka atau subyektif berbicara tentang profesi ini.Jangan tersinggung ya untuk yang memilih profesi ini.......

 Awalnya aku sedikit kasihan dan terbawa mellow dengan keadaannya.Makanya meskipun receh,jatuh juga uang ini ke dalam mangkuk kecil yang sengaja di pajang di depan Pengemis itu.Sehari ,dua hari aku masih melihat Bapak bapak itu di situ ."Hemm,,,sepertinya memang bapak itu mangkal di tempat ini "Pikirku.Setelah itu tak pernah aku jatuhkan barang sepeserpun berganti dengan senyum.Entah dapat ide dari mana.Tapi bukankah senyum itu ibadah.Mungkin itu cara yang lebih halus untuk menunjukkan rasa ketidak sujkaanku pada profesi ini.Dan jadilah senyum itu sebagai irama yang mengiringi setiap ketrokan mangkuk yang di bunyikan pengemis itu.Bapak pengemis itu selalu mengacungkan mangkuk kecil berisis beberapa uang receh dan di ayun ayunkan sehingga meninbulkan bunyi "cring,,,cring,,cring".Dan akupun hanya tersenyum dengan sodoran itu.Uang receh itu hanya pancingan saja,untuk menambah nuansa mellow.Sering aku lihat pengemis itu menghitung uang kertas yang lumayan banyak,dan yang membuatku tak habis pikir Pengemis itu dengan santainya menikmati sebatang rokok.Dan terlihat sangat menikmatinya.
sampai hari ini aku tetap berjalan kaki,dan pengemis itu masih aja dan tetap mengacungkan sebuah mangkuk kecil berisi recehan uang dan mengayun ngayunkannya.dan aku pun tetap tersenyum  untuk melengkapi melodi pagi itu.jadilah senyum dan pengemis menjadi satu irama dalam acara jakilku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar