Minggu, 29 Mei 2011

SANG PENODONG

Ku lihat kalender .Angka 2 yang tertera dalam kalender itu.Jauh jauh hari telah aku lingkari dengan spidol hitam.Itu aku sengaja untuk mengingatkan diriku bahwa tanggal itu sangat menyenangkan hatiku.GAJIAN.
Sebagai karyawan di sebuah toko ,itu merupakan hari yang paling menyenangkan.Setelah sebisa mungkin menghemat uang mengunci mulut menahan jajan karena  tanggal tua kini aku mendapat dana segar dari kerja kerasku selama satu bulan ini.Corat coret di buku sudah siap,sebagai petunjuk barang apa yang aku butuhkan selama satu bulan ke depan.Kalau tidak aku lakukan bisa habis gajian ku bulan ini karena keasyikan belanja.Aku kapok,dan tak mau kejadian itu terulang.Aku memang suka keasyikan kalau sudah melihat barang barang terpapar di depanku.Aku pernah benar benar kehabisan uang,hingga harus berhutang kesana kemari.Huft!!!!! pengalaman yang menyedihkan.Dan aku tak mau jatuh dalam lubang dua kali.Makanya sekarang aku buat daftar belanja.
Dalam suka cita itu sebenarnya tersirat kegundahan dan ketakutan.Bukan karena Ibu kost yang sudah berada di depan kamar kontrakan atau karena ada dep kolektor yang menagih setoran ,ketakutan itu hanya bentuk kekhawtiran atau sebuah insting yang akan merusak keceriaan ku setiap aku menerima gaji.Aku sebenarnya tidak terlalu keberatan ketika dia datang .Toh kalau pun ada yang bisa aku bantu pasti aku akan membantunya,tapi aku cuma tidak suka karena sikap murah hati itu menjadikannya benalu dalam kehidupanku yang membuat aku tak nyaman dan serba salah.Itu yang membuatku gelisah dan berujung ketakutan kalau nanti sampai di rumah kontrakan aku bertemu dengannya.Dan bisa ku tebak kedatangannya.

Senja telah berpelukan erat dengan peraduan.Di sana warna orange semburat menandakan kalau siang kan segera berakhir dan berganti oleh malam yang penuh misteri.Tak bisa di tafsirkan bahwa malam adalah gelap ,malam adalah muram,tapi entahlah apa malam ini adalah pertanda yang membuat hatiku muram seperti apa yang aku takutkan tadi siang.Dengan menjinjing dua tas kresek berisi barang barang kebutuhanku selama satu bulan.Dari peralatan mandi sampai stock mie instant telah masuk dalam daftar belanjaanku.Berat juga ternyata,tapi tangan kekar ini tak keberatan membawa barang barang itu.

Gelisah itu semakin menderu dendam dalam hatiku dan berubah jadi phobia.Aku menoleh sebuah tempat kontrakan.Terlihat ada penghuni di situ yang sedang menonton tv.Aku terus melangkah dan agak mempercepat langkahku untuk segera sampai di kamar kontrakakanku.Agak sedikit lega ketika tadi ku lihat kamar kontrakan itu ada penghuninya.Berati dia tidak sedang menunggu kehadiranku di depan kontrakan seperti yang sudah sudah.Aku senang bercampur bingung.Tidak biasanya.Entah   apa dia tersadar akan ulahnya yang tak membuatku nyaman,atau tadi dia sudah menunggu tapi aku tak kunjung datang ,jadi dia pulang.Ah entah lah aku tak mau memikirkan itu.Aku ingin segera sampai kamar kontrakan menaruh barang barang itu dan isturahat.Hampir seharian aku berkeliling muter muter mencari barang yang aku butuhkan.Dan sekarang waktunya istirahat.
Orang yang aku maksud adalah kakaku sendiri .Dia ngontrak di dekat tempatku ngontrak,jadi memang tak terlalu jauh.Kamar kontrakan yang aku perhatikan tadi adalah kamar kontrakan kakakku yang di huni bertiga dengan suami dan anaknya.Suaminya hanya pedagang bakso keliling dan dia sendiri jualan jamu ,dan kerja serabutan untuk membantu mencukupi kebutuhannya.Aku salut dengan perjuangannya.Dia kuat dan tak mudah menyerah.Berbuat apapun untuk mencukupi kebutuhannya.Satu hal yang membuatku agak menjauh.Dia tak bisa di percaya dan terlalu meremehkan segala sesuatu.Menganggap enteng semua urusan yang kadang juga membuatku jengah.Hampir setiap bulan dia itu datang kepadaku dan meminjam uang dengan berbagai alasan.Untuk bayar sekolah anaknya lah ,untuk tambahan modal dagang suaminya lah.Dan yang membuatku sangat tak nyaman ketika dia dengan enteng bilang."Gampang ,,,minggu depan kau bayar" dan biar terkesan meyakinkkan dia membual berbicara bahwa minggu depan dia dapat uang lumayan banyak dan akan di bayarkan kepadaku.walau aku tahu itu semua hanya bualan karena aku tahu tak mungkin dia mendapatkan uang untuk membayar utang,untuk memenuhi kebutuhan saja kadang tak cukup.Yang membuat aku semakin muak ketika dia mendoktrinku bahwa saudara harus saling membantu ,saling menolong."Saling?" tanya ku dalam hati.Selama ini dia yang selalu meminta bantuan kepadaku.Di mana kata saling itu bisa dia gunakan?.Aku benar benar tak habis pikir dengan perkataan itu.Ada saatnya aku begitu iba dengan keadaanya kakaku memang tak seberuntung diriku,walau kondisiku sendiri tak jauh beda dengan kakaku.Meski aku punya gaji lumayan tapi setengah dari gaji ku aku sisihkan untuk angsuran sepeda motor yang masih lama selesainya.Suatu saat aku sangat memendam amarah pada kakaku itu.Di saat aku sedang kesulitan dana dan sebentar lagi jatuh tempo setoran akan habis dia malah pinjam uang itu ,padahal sudah aku kasih alasan bahwa uang itu akan aku gunakan untuk angsuran sepeda motor tapi dia memaksa dan berjanji nanti pas jatuh tempo uang itu akan di kembalikan.Aku sudah cemas kalau dia sudah berkata seperti itu.Seperti yang aku katakan kakakku itu tak bisa aku percaya,Janji nya tak pernah di tepati dan ketika uang itu akan di tagih dia mengiba dan merengek ,menceritakan kepedihan hidupnya.Dan itu memang mujarab.Aku luluh.Akhirnya aku harus jatuh bangun mencari pinjaman ke teman temanku.Rasa marah yang terus bertumpuk dan bertumpuk itu terus saja terus mengendap dalam hatiku tak mungkin aku keluarkan.Bagaimanapun dia tetap saudara kandungku sendiri.Tak mungkin aku berbuat tega ,yang bisa aku lakukan hanya memendam kekesalan dan amarah ini dan berupaya untuk membuat semua itu terhenti.Tanpa ada konflik yang membuat ikatan darah ini terputus.Aku berusaha berbesar hati."tok tok tok".Ada suara pintu di ketuk mebuyarkan pikiranku.dadaku berdegup kencang dan semakin kencanh terbayang di balik pintu itu adalah monster yang siap mencabik cabik diriku.Dengan gigi taringnya yang tajam dan kukunya yang siap menghabisi nyawaku.Pintu ku buka.."Pinjam uang untuk tambah modal dagang mas mu" dahiku mengeryit dan kedua alisku bersatu.Dan ketakutanku benar terjadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar