Hati berdesir tak beraturan,keringat dingin terus saja membasahi kedua telapak tangan.Mukaku mera.Betapa malunya aku.Ini pertama kalinya aku berusaha menjalin hubungan serius menuju jenjang pernikahan tanpa melalui pacaran.Sebuah pertemuan yang akan mengubah hidupku.Sebuah pertemuan yang akan mengubah status ku dari lajang menjadi seorang suami.Aku merasa getar-getar rasa itu kembali hadir memenuhi palung hatiku,setelah beberapa tahun silam aku kecewa karena aku gagal melangsungkan pernikahan Hati ini menjerit karena luka tersayat. Dan berbuah pada sebuah keputusan untuk fokus pada pekerjaan dan mengesampingkan urusan ini.Sampai tak tersadar jasad telah termakan usia. "Nif, kapan kamu nikah?"
"Nanti,Bu,aku masih ingin fokus pada pekerjaan"
" Ingat lho umurmu sudah hampir kepala tiga".Aku tertegun mendengar [perkataan ibu barusan.
“Sekarang umurmu sudah 27 tahun. Lho!.Mau nunggu apalagi?”
"27.Hahhh!, ternyata umurku sudah hampir kepala tiga!!".
Mulutku menganga lebar,mendengar perkataan sang bunda di ujung telepon sana.
“Kenapa malah diam, di ingatkan untuk nikah kok malah diam,apa kamu nggak kepingin menggendong buah hati?adikmu saja sudah punya momongan!.”Gerutu sang bunda.
“Iya Bu, maafkan Hanif yang terlalu keasyikan kerja, hingga lupa kalau hanif masih lajang”
“Apa perlu Ibu carikan?”
“Nggak ,nggak usah Bu, untuk urusan ini biarlah Hanif yang mencarinya sendiri,biar lebih sreg”
“Ya sudah, semua Ibu serahkan pada Hanif saja, tapi ingat jangan lama-lama!!. Ibu tunggu sampai lebaran nanti .Kalau Hanif belum memdapatkannya,Ibu yang akan carikan!”
“Iya Bu, minta doanya saja”.Jawabku pasrah.
Ibuku memang sudah benar-benar memaksaku untuk menikah.Bahkan mengultimatum.Tidak biasanya Ibu bersikap seperti itu.Ahhh mungkin itu bahasa cinta Ibu pada anaknya yang belum menikah ini.Aku merasa memang sudah saatnya aku berusaha untuk menjemput jodohku, meski rasa sakit masih terasa ketika aku gagal melanjutkan hubungan ke pelaminan dua tahun yang lalu ketika umurku baru seperempat abad.
Kini aku merubah semua rencanaku hingga 180 derajat. Menikah yang dulu belum ada dalam rentetan rencana yang ku susun,kini harus aku jejalkan dan menjadi salah satu tujuan yang harus aku raih secepatnya. Tapi…. Sepertinya aku sedikit mengalami kesulitan.Karena saat ini belum ada salah satu wanita yang mampu menggetarkan hatiku.Meskipun teman-teman di tempat kerjaan cantik-cantik tapi kalau hati ini tak ada sinyal getaran-getaran rasa,tak akan aku respon.Ada beberapa teman yang pedekate denganku, tapi aku acuhklan karena memang tak ada getar-getar rasa itu.Aku memang orang yang sulit jatuh hati,tapi ketika hati ini sudah tergetar oleh rasa, aku akan mencurahkan semua perhatianku pada orang tersebut dan akan berusaha mati-matian untuk mendapatkanya.Dan tentunya itu menjadi kendala tersendiri untukku.Sekarang kesibukanku bertambah,memilah dan memilih siapa kira-kira yang mampu menggetarkan hati ini.Ku korek-korek lagi memori yang tersimpan dalam otak ini.Siapa tahu ada salah satu nama yang tersimpan menjadi memori indah dalam hidupku.Hasilnya nihil.Tak satupun aku ingat nama-nama wanita yang pernah mampir dalam hidupku.Malah memoriku membawa ku pada satu nama yang membuat hati ini kecewa berat.Dia memilih untuk pergi meninggalkanku di saat aku telah bersiap-siap untuk melamarnya.”Aghhh!” aku nggak mau kecewa itu kembali berkecamuk dalam hatiku,biar ku kubur dalam-dalam dalam palung terdalam hatiku.Aku tak mau tersiksa denga perasaan pahit itu.Tak ku temukan target yang ku temukan dalam memoriku, akupun beralih ke opsi lain.Ku buka daftar kontak yang tersimpan dalam hpku.Satu-satu ku ku kirimi sms pada mereka,meminta bantuan mereka,siapa tahu mereka punya salah seorang kenalan yang siap nikah ,dan bersedia menikah dengan ku.” Hmmmm” sepertinya aku harus bersabar.Dua hari aku tunggu, tak ada satupun balasan sms yang membuatku tersenyum sungging.Nol besar.Malah teman-teman menggodaku, yang parah balasan sms dari jono .”Nif,nih ada wanita yang siap nikah, dia seorang janda berumur 70 tahun. Mau?”.Wah keterlaluan juga nih orang, masak saya suruh nikah dengan nenek-nenek.”Huuh” .gerutuku.Senyumku sedikit tersungging saat hari ketiga aku mendapat sms dari seorang sahabat nun jauh di sana.tapi senyumku menjadi kecut,saat ku baca kalimat.” Tapi dia minta waktu setahun untuk menyelesaikan kuliahnya.”Wah ,aku yang tidak sanggup kalau harus menunggu satu tahun, umur nih sudah mau kepala tiga”.Balas sms ku pada sohib jauhku itu.
Ku putar otak.Mencari cara.Tak ada hasil .Nihil.Tak ada bayangan sedikitpun.Aku malah semakin pusing,mengejar sesuatu yang tak tahu dimana aku akan mendapatkannya.Bingung mencari solusi. Akhirnya aku putuskan untuk berhenti sesaat,merehatkan sejenak otakku.Setelah beberapa hari ini aku peras otakku.Dan sampai saat ini usahaku belum membuahkan hasil.Ku buka laptop .Iseng untuk menyegarkan otakku.Ku OL,Membuka akun jejaring sosial.Ku lihat banyak juga teman yang lagi OL.”He he he, nggak ada salahnya aku ajak chat,semua teman yang OL ,siapa tahu, ada yang berjodoh.”Gumanku.Mungkin aku sudah kehabisan akal ,sehingga aku melakukan perbuatan nekad seperti ini.Satu persatu aku ajak chat.Berbagai tanggapan, aku rasakan langsung.Ada yang diam nggak ada respon,ada yang ketus sambil marah-marah, ada yang jaim,ada juga yang ramah merespon dan ngalir saja ketika di ajak berbincang.Ada seorang wanita yang membuat hati ini tertarik,getar-getar rasa itu mulai terpendar dari dalam hatiku .Dia sangat merespon ketika aku ajak untuk chat.Dia mengaku bernama Ana septiani.Lagi nyantri di daerah Padalarang.Wah senangnya hatiku bukan kepalang.Aku memperkenalkan diri dan jujur ku katakan kalau aku hanya seorang muslim biasa yang tidak pernah bersinggungan dengan pesantren , kitab kuning.Aku hanya mendapatkan pelajaran agama waktu masih kecil di sebuah mushola kecil di kampung halaman.Tapi aku berusaha mengamalkan apa yang aku tahu itu.
Dari apa yang di tulis dalam percakapan itu ku rasakan dia jujur dan apa adanya.Kata-katanya halus tapi tidak terkesan kemayu dan genit.Dia sangat sopan.Aku mulai tertarik dengan wanita ini.Niat awal OL hanya iseng, untuk merehatkan sejenak saraf-saraf otak di kepala ini, berubah menjadi salah satu usaha ku untuk menemukan jodohku.Yah menurutku, jodoh bisa ketemu di mana saja.Seperti temanku,dia ketemu jodohnya hanya gara-gara ada sms nyasar ke hpnya.Dia sudah maki-maki tuh orang, ehhh malah sekarang jadi istrinya.Jodoh memang rahasia Tuhan yang telah di tentukan.Kita nggak tahu kapan dan di mana akan bertemu dengan jodoh kita.Seperti aku sekarang ini,mudah-mudahan orang yang aku ajak berbincang di luar sana menjadi jodohku ,meski aku belum melihat wajah aslinya.Meski aku baru saja mengenal orang ini.Setidaknya aku bisa melihat photo profilnya.Dan aku yakin photo yang dia pajang itu asli .Aku sempat tanyakan padanya.Dan memang itu fhoto aslinya.”Ana, menurut Ana, calon suami yang Ana harapkan itu seperti apa sihhh?.”tanyaku garing dan basa basi.
“ Kalau Ana sih berharap dia bertanggung jawab dan perhatian?”
“Tapi tentunya yang jago baca dan menguasai kitab kuning ?”
“Kalau memang di takdirkan itu yang Ana harapkan,Tapi siapa saja kok,Ana nggak akan pilih-pilih yang penting dia mau bertanggung jawab dan setia “
Hatiku berdentam keras seolah mendapat lampu hijau.
“ Meski pun dia orang awam, yang tak pernah sedikitpun mengenal pesantren?”
“ Ya”jawabanya semakin membuatku gede rasa dan merasa di atas angin.Aku sangat berharap dia membantuku mewujudkan niatku untuk melepaskan masa lajangnya sebelum lebaran nanti.
Sebenarnya aku minder, karena memang tak pernah selangkahpun kakiku menuju ke pesantren.Aku hanya orang islam abangan, yang tak bisa membaca kitab kuning, apalagi arab gundul.Tapi tentunya aku pun ingin mendapat istri yang terbaik dan berharap memang Ana jodoh aku yang ku cari selama ini.
Dengan modal nekad dan gede rasa aku beranikan diri untuk mengutarakan niatku.”Na, aku ingin menyampaikan sesuatu”
“ Ya silakan?”
“Sedari tadi aku sudah banyak berbincang dengan Ana.Dan jujur Na,saat ini aku berusaha menjemput jodohku.Apa ana bersedia kalau aku ajak untuk membangun sebuah mahligai ,menghalalkan sebuah hubungan dengan pernikahan?”
Beberapalama ku tunggu nggak ada respon
“Ana”. Ku coba meminta tanggapan
”Maaf,kalau aku belum bisa memutuskan.Aku masih ragu dan takut salah memutuskan kalau aku bilang ya, takut Mas Hanif bukan jodohku,tapi kalau aku bilang tidak aku juga takut ternyata Mas Hanif memang jodoh yang kunantikan saat ini.Aku juga tidak bisa menjalani hubungan tanpa ada rasa.Mas Hanif kita kan baru kenal,apa Mas Hanif tidak terlalu terburu-buru untuk mengajak Ana menikah?”
“ Tidak Ana, samasekali tidak, untuk urusan ini aku tidak mau terlalu ribet di belenggu ketakutan-ketakutan yang membuat kita sulit memutuskan.Masalah rasa itu bisa di upayakan kok.Ya memang cinta itu harus di upayakan dan terus di jaga ketika sudah ada sebuah ikatan.” Ku berusaha menjelaskan.Tapi dia masih ragu untuk memutuskan. Sikapnya itu benar-benar membuat aku tak menentu,harap-harap cemas,kecewa pun ikut andil dalam memporak-porandakan hati ku.
“Tapi Mas Hanif?”
Ku berusaha meyakinkan bahwa masalah rasa bisa di upayakan.Yang penting bagiku sekarang menghalalkan sebuah hubungan.Aku berharap Ana mau mempertimbangan alasan-alasan yang telah aku utarakan tadi.
“Baiklah Mas hanif.Aku menghargai niat baik Mas Hanif untuk mengajak Ana menikah,Tapi Mas, aku belum bisa memtuskan saat ini .Beri Ana waktu seminggu untuk berpikir dan sholat istikhoroh.Minggu depan aku beritahu lewat media ini di waktu dan jam yang sama.Itu saja yang bisa aku jawab saat ini Mas.Aku off dulu ya.Assalamualaikum.”
Tidak ada koneksi.Dia sudah offline meninggalkan sejuta beban rasa.Rasa bingung ,berharap, kecewa,senang bercampur menjadi adonan yang entah seperti apa rasanya.
“Aku akan menunggu”gumamku.Aku akan menunggu meski aku akan terhantui rasa cemas.Meski aku juga telah siap bila ternyata jawabannya tidak seperti yang aku harapkan.
*************
Hari ini tepat seminggu aku menunggu sebuah jawaban.Masih ku ingat seminggu yang lalu di temani cahaya rembulan aku chat dengan seaorang santri wati .Dia meminta waktu seminggu untuk memberikan jawaban.Malam ini tepat seminggu aku menunggu Di temani temaram sinar rembulan .Ku buka laptop dan aku kembali OL.aku menanti.Semoga Ana tidak lupa dengan janjinya. Dan malam ini pula dia akan memberikan jawaban yang pasti.
Hp ku bersenandung.Ada panggilan masuk.Ibu tercinta meneleponku.Ada apa gerangan?.
“Nif, gimana apa kamu sudah menemukan calon yang cocok untuk kamu ajak nikah” tanya Ibuku di ujung telepon sana
“ Do’akan saja Bu”
“ Apa kamu mau Ibu kenalkan dengan anaknya Mbak Parti,dia juga merantau di Bandung”
“Nanti saja Bu,biar Hanif berusaha mencari sendiri Bu.Nanti kalau Hanif belum mendapatkan calon sebelum lebaran,Ibu boleh kok memperkenalkan Hanif sama siapa saja yang menurut Ibu Baik”Ku berusaha menolak tawaran ibu sehalus mungkin,Supaya Ibu tidak tersinggung.Aku juga tidak mau berterus terang kalau saat ini sedang menanti sebuah jawaban dari seorang wanita solehah.Aku tak mau gede rasa, karena memang semuanya masih belum jelas.Masih ngambang.Malu tentunya pada Ibu kalau aku bilang aku sudah punya calon ,kalau toh ternyata dia memberikan jawaban yang tidak aku inginkan.Biarlah ku simpan rapat-rapat galau dalam hati ini sampai nanti aku mendapat jawaban yang pasti ..Ku tunggu beberapa saat.Dan kesabaranku pun berbuah hasil.
“Ass, Mas Hanif”Dia menyapaku
“Kum salam,Gimana kabar?” sedikit basa basi
“Hamdulillah , baik.Gimana dengan Mas Hanif?”
“ Hamdulillah saya juga baik”
“Mas, sesuai janji ku seminggu yang lalu.Aku akan memberikan sebuah keputusan.”
“Ya Ana , aku sudah menunggu waktu ini,dengan kecemasan yang menhujamm hatiku”
“Tapi apapun yang nanti ana katakan, Mas hanif akan menerimanya dengan lapang dada kan?”
“Ya, Ana aku sudah menyiapkan hati dan pikiranku untuk menerima apaun yang akan Ana katakan”
“Mohon maaf sebelumnya kalau Ana membuat Mas Hanif di landa kecemasan,menunggu jawaban Ana.Ana sudah sholat istikhoroh,sudah membicarakan dengan orang tua Ana,dengan Guru ana.Guru Dan orang tua Ana menyerahkan semuanya pada Ana.Dan Jawaban Isthikoroh ana juga belum jelas.Tapi karena memang tenggat yang Ana berikan Cuma Seminggu ,jadinya Ana harus memutuskan…” Kata-katanya terhenti.Aku tak tahu apa kah dia mempermainkan perasaanku atau dia masih ragu.Hatiku benar-benar berdentam keras.Keringat dingin semakin keluar deras membasahi telapak tangan.Meskipun aku sudah berusaha mempersiapkan diri untuk menerima apapun yang akan menjadi keputusan Ana.Tapi tetap saja aku kesulitan Hati ini berdesir-desir.
“Ana ,jadi gimana keputusan Ana?”.Tanya ku berusaha menghilangkan kecemasan yang sedari tadi menghantui.
“Aku… Aku menunggu kehadiran Mas hanif di Rumahku.Besok pagi.Ini ku tuliskan alamat rumahku dan nomor hp ku.Bila Mas Hanif menemui kesulitan menuju rumahku.silakan hubungi nomor ini”
“Jadiiiiii……..”
“Ya Mas, Aku tunggu kehadirannya besok.Dah ya aku OFF dulu”
Tidak ada koneksi.Dia sudah Off.Aku jadi gemes.Tapi sungguh berbahagia.Karena Dia memberikan jawaban yang menyejukkan hati.Sejuukk sekali.Bahagianya aku.Ingin ku berteriak-teriak kegirangan ,tapi ku urungkan itu.Jiwa ini masih punya rasa malu untuk melakukan itu.Nggak enak sama tetangga.Hanya senyum sungging yang mewakili kebahagiaan itu.Seraya bibir berucap “Alhamdulillah”.Sepertinya aku tak akan terlelap tidur malam ini.Tapi malam ini aku harus segera terlelap.Ingin segera ku khabarkan berita bahagia ini pada sang Ibunda tercinta.Tapiaku urungkan.”Besok saja,ini baru pertemuan pertama,nanti kalau memang sudah ada acara lamaran.aku akn cerita kabar bahagia ini kepada orang tua.Dan aku akan memboyongnya ke Bandung untuk ikut menyaksikan hari yang membahagiakan ini.
.Dengan segenap energi keberanian yang aku kumpulkan. Aku pun meluncur ke alamat rumah yang di berikan Ana padaku.Sengaja aku datang sendirian,karena aku menganggap ini hanya pertemuan biasa.Silaturahmi biasa untuk saling mendalami,bukan acara lamaran. Dengan semangat empat lima,ku geber si jagur,ke padalarang.Ku siapkan jiwa dan raga ini untuk menemuainya.Sms beberapa kali mengernyit,
”Mas Hanif sudah sampai mana?”.
“Sebentar lagi sampai kok” Ku balas SMS itu.
Hati ini semakin berdebar kencang tak beraturan.Ketika ku sampai di depan rumahnya.Ternyata sudah berkumpul banyak warga di situ.Sepertinya aku salah menafsirkan.Keringat terus membasahi mukaku.Aku tak membawa persiapan sama sekali.Karena aku tak menyangka akan di sambut seheboh ini.Salahku juga tidak mempertanyakan lebih detail pada Ana.Tapi tetap ku langkahkan kakiku menuju rumah Ana.Untung tadi di perjalanan aku beli beberapa kue untuk buah tangan.Di depan rumah ada Bapak-bapak yang menyambutku.Aku kira itu orang tuanya Ana.”Assalamualaikum,Mas Hanif ya,Silakan masuk”Bapak itu menyapa hangat.Aku hanya mengangguk untuk menutupi kegugupanku."Cessss!!!".semilir kesejukan mengalir ke dalam hati mengisi setiap relung-relung terdalam hatiku ketika aku melihat dari dekat wanita bernama Ana.Ku coba menyapanya meski hanya berguman “Assalamualaikum Ana”.Sekilas ku lihat mulutnya berkomat kamit membalas salam.”Walaikum salam” .Kami sama-sama malu,salah tingkah,dan ,ahh tak tahulah ada rasa lain yang mengalir dalam relung hatiku.Sejuk sekalii.
wah, ini pengalaman pribadi ya?
BalasHapusendingnya bikin greget tapi adegan ahirnya kayaknya kependekan, mas.
oiya, percakapnnya agak formal ya, kayanya kalo bahasanya lebih santai bakal lebih asik tuh. =D
maaf ya kalo cuma bisa ngasih saran, padahal aslinya gak bisa.
siiiip makasihhhh nurul. saran nurul sangat berharga bagiku.makasihhhhhhhh bunaget ya, sering-sering aja ngasih koment yaaaa.Iya sih dikit, tapi pengalamn aslinya nggak gitu endingnya.Sedih deh, dia menolak kok hiks hiks hiks
BalasHapus