Temaram masih membungkus pagi ini,meski semburat orange menggantung di ufuk sana.Pagi ini memang masih buta,menyisakan para pemalas yang tak mungkin terjaga,kecuali bila alarm di hapenya sudah berteriak teriak entah yang ke berapa kali...
Tapi aku tak mau terbawa suasana hipnotis itu.Aku harus segera terjaga.Menunaikan kewajiban dan beraktifitas sesegera mungkin.Bagi buruh sepertiku waktu adalah pecut,yang siap melesatkan hukuman bila tak bersegera menyambutnya.Tetangga ku yang hampir semua masih melajang,tak sesibuk diriku,mereka masih merasa eman,untuk menghabiskan pagi ini,dengan aktifitas."Ah ngapain capek capek bikin sarapan,mending beli nasi kuning saja Di warungnya Mak titin,Tinggal pesan,bayar dan perut kenyang deh".Kilah mereka ketika aku ajak untuk menyiapkan sarapan sendiri.Sebenarnya Gaji ku sebagai buruh pabrik mencukupi untuk hidup dengan cara seperti itu,bahkan lebih.Aku melakukan itu bukan semata untuk menghemat anggaran,tapi lebih dari itu.Aku ingin lebih bisa menghargai jerih payahku,mandiri,dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.Dan sudah barang tentu kita bisa menjamin kebersihan dari asupan makanan yang kita makan.Selain juga kita bisa makan apa yang kita inginkan."Bosen kale kalau setiap hari sarapan nasi kuning".Sungutku pada teman teman kos ku yang pemalas itu.Setelah mencuci beras dan menanaknya dalam rice cooker.Aku berniat untuk belanja sayuran ke warung langgananku.Tempat itu lumayan dekat dari tempat kos ku.Tak butuh waktu lama bagiku untuk sampai ke tempat itu.Hanya tinggal ke depan,melewati jalan umum dan sedikit masuk gang.Dari gang itu sudah terlihat warung sederhana yang menjual aneka sayur mayur dan anak buahnya.Komplit,,,walau tak sekumplit di pasar.Mang Iman pemilik warung itu.Kami sudah sangat akrab karena sejak pertama kali aku bekerja di Bandung ini aku sudah berbelanja di tempat itu.Aku tak perlu sungkan berbelanja di tempat itu.Karena memang penjualnya lelaki dan konsumennya juga para lelaki yang suka masak seperti diriku.Kami sepakat memberi gelar warung itu dengan julukan "Warung Lelaki".Pun pagi ini sudah berjejal puluhan lelaki yang sudah meyemut di Warung itu.Ada yang sekefar sarapan gorengan ,beli rokok,bahkan ada yang ikut nimbrung sembari menikamati segelas kopi.Aku heran juga melihat suasana di Warung Mang Iman pagi ini.Geli juga ku lihat seorang Bapak yang menggendong anak kecil,belanja sayuran ."Kemana Istrinya pak?".Tanyaku dalam hati.Tak berani aku tanyakan langdung,takut tersinggung,tohk itu hanya pertanyaan iseng dan tak perlu dijawab.Terpikir juga ,sepertinya memang aktifitas memasak dan berbelanja telah bergeser.Seingat ku dulu waktu kecil warung sayur identik dengan Ibu Ibu,dan para gadis,Sekarang semua itu telah tergerus jaman."Ah,,,,untung saja hamil dan melahirkan tak berpindah tempat kepada kaum Adam ini."Keluhku semabri aku tingkahi senyum geli." he he he"."Mau belanja apa Mas?"Tanya Mang Iman,setelah batang hidungku tampak dalam warung itu."Ehmmmm....Apa ya mang?? Pindang tongkol aja deh,satu sama cabenya merah ya,,,"Pinta ku.Transaksi yang tak ribet dan cepat ,tanpa ada embel embel gosip yang biasa di lakukan kaum Hawa ketika berbelanja.
Warung lelaki memang membuang sekat tabu kaum lelaki untuk memasak.Tak ada sangkaan bahwa lelaki yang suka masak itu banci,bencong ,ah,,entah kata apa lagi yang di sematkan padaku dulu waktu aku pertama kali memasak.Yang ada adalah kebanggan bisa mandiri,dan kelak tak memenjarakan istri untuk terus beraktifitas di Dapur,sementara kita sebagai lelaki astik ongkang ongkang di teras sambil menikmati segelas teh.Ah sungguh tak adil menurutku.Dengan lelaki bisa masak,Aktifitas di dapur bisa di lakikan bersama sama,atau bergantian,di sesuaikan dengan kesibukan masing masing.Ehm sebuah patnership yang sederhana tapi berjejak begitu dalam di hati pasangan,karena tidak ada yang merasa di tindas atau yang menindas.Yang ada adalah sebuah kebersamaan yang menyatukan..Ehmmmmm mulai berkhayal nihhh he he hehehe
Masih banyak waktu ketika aku pulang dari Warung Lelaki.Hari ini aku mau membuat menu Pindang balado Ala Mas Supri.Pagi itu suara cobek sudah membentuk nada untuk menghaluskan bumbu balado,ulek terus,sambil kepala ini bergoyang karena kuping ini di jejali earphone yang aku sambungkan ke hape untulk mendengarkan lagu kesukaan.Apalagi kalau bukan Campur Sari Stasiun Balapannya Didi Kempot.Lagu itu yang selalu membangkitkan niatku untuk Pulang Kampung Saban Lebaran tiba,.Mulut ku komat kamit ikut menyanyikan lagu Stasiun balapan itu."Neng stasiun Balapan Kutho Solo sing dadi kenangan Kowe karo aku......".
Tepat jam tujuh Pindang Balado selesai aku buat."Ehmmmmm,,,harum,,,,,"Sudah tak sabar aku ingin mencicipinya.Tapi aku harus mandi dulu,sebelum kamar mandi antri.Ketika hendak menuju kamar mandi.Aku berpapasan sama Tohir yang baru saja bangun."Eh pangeran kelinci baru bangun,,,,,gak takut rezekinya di patok ayam?"Candaku padanya."Biarin,baru jam tujuh ini,toh kerja masih jam delapan entar,,buat apa sibuk bangun pagi"dia pun tak mau kalah menyindir diriku.Ah biarlah berlalu.Nafsi nafsi aja.he he he.Aku senang memasak,apalagi ketika aku baca sebuah artikel di surat kabar,bahwa kaum Urban yang ada di kota sana,juga lagi suka memasak,dari kaum esmud sampai buruh pabrik sepertiku.Dan seorang lelaki yang suka masak malah di bilang keren oleh sebagian kaum hawa ..Prikitiw.Pertanda kan segera datang jodohku.Nah lho apa hubungannya ya???Dan yang lebih membuatku senang ketika banyak dari teman kerja yang perempuan tak bisa memasak.Hemm,,,aku pun bersungut bangga.Setelah mandi dan sarapan,aku pun membungkus bekal makana untuk makan siang nanti di Pabrik.Dan sekarang saatnya bekerja.Tetap semangat!!!!!
Tapi aku tak mau terbawa suasana hipnotis itu.Aku harus segera terjaga.Menunaikan kewajiban dan beraktifitas sesegera mungkin.Bagi buruh sepertiku waktu adalah pecut,yang siap melesatkan hukuman bila tak bersegera menyambutnya.Tetangga ku yang hampir semua masih melajang,tak sesibuk diriku,mereka masih merasa eman,untuk menghabiskan pagi ini,dengan aktifitas."Ah ngapain capek capek bikin sarapan,mending beli nasi kuning saja Di warungnya Mak titin,Tinggal pesan,bayar dan perut kenyang deh".Kilah mereka ketika aku ajak untuk menyiapkan sarapan sendiri.Sebenarnya Gaji ku sebagai buruh pabrik mencukupi untuk hidup dengan cara seperti itu,bahkan lebih.Aku melakukan itu bukan semata untuk menghemat anggaran,tapi lebih dari itu.Aku ingin lebih bisa menghargai jerih payahku,mandiri,dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.Dan sudah barang tentu kita bisa menjamin kebersihan dari asupan makanan yang kita makan.Selain juga kita bisa makan apa yang kita inginkan."Bosen kale kalau setiap hari sarapan nasi kuning".Sungutku pada teman teman kos ku yang pemalas itu.Setelah mencuci beras dan menanaknya dalam rice cooker.Aku berniat untuk belanja sayuran ke warung langgananku.Tempat itu lumayan dekat dari tempat kos ku.Tak butuh waktu lama bagiku untuk sampai ke tempat itu.Hanya tinggal ke depan,melewati jalan umum dan sedikit masuk gang.Dari gang itu sudah terlihat warung sederhana yang menjual aneka sayur mayur dan anak buahnya.Komplit,,,walau tak sekumplit di pasar.Mang Iman pemilik warung itu.Kami sudah sangat akrab karena sejak pertama kali aku bekerja di Bandung ini aku sudah berbelanja di tempat itu.Aku tak perlu sungkan berbelanja di tempat itu.Karena memang penjualnya lelaki dan konsumennya juga para lelaki yang suka masak seperti diriku.Kami sepakat memberi gelar warung itu dengan julukan "Warung Lelaki".Pun pagi ini sudah berjejal puluhan lelaki yang sudah meyemut di Warung itu.Ada yang sekefar sarapan gorengan ,beli rokok,bahkan ada yang ikut nimbrung sembari menikamati segelas kopi.Aku heran juga melihat suasana di Warung Mang Iman pagi ini.Geli juga ku lihat seorang Bapak yang menggendong anak kecil,belanja sayuran ."Kemana Istrinya pak?".Tanyaku dalam hati.Tak berani aku tanyakan langdung,takut tersinggung,tohk itu hanya pertanyaan iseng dan tak perlu dijawab.Terpikir juga ,sepertinya memang aktifitas memasak dan berbelanja telah bergeser.Seingat ku dulu waktu kecil warung sayur identik dengan Ibu Ibu,dan para gadis,Sekarang semua itu telah tergerus jaman."Ah,,,,untung saja hamil dan melahirkan tak berpindah tempat kepada kaum Adam ini."Keluhku semabri aku tingkahi senyum geli." he he he"."Mau belanja apa Mas?"Tanya Mang Iman,setelah batang hidungku tampak dalam warung itu."Ehmmmm....Apa ya mang?? Pindang tongkol aja deh,satu sama cabenya merah ya,,,"Pinta ku.Transaksi yang tak ribet dan cepat ,tanpa ada embel embel gosip yang biasa di lakukan kaum Hawa ketika berbelanja.
Warung lelaki memang membuang sekat tabu kaum lelaki untuk memasak.Tak ada sangkaan bahwa lelaki yang suka masak itu banci,bencong ,ah,,entah kata apa lagi yang di sematkan padaku dulu waktu aku pertama kali memasak.Yang ada adalah kebanggan bisa mandiri,dan kelak tak memenjarakan istri untuk terus beraktifitas di Dapur,sementara kita sebagai lelaki astik ongkang ongkang di teras sambil menikmati segelas teh.Ah sungguh tak adil menurutku.Dengan lelaki bisa masak,Aktifitas di dapur bisa di lakikan bersama sama,atau bergantian,di sesuaikan dengan kesibukan masing masing.Ehm sebuah patnership yang sederhana tapi berjejak begitu dalam di hati pasangan,karena tidak ada yang merasa di tindas atau yang menindas.Yang ada adalah sebuah kebersamaan yang menyatukan..Ehmmmmm mulai berkhayal nihhh he he hehehe
Masih banyak waktu ketika aku pulang dari Warung Lelaki.Hari ini aku mau membuat menu Pindang balado Ala Mas Supri.Pagi itu suara cobek sudah membentuk nada untuk menghaluskan bumbu balado,ulek terus,sambil kepala ini bergoyang karena kuping ini di jejali earphone yang aku sambungkan ke hape untulk mendengarkan lagu kesukaan.Apalagi kalau bukan Campur Sari Stasiun Balapannya Didi Kempot.Lagu itu yang selalu membangkitkan niatku untuk Pulang Kampung Saban Lebaran tiba,.Mulut ku komat kamit ikut menyanyikan lagu Stasiun balapan itu."Neng stasiun Balapan Kutho Solo sing dadi kenangan Kowe karo aku......".
Tepat jam tujuh Pindang Balado selesai aku buat."Ehmmmmm,,,harum,,,,,"Sudah tak sabar aku ingin mencicipinya.Tapi aku harus mandi dulu,sebelum kamar mandi antri.Ketika hendak menuju kamar mandi.Aku berpapasan sama Tohir yang baru saja bangun."Eh pangeran kelinci baru bangun,,,,,gak takut rezekinya di patok ayam?"Candaku padanya."Biarin,baru jam tujuh ini,toh kerja masih jam delapan entar,,buat apa sibuk bangun pagi"dia pun tak mau kalah menyindir diriku.Ah biarlah berlalu.Nafsi nafsi aja.he he he.Aku senang memasak,apalagi ketika aku baca sebuah artikel di surat kabar,bahwa kaum Urban yang ada di kota sana,juga lagi suka memasak,dari kaum esmud sampai buruh pabrik sepertiku.Dan seorang lelaki yang suka masak malah di bilang keren oleh sebagian kaum hawa ..Prikitiw.Pertanda kan segera datang jodohku.Nah lho apa hubungannya ya???Dan yang lebih membuatku senang ketika banyak dari teman kerja yang perempuan tak bisa memasak.Hemm,,,aku pun bersungut bangga.Setelah mandi dan sarapan,aku pun membungkus bekal makana untuk makan siang nanti di Pabrik.Dan sekarang saatnya bekerja.Tetap semangat!!!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar